Gus Dur: Simbol Pembela Kaum Marginal

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Ketika berbicara tentang Gus Dur, atau KH. Abdurrahman Wahid, kita tidak hanya berbicara tentang seorang tokoh besar yang pernah memimpin Indonesia. Kita juga membahas seorang ulama, pemikir, dan aktivis kemanusiaan yang menjadikan Islam sebagai landasan utama dalam perjuangannya membela kaum marginal. Dalam perspektif Islam Rahmatan lil ‘Alamin, Gus Dur adalah simbol nyata bagaimana agama dapat menjadi sumber kasih sayang, keadilan, dan keberpihakan kepada mereka yang terpinggirkan.

Gus Dur memahami Islam bukan sekadar sebagai kumpulan aturan atau ritual, tetapi sebagai panduan hidup yang berlandaskan pada prinsip-prinsip kemanusiaan universal. Baginya, Islam yang rahmatan lil ‘alamin adalah Islam yang tidak hanya memberikan rahmat kepada umat Muslim, tetapi juga kepada seluruh umat manusia, bahkan kepada alam semesta. Prinsip ini menjadi dasar dari segala tindakannya, terutama dalam membela mereka yang sering kali dilupakan oleh sistem sosial dan politik.

Gus Dur melihat bahwa pembelaan terhadap kaum marginal adalah inti dari ajaran Islam. Kaum marginal, dalam pandangannya, adalah mereka yang hak-haknya dirampas, suaranya tidak didengar, dan kehidupannya sering kali terabaikan. Mereka bisa berupa minoritas agama, suku, atau kelompok sosial tertentu yang berada di pinggiran masyarakat. Bagi Gus Dur, membela mereka adalah kewajiban moral dan agama.

Salah satu contoh nyata dari keberpihakan Gus Dur adalah ketika ia menghapus diskriminasi terhadap komunitas Tionghoa di Indonesia. Langkah ini tidak hanya mengembalikan hak-hak mereka, tetapi juga menjadi simbol bahwa Islam yang dibawa Gus Dur adalah Islam yang inklusif dan adil. Ia juga membela kaum difabel, petani miskin, buruh, dan kelompok minoritas lainnya, menunjukkan bahwa Islam tidak pernah memandang rendah siapa pun.

Dalam pidato-pidatonya, Gus Dur sering mengutip ayat-ayat al-Qur’an yang menekankan pentingnya keadilan dan kasih sayang. Salah satu ayat favoritnya adalah surah Al-Maidah ayat 8, yang menyebutkan bahwa keadilan harus ditegakkan, bahkan terhadap musuh. Gus Dur menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan diskriminasi, tetapi mengajarkan penghormatan terhadap martabat setiap manusia.

Gus Dur tidak hanya berbicara tentang Islam Rahmatan lil ‘Alamin, tetapi juga mewujudkannya dalam tindakan nyata. Ia sering turun langsung ke lapangan untuk mendengar keluh kesah masyarakat, mengunjungi komunitas yang terpinggirkan, dan mencari solusi untuk masalah mereka. Bagi Gus Dur, keberpihakan kepada kaum marginal bukanlah sekadar retorika, tetapi komitmen yang harus diwujudkan dalam setiap langkah.

Salah satu langkah monumental Gus Dur adalah dukungannya terhadap dialog lintas agama. Ia percaya bahwa perdamaian hanya dapat tercapai jika ada saling pengertian dan penghormatan di antara berbagai agama. Dalam setiap forum, baik nasional maupun internasional, Gus Dur selalu menekankan pentingnya membangun hubungan yang harmonis di tengah perbedaan. Baginya, perbedaan adalah rahmat yang harus dirayakan, bukan alasan untuk berkonflik.

Di tengah dunia modern yang penuh dengan polarisasi dan ketegangan sosial, nilai-nilai yang diajarkan Gus Dur tetap relevan. Generasi masa kini dapat belajar banyak dari keberanian dan keteguhan hati Gus Dur dalam membela kaum marginal. Salah satu pelajaran terbesar adalah bahwa membela keadilan dan kemanusiaan adalah tanggung jawab setiap individu, bukan hanya pemimpin.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali menghadapi situasi di mana kita bisa memilih untuk diam atau berbicara. Gus Dur mengajarkan bahwa diam di hadapan ketidakadilan adalah bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai Islam. Ia menunjukkan bahwa keberanian untuk melawan ketidakadilan, meskipun penuh risiko, adalah bagian dari iman yang sejati.

Generasi muda juga dapat mengambil inspirasi dari Gus Dur untuk menjadi lebih inklusif dan terbuka terhadap perbedaan. Dalam era digital ini, di mana informasi dan opini begitu mudah tersebar, penting untuk tetap memegang prinsip keadilan dan tidak terjebak dalam narasi kebencian. Gus Dur mengajarkan bahwa kekuatan sejati terletak pada kemampuan untuk memahami dan menghormati orang lain, bahkan mereka yang berbeda dari kita.

Haul ke-15 Gus Dur adalah momen yang tepat untuk merenungkan warisan besar yang ia tinggalkan. Sebagai generasi penerus, kita memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangannya. Membela kaum marginal bukan hanya tentang berbicara atau mengkritik, tetapi juga tentang mengambil tindakan nyata yang membawa perubahan.

Kita dapat mulai dari langkah kecil, seperti membantu mereka yang membutuhkan, mendukung program-program yang inklusif, atau menyuarakan kebenaran di lingkungan kita. Dalam skala yang lebih besar, kita dapat mendorong kebijakan yang adil dan inklusif, serta memastikan bahwa setiap orang mendapatkan haknya, tanpa memandang latar belakang mereka.

Gus Dur adalah simbol bahwa Islam yang sejati adalah Islam yang mencintai, menghormati, dan membela setiap manusia. Dalam perspektif Islam Rahmatan lil ‘Alamin, membela kaum marginal bukan hanya tugas moral, tetapi juga bentuk ibadah yang mulia. Gus Dur telah menunjukkan bahwa agama dapat menjadi kekuatan untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan manusiawi.

Sebagai generasi yang hidup di era modern, mari kita jadikan Gus Dur sebagai inspirasi dalam menghadapi tantangan zaman. Mari kita lanjutkan perjuangannya untuk menciptakan dunia yang lebih inklusif, di mana tidak ada lagi yang terpinggirkan. Karena pada akhirnya, seperti yang sering dikatakan Gus Dur, “Agama adalah tentang memuliakan manusia, bukan sebaliknya.”

Penulis: Zaenuddin Endy – Koordinator Kader Penggerak NU Sulsel

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *