Catatan Konfercab NU Makassar: Figur NU ke Depan

0
483

(Catatan Khusus Konfercab XIV Nahdlatul Ulama Kota Makassar)

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Insya Allah Sabtu – Ahad/22-23/6 mendatang di Pesantren al-Fakhriyah Bulurokeng Makassar, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC. NU) Kota Makassar melaksanakan Konferensi Cabang ke XIV (konfercab XIV) dengan agenda utama memilih ketua baru yang diistilahkan Ketua Tanfidziyah, untuk lima tahun ke depan, periode 2019-2024.

Ketua Tanfidziyah adalah pengurus harian NU yang memiliki tugas utama melaksanakan kebijakan Rais Syuriah sebagai pemimpin tertinggi di internal Jamiyah NU, ormas Islam terbesar dan tertua di Indonesia.

Mencari figur Ketua Tanfidziyah yang tepat menjadi signifikan bukan hanya untuk menjamin keberlangsungan estafet kepemimpinan, namun menjadi urgen untuk lebih meningkatkan kapasitas dan posisi tawar Nahdlatul Ulama (NU) dalam meligitimasi kekuatan Jamiyah dan jamaah.

Figur Ketua Tanfidziyah yang dimaksud, tentu harus sesuai dengan ketentuan AD dan ART, yakni aktif menjadi pengurus NU atau Banom NU sekurang-kurangnya empat tahun dan bukan pengurus partai politik.

Selain ketentuan tersebut hendaknya kandidat Ketua Tanfidziyah ke depan adalah kader NU yang mapan dalam berorganisasi, mapan dalam doktrin Ahlussunna Wal Jamaah (Aswaja), memiliki kecakapan intelektual dibuktikan dengan kemampuan berdiskusi, berpolemik, dan berdialog secara lisan maupun tulisan, memiliki kompetensi keterampilan yang professional.

Syarat lain yang diperlukan hendaknya calon ketua Tanfidziyah mengantongi rekomendasi sah dari kiai, ulama sepuh NU, terutama dari Rais Syuriah tingkat cabang. Ini penting, agar ketua terpilih nantinya membawa nama kiai dan menjaga marwah kiai.

Kiai di internal NU bukan saja sebagai pewaris Nabi yang dimuliakan tetapi juga menjadi sumber rujukan utama yang sanad silsilah keilmuannya jelas dan karena fatwa maupun tausiahnya memang merujuk pada kitab-kitab kuning.

Berkaitan dengan itulah maka sangat wajar jika kriteria khusus Ketua Tanfdziyah sebagaimana pidato Iftitah Rais Syuriah NU Sulsel, AGH Sanusi Baco di forum Konferwil (28/10/2018) adalah mampu membaca kitab kuning dan bisa memahami rujukan klasik tersebut sebagai literature utama kaum Nahdliyyin.

Penulis: Mahmud Suyuti – Dewan Penasehat GP. Ansor NU Sulsel dan Komisioner BAZNAS Sulsel

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here