HARIANSULSEL.COM – 30 tokoh perempuan Islam Indonesia yang mendapatkan Australia Award dengan studi tentang Pengembangan Kepemimpinan Perempuan dalam Organisasi Islam di Melbourne Australia 15 s.d 30 September 2017. Hari pertama 18 september 2017. Jam. 08.00 dari Apartemen Corporation Dockland didampingi Kylie Moore Gilbert dan Yusria Yadi menuju Deakin University Corporate centre Level 12, Tower 2, 727 Collins St. Dockland.
Setiba di Deakin peserta yang tinggal 29 orang (salah seorang peserta batal berangkat karena sakit) diterima Dr Rebecca Barlow peneliti senior Alfred Deakin Institute pada bidang pemberdayaan perempuan dalam program ini bertindak sebagai ketua tim fasilitator lalu diarahkan memasuki ruangan dan kegiatan ini dibuka Prof Brenda Cherednichenko Dekan Fakultas Seni dan Pendidikan Universitas Deakin. Nampak hadir pula tim fasilitator yang juga peneliti senior Prof Shahran Akbarzadeh dan Annemarie Ferguson dan Widya dari Australian Award Indonesia.
Peserta dari Sulsel yaitu Masrurah Mokhtar (Rektor UMI), Andi Majdah Agus Arifin Nu’mang (Rektor UIM/ Ketua PW Muslimat NU Sulsel), Nur Fadjri FL ( IMMIM), Nurhayati Azis (Ketua PW Aisyiyah/Dosen UMI), Amrah Kasim (IMMIM/Dosen UIN Alauddin Makassar), Nurjannah Abna (UMI/IMMIM), Setyawati Yani (UMI/PW Muslimat NU Sulsel), Syamsudduha (Gur besar UIN Alauddin Makassar/IMMIM), Nurlinda Azis (PW Aisyiah/Dosen Unismuh Makassar), dan Yuspiani Naro.
Prof Brenda C mengatakan apresiasi atas ditempatkannya program ini di Deakin University dengan hadirnya 29 tokoh perempuan muslim di Indonesia yang luar biasa dalam mendorong perubahan baru. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut kerjasama Konsulat Jendral Australia di Makassar melalui Australia Award dengan Deakin University dengan mengutus 30 tokoh perempuan Islam di Indonesia mengikuti studi tentang pengembangan kepemimpinan perempuan dalam organisasi Islam di Melbourne dengan tujuan mengembangkan pengetahuan dan wawasan kepemimpinan serta meningkatkan keterampilan dalam mengelola organisasi. Perubahan dalam perempuan harus dilakukan perempuan itu sendiri. Ujarnya.
Sementara itu Rebecca menjelaskan bahwa pertemuan hari pertama output yang ingin dicapai adalah meningkatkan pemahaman peserta tentang perlunya keberagaman dalam kepemimpinan, selain itu melakukan identifikasi secara mendalam untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan dam membuat perubahan.
Para penerima beasiswa dibekali dengan berbagai pengetahuan mengenai kepemimpinan perempuan, peranan perempuan dalam komunitas Islam di Australia serta terlibat dalam berbagai diskusi interaktif.
Selain itu peserta juga mengunjungi organisasi multikultural dan organisasi perempuan pertemuan tingkat tinggi panel narasumber dan sesi pembinaan (networking), kegiatan ini juga peserta dipertemukan perempuan yang berpengaruh dari berbagai bidang termasuk kesehatan, media, bisnis serta sektor nirlaba serta mereka yang bergerak di politik lokal negara bagian dan federal Australia.
Mengutip pernyataan konsulat Australia Makassar Richard Matthew saat membuka orientasi di Hotel Sheraton Four Point Makassar mengatakan bahwa program ini dirancang untuk memberdayakan penerima Australia award di Indonesia dengan pengetahuan dan keterampilan yang mendukung partisipasi perempuan di angkatan kerja, selain itu untuk menghilangkan hambatan struktural kebudayaan dan internal serta mentransformasi hubungan kekuasaan. Khusunya bidang-bidang yang didominasi kaum laki-laki.
Tak hanya itu untuk memberdayakan penerima beasiswa untuk menjadi pemain utama dalam meningkatkan pembangunan ekonomi sosial dan kebudayaan di organisasi serta masyarakat luas serta membangun jejaring global bagi pemimpin perempuan masa depan.
Pada Sore hari waktu di Melbourne Australia, kami dibagi dalam group kecil lalu mempresentasikan proposal project yang akan kami laksanakan setiba di tanah air. Banyak hal yang dapat diadopsi seperti teknik penggunaan media dan materi diskusi, model pembimbingan yang efektif dan efisien. Hal ini diamini Rektor UIM Majdah Agus Arifin Nu’mang dan Rektor UMI Masrurah Mokhtar.
Hari kedua, 19 September 2017
Tujuan kegiatan mengidenfitifkasi program yang berhasil dalam mendorong keberagaman budaya dan agama mengenal best practice dalam mendorong meningkatkan tolerensi dalam masyarakat multikutural di Australia, mengidenfitikasi tantangan yang dihadapi pemimpin perempuan di Australia. Peserta dibawa melakukan kunjungan ke beberapa organisasi sosial kemasyarakatan diantaranya mengunjungi the Victoran Multicultural Commision (VCMC) atau Komisi Multicultural Victoria suatu organisasi sosial kemasyarakatan yang banyak memberikan masukan kepada pemerintah Victoria mengenai berbagai kebijakan terkait isu-isu multikultural diantaranya keberagaman budaya bahasa dan agama yang ada di Victoria.
Pada pertemuan ini, komisi Victoria memberikan informasi mengenai fungsi dan tujuan organisasi yang difokuskan pada peran organisasi dalam mendorong pemberdayaan perempuan dalam keberagaman.
Selanjutnya perjalanan dilanjutkan ke Multicultural Centre for Women Health (MCWH) atau Pusat Multikuktural untuk Kesehatan Perempuan, MCWH adalah organisasi nasional yang berbasis kimunitas yang berkomitmen untuk memajukan kesehatan dan kesejahteraan perempuan imigran dan pengungsi melalui kepemimpinan, pendampingan pendidikan, bahasa, aksi sosial penelitian dan peningkatan kapasitas perempuan. Kunjungan ke lembaga ini, delegasi langsung berinteraksi dengan pemimpin perempuan MCWH dan berdiskusi bagaimana aksi mereka dalam meningkatkan kapasitas dan memajukan kesehatan serta kesejahteraan perempuan.
Organisasi ini juga melakukan kampanye dan advokasi sebagai program utama untuk membantu perempuan korban tindak kekerasan dan termarginalkan dengan berusaha memperbaiki keadaan mereka dengan baik dalam bentuk pendampingan. Di lembaga ini kami juga dijamu makan siang dengan suasana penuh kekeluargaan.
Setelah makan siang, acara dilanjutkan kunjungan ke lembaga Hak azasi Perempuan Muslim Australia yang diterima oleh Jasmine, lembaga ini merupakan lembaga nirlaba yang bertujuan memajukan dan memperjuangkan hak azasi perempuan muslim di seluruh Australia.
Alhamdulillah dari kunjungan ke beberapa organisasi di hari kedua ini kami banyak belajar mengenai kehidupan dan kegiatan komunitas Muslim di Australia yang berada di lingkungan multikultural di negara yang mayoritas non muslim, mereka hidup berdampingan umumnya memanfaatkan sifat multikultural mereka dan dewasa dalam menyikapi perbedaan dan keragaman.
Hari Ketiga, 20 September 2017
Agenda kegiatan hari ketiga dengan tujuan meningkatkan pemahaman mengenai perlunya keberagaman dalam kepemimpinan, selain itu melakukan identifikasi cara meningkatkan kemampuan kepemimpinan dan membuat perubahan meningkatkan kemampuan perempuan dalam berpikir dan bereaksi secara cerdas. Kegiatan hari ketiga diawali dengan pertemuan dengan Asosiasi Pemimpin Wanita Pemerintah Lokal. (bersambung).
Pengirim: Nurjannah Abna melaporkan dari Melbourne Australia (Citizen Reporter)
Satu tanggapan untuk “30 Tokoh Perempuan Islam Indonesia, Catatan dari Melbourne Australia (Bagian I)”