Ini Sikap Sayyidina Ali Ketika Tidak Terpilih Menjadi Khalifah (Bagian III-Habis)

0
144

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Masa Sayyidina Usman bin Affan: Sayyidina Abu Bakar itu, tapi itu tidak berkepanjangan. Sebagian besar sahabat menerima keputusan Sayyidina Abu Bakar tersebut, termasuk Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Sikap yang sama juga ditunjukkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ketika Sayyidina Utsman bin Affan terpilih menjadi Khalifah ketiga. Pada saat itu, menjelang akhir hayatnya Sayyidina Umar bin Khattab membentuk sebuah Majelis Syura untuk menentukan siapa yang bakal menjadi penggantinya. Ada enam orang yang ditunjuk menjadi anggota Majelis Syura, yaitu Sayyidina Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqqas. Sebagaimana keterangan dalam buku Usman bin Affan (Muhammad Husain Haekal, 2002), mereka dipilih Sayyidina Umar bin Khattab karena kedudukan dan hubungannya dengan Nabi Muhammad saw. 
Terjadi perdebatan yang sengit ketika Majelis Syuramenggelar sidang untuk menentukan pengganti Sayyidina Umar bin Khattab. Setelah melalui proses yang cukup panjang dan sengit, akhirnya muncul dua nama terkuat untuk menjadi Khalifah ketiga, yaitu Sayyidina Utsman bin Affan dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. 

Di belakang Sayyidina Utsman bin Affan ada Bani Umayyah, sementara di balik Sayyidina Ali bin Thalib ada Bani Hasyim. Sebagaimana diketahui, kedua bani tersebut terlibat ‘persaingan’ sejak dahulu kala. Maka tidak heran, dalam penentuan Khalifah ketiga, mereka menjagokan pihaknya masing-masing. Bani Hasyim mengampanyekan Sayyidina Ali, sedangkan Bani Umayyah mengampanyekan Sayyidina Utsman.

Di pihak Sayyidina Ali, ada pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib, yang getol memperjuangkan agar keponakannya itu terpilih menjadi Khalifah Nabi. Sebetulnya, Abbas tidak hanya kali ini saja mendorong Sayyidina Ali untuk menduduki kepemimpinan umat Islam. Bahkan, ketika Nabi Muhammad saw. wafat dulu, dia juga mendorong Sayyidina Ali untuk cepat bertindak. Namun Sayyidina Ali menolaknya. Begitu pun pada pengangkatan khalifah setelahnya. Karena bagaimanapun, Abbas menilai bahwa yang berhak menjadi pengganti Nabi adalah dari Bani Hasyim. 

Singkat cerita, setelah mempertimbangkan beberapa pertimbangan yang ada, Majelis Syura akhirnya menetapkan Sayyidina Utsman bin Affan sebagai Khalifah ketiga. Semua pihak menerima keputusan itu, termasuk Sayyidina Ali.  Menurut riwayat Ibnu Sa’ad, Sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah orang pertama yang membaiat Sayyidina Utsman. Pendapat lain menyebutkan kalau yang membaiat pertama adalah Abdurrahman bin Auf, baru kemudian Sayyidina Ali.

Sumber lain menyebutkan kalau Sayyidina Ali dan Bani Hasyim tidak puas dengan atas pembaiatan Sayyidina Utsman. Bahkan, Sayyidina Ali merasa ditipu oleh Sayyidina Aabdurrahman bin Auf dalam proses pemilihan Khalifah ketiga itu. Sayyidina Ali kemudian menuduh Abdurrahman bin Auf, selaku ketua Majelis Syura, telah berlaku nepotisme sehingga lebih memilih Sayyidina Utsman dari pada dirinya.

Baca juga: Ini Sikap Sayyidina Ali Ketika Tidak Terpilih Menjadi Khalifah (Bagian I)

Baca juga: Ini Sikap Sayyidina Ali Ketika Tidak Terpilih Menjadi Khalifah (Bagian II)

Terlepas dari perdebatan itu, merujuk buku Ali bin Abi Thalib, sampai kepada Hasan Husain (Ali Audah, 2015), sikap Sayyidina Ali bin Abi Thalib terhadap pembaiatan Sayyidina Utsman biasa-biasa saja. Ia bersama dengan Abdurrahman bin Auf dan yang lainnya membaiat Sayyidina Utsman. Keduanya juga masih berhubungan baik dan saling mencintai sebagai seorang sahabat.

Sebelum akhirnya menjadi Khalifah keempat, peran dan posisi Sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah sebagai penasihat resmi bagi ketiga khalifah sebelumnya. Dia bertugas untuk memberikan pendapat dan saran-saran kepada Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar bin Khattab, dan Sayyidina Utsman bin Affan selama mereka menjadi khalifah.

Memang seperti itulah Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Dia dikenal sebagai pribadi yang berjiwa besar, rendah hati, berpendirian teguh, tegas, dan bersikap tenang. Dia selalu bisa menerima meski dirinya tidak terpilih menjadi pengganti Nabi Muhammad saw., meskipun ada pihak-pihak yang membisiki kalau dirinya lah yang paling berhak menjadi Khalifah Nabi.

Penulis: A Muchlishon Rochmat

Sumber: NU Online dengan judul berbeda Sikap Sayyidina Ali Ketika Tidak Terpilih Menjadi Khalifah (Bagian III-Habis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here