HARIANSULSEL.COM, Makassar – Kesuksesan dakwah tidaklah semata-mata ditentukan kemampuan sang da’i tapi ada faktor terpenting lain yaitu khuluqiyah (kepribadian) sang da’i itu sendiri, bagaimana etika seorang daiyah, hal ini disampaikan Nurjannah Abna saat mengantar diskusi Pelatihan Kader Daiyah PW Muslimat NU Sulsel (2/12) dengan menghadirkan narasunber Dewan Pakar PW Muslimat NU Sulsel, Amrah Kasim yang berlangsung di Hotel Denpasar Jl. Boulevard Makassar yang diikuti 40 kader daiyah PC Muslimat NU Kab/kota se Sulsel
Dr Amrah Kasim mengawali materinya dengan menanyakan apa perbedaan daiyah dan muballighah. Muballligh bermakna menyampaikan sedangkan da’iyah berarti menyeru. Makna da’iyah lebih luas dari Muballigah. Etika berkaitan dengan perilaku, dalam Alquran dakwah berarti menyeru orang dengan al hikmah yang artinya bijak yang memiliki makna cerdas. Seorang daiyah harus mempelajari objek dakwah sehingga dapat berkomunikasi dengan efektif.
“Islam mengajarkan kemaslahatan memperkenalkan yang baik, mengajarkan al khair sumber segala kebaikan, tidak berdakwah hanya mengajarkan larangan tapi mendahulukan kebaikan nilai-nilai ajaran Islam.”
Kebaikan profil seorang daiyah, harus cerdas, harus lebih banyak membaca, memperluas wawasannya, tanggap, jaga image, menghindari hal yang dapat menimbulkan fitnah, ujar dosen UIN Alauddin. (*)