HARIANSULSEL.COM, Makassar – Ketika dunia kembali menyaksikan eskalasi konflik di Timur Tengah dengan agresi militer yang dilakukan oleh Israel dan dukungan politik serta militer dari Amerika Serikat sejarah membawa kita menoleh pada sebuah peradaban tua yang sejak lama dikenal dengan kecerdasan strategi dan ketahanan budaya: Persia, yang kini dikenal sebagai Iran.
Persia bukan sekadar wilayah geografis. Ia adalah salah satu pusat peradaban dunia yang sejak ribuan tahun lalu dikenal dengan kekuatan intelektual, kemampuan diplomasi, serta strategi militer yang matang. Dalam sejarah Islam, kecemerlangan tradisi intelektual Persia bahkan memberi kontribusi penting pada perjuangan umat Islam di masa awal.
Salah satu simbol kecerdasan itu adalah sosok sahabat Nabi, Salman al-Farisi. Ia lahir dari tradisi peradaban Persia yang panjang sebelum akhirnya menemukan Islam melalui perjalanan spiritual yang luar biasa. Dalam sejarah Islam, ia dikenal bukan hanya karena ketakwaannya, tetapi juga karena kecerdasan strategisnya.
Pada peristiwa besar Perang Khandaq, ketika kota Madinah terancam oleh koalisi besar musuh Islam, Salman mengusulkan strategi menggali parit sebagai sistem pertahanan kota. Strategi ini berasal dari pengalaman militer Persia yang terbiasa menghadapi serangan pasukan berkuda dalam jumlah besar. Usulan tersebut diterima oleh Nabi Muhammad dan terbukti menjadi strategi yang menentukan. Parit itu membuat pasukan musuh tidak mampu menembus Madinah.
Peristiwa ini menjadi bukti bahwa dalam sejarah, kecerdasan dan strategi sering kali lebih menentukan daripada jumlah pasukan dan kekuatan senjata.
Ramadan sendiri bukan hanya bulan spiritual, tetapi juga bulan kemenangan dalam sejarah Islam. Kemenangan pertama umat Islam terjadi dalam Perang Badar pada tahun 2 Hijriah, ketika pasukan Muslim yang jauh lebih kecil berhasil mengalahkan pasukan Quraisy yang jauh lebih besar. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:
“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah.” (QS. Ali Imran: 123)
Selain itu, peristiwa monumental Penaklukan Makkah juga terjadi pada bulan Ramadan tahun 8 Hijriah. Peristiwa ini menjadi titik balik sejarah Islam, ketika kota Makkah akhirnya kembali ke tangan kaum Muslimin tanpa pertumpahan darah yang besar.
Sejarah Ramadan mengajarkan satu hal penting: kemenangan tidak selalu lahir dari kekuatan militer semata, tetapi dari perpaduan iman, kecerdasan, strategi, dan kesabaran.
Dalam konteks konflik global hari ini, ketika dunia menyaksikan penderitaan rakyat sipil di berbagai wilayah konflik Timur Tengah, pelajaran sejarah menjadi semakin relevan. Peradaban besar tidak lahir dari dominasi kekuatan, tetapi dari kemampuan menjaga nilai keadilan dan kemanusiaan.
Persia yang kini menjadi Iran telah membuktikan bahwa sebuah bangsa bisa bertahan berabad-abad karena kekuatan peradaban, bukan hanya kekuatan militer. Sementara umat Islam dalam sejarahnya juga telah menunjukkan bahwa iman dan kecerdasan strategi mampu mengubah peta kekuatan dunia.
Ramadan mengingatkan kita bahwa sejarah umat Islam bukan sekadar sejarah peperangan, tetapi sejarah perlawanan moral terhadap ketidakadilan.
Dan dari kisah seorang sahabat Persia bernama Salman al-Farisi, kita belajar bahwa peradaban yang besar selalu lahir dari perpaduan antara iman, ilmu pengetahuan, dan keberanian berpikir.
Di tengah dunia yang penuh ketegangan hari ini, pelajaran itu terasa semakin relevan:
bahwa kekuatan sejati sebuah peradaban bukan terletak pada senjata, tetapi pada kecerdasan, moralitas, dan keberanian membela kebenaran.
Penulis: Rizal Syarifuddin – Dosen Fakultas Teknik Universitas Islam Makassar – Kandidat Doktor pada Program Studi Rekayasa Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.