Cingkrang yang Masuk Surga?

0
336

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Mereka yang menyatakan tidak boleh memakai pakaian yang yang menjulur ke bawah (isbal) menutupi mata kaki bagi laki laki didasari pada Hadis Ibn Umar yang menjelaskan bahwa Rasulullah saw bersabda “Innalloha la yandzuru ilaa man jarra tsaubahu khuyala” (Hadis No 5791), artinya bahwa Allah tidak akan memandang orang yang menjulurkan pakaiannya dalam keadaan sombong.

Hadis ini dan beberapa hadis yang sama menjadi dasar dalam merancang celana cingkrang yang menjadi trend ideologi paham keagamaan sebagian masyarakat muslim.

Paling tidak ada empat sikap dan model berpakaian pria muslim dari dulu, sekarang dan masa datang. Pertama cingkrang yang tidak sombong. Kedua cingkrang yang sombong. Ketiga isbal yang tidak sombong. Keempat, isbal yang sombong.

Bagaimana ulama menyikapi model tersebut di atas. Beberapa referensi menyebutkan bahwa pria yang berpakaian isbal yang sombong adalah haram (berdosa) bahkan dianggap sebagai dosa besar. Sedangkan isbal tanpa ada niat kesombongan maka ulama berbeda pandang dengan tiga kategori hukum yakni haram, makruh atau mubah (boleh). Namun jumhur Ulama dari empat mazhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal) menyatakan ketidakharamannya. Artinya hanya ada dua hukum yang bisa timbul, pertama makruh (dicela tapi tidak berdosa), kedua hukumnya boleh saja (mubah).

Bagaimana memahami hadis isbal? Hadis di atas disepakati oleh Bukhari dan Muslim. Bagi umat Islam, Hadis Bukhari Muslim memiliki tingkat akurasi yang kuat setelah al-Qur’an. Karena itu, Hadis tersebut adalah qath’i alwurud (absah secara teks), namun menjadi dzanni al-dilalah (kemungkinan arti lain) karena indikasi kuat memalingkan dari makna zahir yang ada.

Memahami teks agama, baik itu ayat maupun hadis, perlu dibekali dengan disiplin ilmu ushul fikih (metodologi hukum Islam). Metode memahami teks keagamaan dapat ditempuh dengan cara ibaratunnash yakni memahami makna teks secara zahirnya seperti murka Allah swt kepada orang yang menjulur pakaiannya karena berdasar pada potongan “innalloha la yandzuru ilaa man jarra tsaubahu“ pada teks hadis di atas.

Selain metode ibaratunnash, juga ada metode isyartuddilalah yakni indikasi kuat atas pemahaman yang diperoleh setelah melakukan pemahaman yang mendalam dari makna konteks atas satu ungkapan, misalnya larangan isbal yang didasari pada kesombongan setelah memahami potongan hadis pada kata “khuyala“.

Artinya sekalipun memakai celana secara isbal tapi tidak sombong tidaklah membawa kepada dosa. Hal ini dibuktikan oleh pernyataan Nabi Muhammad saw kepada Abu Bakar ketika menyampaikan model pakaiannya yang menjulur ke bawah tanpa didasari kesombongan. Beliau menyatakan jika demikian, maka engkau tidak termasuk di dalamnya. (almajmu 177/3).

Kontektualisasi hadis dalam masyarakat yang sangat serba keterbatasan kain ketika itu, boleh jadi poin tersendiri adanya larangan isbal. Mempertontonkan kemewahan di tengah kondisi sulit adalah hal yang tidak pantas, dan tentu juga akan menghadirkan kesombongan.

Sosio kultural seribu tahun yang lalu apalagi daerah yang berbeda pasti mengalamai pergerakan dan pergeseran yang sangat signifikan. Mindset cara berpakaian dengan perbedaan cm tidak lagi memengaruhi sombong atau tidaknya seseorang masa kini. Dan rasanya sangat naif, jika style pakaian menjadi prasyarat masuk sorga dan nerakanya seseorang.

Jika ada yang berkata bahwa ada banyak dalil lain larangan isbal tanpa menyebutkan kesombongan. Artinya bahwa tanpa kesombongan pun isbal tetap diharamkan. Pandangan seperti ini perlu dijelaskan dengan metode taqyid (pembatasan) atau takhsis (pengkhususan) Bahwa dalil dalil yang tidak menyebutkan kesombongan dijelaskan (taqyid/takhsis) dengan hadis yang menyebutkan kesombongan.

Kalau demikian bukanlah isbal yang memasukkan orang ke neraka, tapi kesombongannya. Apapun yang kita miliki, apapun yang kita lakukan jika didasari atas kesombongan maka akan mengantar pada murka Tuhan.

Walhasil, isbal yang sombong dilaknat Tuhan demikian pula cingkrang yang sombong akan mendapat murka-Nya. Adakah cingkrang yang sombong? Boleh jadi, jika menganggap hanya dirinya yang benar dalam berpakaian, menganggap orang lain sesat karena pakaiannya. Jangan jangan iblis menggerogoti pikiran seseorang melalui teks teks suci. (fala tuzakku anfusakum/jangan menilai dirimu suci, demikian Firman Tuhan).

Isbal yang tawadhu serta cingkrang yang tawadhu berpotensi mendapatkan ridho Allah swt dan akan masuk sorga karena rahmat-Nya. Bukankah iblis menghuni neraka karena kesombongan?

Penulis: Dr. KH. Muammar Muhammad Bakry, Lc., M.Ag – Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar, Imam Besar Masjid Al-Markaz al-Islami Makassar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here