Sinergi Poltekbos dan Semen Bosowa: Bekali Guru SD dengan AI dan Etika Keilmuan

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Program Studi Teknik Mekatronika Politeknik Bosowa (Poltekbos) kembali menunjukkan komitmennya dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) yang menggandeng PT Semen Bosowa Maros dalam program Corporate Social Responsibility (CSR), Rabu(4/6/25).

Kegiatan ini sukses diselenggarakan dalam bentuk workshop dan sharing session dengan mengangkat tema “Pembelajaran Berbasis AI dan Etika Keilmuan”.

Dihadiri lebih dari 45 guru sekolah dasar dari wilayah Ring 1 dan Ring 2 perusahaan, termasuk perwakilan dari MI Darul Ulum Amessangeng, yakni Ismaniar, yang turut aktif berdiskusi dan berbagi pengalaman dalam penerapan teknologi di kelas dasar.

Workshop menghadirkan Ir. Muhammad Edy Hidayat, S.ST., M.Tr.T., IPP., dosen sekaligus praktisi dari Prodi Teknik Mekatronika sebagai narasumber utama.

Dalam materinya, beliau menekankan pentingnya transformasi digital di dunia pendidikan dasar, khususnya pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) secara etis dan kontekstual.

“AI bukan untuk menggantikan peran guru, tetapi sebagai alat bantu untuk mengoptimalkan potensi pembelajaran. Etika keilmuan menjadi landasan utama agar pemanfaatannya tidak menyimpang dari nilai-nilai pendidikan,” ungkap Ir. Muhammad Edy Hidayat.

Beliau didampingi oleh dua dosen lainnya yakni Andi Fitriati, S.T., M.T. dan Nur Azhary Iriawan Eka Putra, S.ST., M.T., yang membantu menjembatani diskusi antara narasumber dan peserta serta memperkuat pemahaman teknis seputar penggunaan teknologi dalam pendidikan dasar.

Sebagai bentuk dukungan penuh terhadap kolaborasi ini, Budiman Habe selaku perwakilan manajemen PT Semen Bosowa Maros memberikan sambutan hangat dan apresiasi tinggi terhadap kegiatan yang dianggap sejalan dengan misi sosial perusahaan.

“Kami melihat pentingnya peningkatan kapasitas guru-guru di sekitar area operasional kami. Melalui kerja sama dengan institusi pendidikan seperti Politeknik Bosowa, kami berharap dapat mendorong terwujudnya ekosistem pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai etika,” ujar Budiman Habe.

Tak hanya dosen, kegiatan ini juga membawa serta empat mahasiswa sebagai bentuk implementasi pembelajaran di luar kampus (MBKM).

Mereka dilibatkan secara langsung dalam proses pelaksanaan kegiatan, mulai dari persiapan teknis, dokumentasi, hingga diskusi bersama peserta.

Dua di antaranya adalah Alfiah Suardin dan Muhammad Abghillah Rozak Salam.

“Kegiatan ini memberi saya pengalaman baru tentang bagaimana dunia pendidikan di tingkat dasar menghadapi tantangan teknologi. Saya belajar bahwa menjadi bagian dari solusi itu bisa dimulai dari keterlibatan kecil seperti ini,” tutur Alfiah Suardin penuh antusias.

Sementara itu, Muhammad Abghillah Rozak Salam menambahkan, “Berinteraksi langsung dengan para guru memberikan perspektif baru tentang kebutuhan lapangan. Saya merasa semakin yakin bahwa teknologi harus dikembangkan dengan empati dan pemahaman terhadap penggunanya.”

Guru peserta, Ismaniar dari MI Darul Ulum Amessangeng, juga memberikan apresiasi atas kegiatan ini.

“Kami sangat terbantu dengan wawasan yang diberikan. Tidak hanya soal teknologi, tapi juga bagaimana kita bisa tetap membimbing murid dengan bijak di era digital ini,” ujar Ismaniar.

Kegiatan ini menjadi contoh nyata sinergi antara dunia pendidikan tinggi, industri, dan masyarakat, dalam upaya mendorong kemajuan pendidikan dasar yang relevan dengan perkembangan zaman.

Ke depan, diharapkan kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan untuk memperluas dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat. (and/hs)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *