HARIANSULSEL.COM, Semarang – Badan kerjasama Perguruan TInggi Islam Swasta (BKS PTIS) harus mengahrakan anggotanya yaitu Perguruan Tinggi Islam Swasta se Indonesia untuk lebih memacu diri, memiliki inovasi, meningkatkan kualitas dan kuantitas research dan kerjasama baik dalam maupun luar negeri. PTIS tidak boleh lagi ada konflik internal. Jika ingin maju, maka harus ada inovasi dan kerjasama, Hal ini disampaikan Menristek Dikti, Prof M Nasir dalam sambutannya di depan peserta Rakernas BKS PTIS yang berlangsung di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang (20/9).
Saat ini era global, era revlosui industri 4.0, tantangan ke depan lebih kompleks, informasi, komunikasi tidak bisa dihindari. PTIS harus ada inovasi, PTIS harus beranjak dari perubahan, memacu diri memiliki kualitas yang ditandai dengan nilai akreditasi unggul “A’ oleh BAN PT, setelah dinyatakan unggul lalu menyiapkan diri untuk terakreditasi international. PTIS haru menangkap peluang demografi Indonesia menuju 2045 menjadi Negara maju. Untuk menjadi Negara yang maju dan pemenang, tidak hanya bermodalkan jumlah warga Negara tetapi harus melakukan inovasi dan tingaktkan kualitas kerjasama. Salah satu elemen yang berkontribusi langsung adalah PTIS dalam menyiapkan SDM yang berkualitas, lulusan yang tidak hanya mampu berkompetisi secara nasional tetapi juga mampu bersaing di era global.
Sementara itu, Ketua Umum BKS PTIS, Prof Masrurah Mokhtar, mengatakan organisasi Badan kerjasama Perguruan TInggi Islam Swasta se Indonesia merupakan salah satu elemen dalam sistem pendidikan nasional yang memiliki tanggung jawab dalam mencerdaskan bangsa dan mewujudkan visi Indonesia 2030 untuk mencitpakan masyarakat yang maju, sejahtera, mandiri dan berdaya saing tinggi sekaligus mendorong inovasi untuk meningkatkan daya saing PTIS.
Saat ini eranya mutu atau kualitas, karena itu PTIS harus memacu kualitas mutu dan memiliki daya saing tinggi dalam kancah ionternasional dan menghasilkan lulusan yang berkualitas serta mampu memberikan tawaran solusi terhadap berbagai masalah kemanusiaan dan kebangsaan.
Pelaksanaan Rakernas dengan conference international yang diselenggarakan di Universitas Islam Sultan Agung ini merupakan agenda tahunan BKS PTIS, dan tahun ini merupakan tahun ketiga dari kepengurusan kami. PTIS memiliki peran signifikan sebagai center of excellence dan entitas tersendiri sebagai pusat riset dan pemikiran dalam melakukan repositiong konteks lingkungan eksternal.
Selain itu forum ini meningaktkan kerjasama dan memperkuat persatuan dan kesatuan PTIS se Indonesia dalam komitmen bersama merumuskan langkah strategis, Forum ini strategis sebagai media kerjasama untuk meningkatkan kapasitas institusi dan berkontribusi konkrit untuk membantu pertumbuhan PTIS sebagai pusat pembentukan generasi muda Islam masa depan
Rektor Unissula Semarang Prabowo Setiawan, dalam laporanya menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kepercayaan ditunjuknya Unissula sebagai tuan rumah pelaksanaan rakernas dan Conference International yang berlangsung tanggal 20 s,d 22 September 2018 yang diikuti Pimpinan PTIS se Indonesia. Untuk area call paper sebanyak 100 dosen dan mahasiswa yang mengirimkan tulisan, utusan PTIS se Indonesia, kesehatan, social, teknik, ICT, Computer System. Tujuan kegiatan ini dalam upaya memacu internationalisasi PTIS, mengembangkan kerjasama international dalam bidang tri darma perguruan tinggi yang didasarkan pada kesetaraan dan slaing menghormati dengan mempromosikan ipteks dan nilai kemanusiaan yang bermanfaat untuk manusia. Dalam kegiatan ini menghadirkan narasumber, Menristek Dikti, ISESCO, Saudi Arabia, (Abdul Azis Usman), Coventry University of London, Prof Albey, International Islamic University Malaysia, Prof Dato Sri Zaleha Kamaruddin, Universiaet der Bundeswehr Muenchen, Prof Stefan Koos. (and)