Hak Kebebasan Beragama Harus Dijunjung Tinggi

0
120

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Intisari setiap agama adalah menciptakan kedamaian bagi pemeluknya, dan umat manusia secara umum. Setiap agama yang bersumber dari Nabi-Nabi terdahulu, sebelum agama Islam diturunkan, seperti risalah yang dibawa oleh Nabi Musa dan Isa yang kemudian menjadi agama Yahudi dan Nasrani, hakikatnya juga mengajarkan tentang perdamaian bagi umatnya. Bahkan, kedamaian adalah bagian dari intisari ajaran agama. Oleh karena itu, segala bentuk permusuhan dan kekerasan sesunggunya bukanlah ajaran agama.

Pesan tegas itulah yang mengemuka dalam acara Konferensi Internasional Al-Azhar Untuk Perdamaian yang disampaikan oleh orang nomor satu di  Al-Azhar, Grand Syaikh Dr Ahmad at Thayyib di depan para pemuka agama. Menurutnya, langkah tegas bagi setiap kelompok kekerasan mengatasnamakan ajaran agama, harus ditindak agar kekerasan yang terjadi hampir di setiap wilayah konflik tidak terjadi lagi di masa depan.

“Saya ingin menegaskan bahwa apa-apa yang disampaikan oleh Islam tentang perdamaian yang demikian juga ditemui dalam di dalam Nasrani dan Yahudi. Hal itu disebabkan karena akidah yang saya terima dari Alquran mengajarkan kepada saya bahwa risalah Isa, Musa, Ibrahim, Nuh dan risalah Muhammad merupakan rangkaian terakhir dari satu mata rantai agama yang sama yang dimulai dari Adam dan diakhiri oleh Nabi Islam (Nabi Muhammad SAW),” papar Grand Syaikh.

Tokoh yang dinobatkan sebagai ulama nomor wahid di dunia oleh The Royal Islamic Strategic Studies tersebut berpandangan bahwa risalah kenabian dari awal turun sampai yang terakhir dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sejatinya tidak pernah berubah dari segi substansinya, yaitu agama selalu  membawa pesan-pesan ketauhidan dan perdamaian. Perbedaan yang terletak pada segi syariah amaliyyah (praktis) tidak boleh dijadikan sebagai alat pemicu konflik, karena jelas praktek kekerasan sudah menyalahi misi agama sebagai rahmat bagi sekalian alam.

“Risalah-risalah ini, dari awal sampai akhir, memiliki kesamaan dalam isi dan substansinya dan tidak ada perbedaan kecuali hanya pada persoalan syariah amaliyyah (praktis) yang berubah-ubah. Setiap risalah memiliki syariah amaliyyah yang mengikuti kepada zaman, tempat, serta penganutnya. Dan bahwasanya Alquran mengakui perbedaan keyakinan, bahasa, dan warna kulit di antara manusia,” jelas ulama kelahiran Qina, Mesir tersebut.

Menurut pimpinan tertinggi Universitas Al Azhar Mesir tersebut hak kebebasan beragama harus dijunjung tinggi oleh pemeluk agama manapun sebagai konsekuensi kehendak Allah SWT yang bersifat mutlak. Sehingga nilai yang harus diciptakan bersama antar pemeluk agama adalah nilai toleransi, di mana setiap pemeluk agama sebagai sesama makhluk ciptaan Allah harus saling menghormati. Segala bentuk konflik dan kekerasan termasuk dalam kategori menafikan kehendak Allah SWT.

“Kehendak Allah SWT lah yang menginginkan hamba-Nya diciptakan berbeda-beda, yang tidak akan berubah dan hilang sampai dunia semua yang berada di atasnya hancur (kiamat). Kenyataan adanya perbedaan agama inilah yang secara otomatis melahirkan hak kebebasan beragama,” pungkas Grand Syaikh.

Selengkapnya IslamRamah.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here