Alumni Pesantren Annahdlah Tolak Kebijakan Full Day School

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Kebijakan kementerian pendidikan dan kebudayaan untuk menerapkan sistem full day school ditolak oleh ketua Umum Ikatan Alumni Annahdlah Makassar Rizal Syarifuddin.
Kebijakan Full day school tidak bisa diterapkan di seluruh Indonesia, kualitas pendidikan kita masih belum memadai, sebagai contoh masih ada sekolah di pelosok desa yang waktu proses belajar mengajarnya terbagi dua, ada yang masuk pagi dan masuk siang, ini dilaksanakan karena masih kurangnya ruang kelas di sekolah yang ada. Ujar Rizal Syarifuddin
Selain ruang kelas yang memadai, tenaga pendidik juga sepenuhnya belum tercukupi, tenaga pendidik juga harus diperbaiki kualitas dan kesejahteraannya. Ujar Rizal
Belum lagi madrasah diniyah, apakah pak menteri pendidikan dan kebudayaan telah melakukan kajian mendalam untuk menerapkan full day school? seharusnya pemerintah memperhatikan juga eksistensi madrasah diniyah, tidak asal membuat sistem pendidikan yang gaduh. Ujar Rizal
Untuk itulah, saya selaku ketua ikatan alumni pondok pesantren Annahdlah menyerukan untuk menunda dan membatalkan sistem full day school yang dilakukan oleh menteri pendidikan kebudayaan, kapan bisa dilakukan? sampai terbenahinya infrastruktur pendidikan kita menjadi lebih baik, terpenuhinya ruang kelas yang layak bagi siswa, dan kesejahteraan tenaga pendidik serta harus diingat eksistensi madrasah diniyah harus di perhatikan juga. Ujar Rizal
Di Indonesia bukan hanya ada sekolah umum, jauh sebelum Indonesia merdeka ada pendidikan keagamaan, madrasah diniyah, ini harus diperhatikan eksistensinya, jika fullday school diterapkan, cepat atau lambat akan memberangus eksistensi madrasah diniyah. Tutup Rizal (Rls)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *