HARIANSULSEL.COM, Makassar – Di tengah derasnya arus informasi dan berbagai distraksi dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang yang mudah merasa lelah secara emosional, galau, bahkan kehilangan semangat hidup. Padahal, jika kita mau sejenak berhenti dan merenung, ada begitu banyak tanda kebesaran Tuhan yang dapat menjadi sumber ketenangan dan kekuatan batin.
Hal inilah yang coba dihadirkan oleh ulama dan cendekiawan Muslim, M. Quraish Shihab melalui bukunya yang berjudul Dia Di Mana-Mana: Tangan Tuhan di Balik Setiap Fenomena. Buku ini mengajak pembaca untuk melihat kehidupan dengan cara yang lebih reflektif dan penuh makna.
Dalam buku tersebut, pembaca diajak menelusuri kehadiran Allah dalam berbagai fenomena kehidupan. Mulai dari keindahan alam semesta, keberadaan manusia, kehidupan binatang, tumbuh-tumbuhan, keseimbangan alam, hingga hal-hal kecil yang sering kali luput dari perhatian.
Melalui gaya penulisan yang ringan namun sarat makna, buku ini seolah mengajak pembaca “berpetualang spiritual” dengan mentadabburi berbagai hal di sekitar kita. Setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan tidak lagi dipandang sebagai kejadian biasa, melainkan sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaran dan kasih sayang Tuhan.
Pesan utama yang ingin disampaikan adalah bahwa di balik setiap fenomena kehidupan selalu ada hikmah yang bisa dipetik. Dengan kesadaran tersebut, manusia diharapkan mampu menjalani hidup dengan lebih bersyukur, sabar, dan bijaksana.
Salah satu pesan penting dalam buku ini adalah bahwa berpikir dan merenung juga merupakan bentuk ibadah.
“Berpikir dan merenung adalah ibadah yang dapat mengantarkan manusia mengenal Tuhannya.”
Di tengah kehidupan modern yang menuntut manusia terus bergerak cepat dan bersaing dengan waktu, buku ini hadir sebagai pengingat untuk sejenak berhenti, menarik napas, dan memaknai hidup dengan lebih dalam.
Dengan membaca Dia Di Mana-Mana: Tangan Tuhan di Balik Setiap Fenomena, pembaca tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga ruang untuk melakukan self healing melalui refleksi spiritual. Sebuah jeda yang mungkin sederhana, namun mampu membuat hidup terasa lebih tenang, bermakna, dan penuh syukur
Penulis: Nursabriani Umar -Kader Fatayat NU Makassar