Universitas Bosowa Juara Nasional Berkat Inovasi Air Bersih untuk Pulau Bonerate

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Sebuah inovasi yang lahir dari kegelisahan atas krisis air bersih di wilayah kepulauan berhasil mengantarkan sivitas akademika Universitas Bosowa meraih pengakuan di tingkat nasional. Melalui program “Pengolahan Air Bersih dengan Teknologi Reverse Osmosis (RO) Berbasis Solar Cell di Kepulauan Selayar”, tim Universitas Bosowa sukses meraih Juara I Kategori Dampak Pemberdayaan dan Implementasi Teknologi Inovasi Terbaik pada ajang Seminar Dampak Pelaksanaan Program Mahasiswa Berdampak Tahun Anggaran 2025.

Prestasi tersebut diumumkan dalam kegiatan nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta pada 5–7 Juni 2026. Seminar yang dipusatkan di Amphitarium Gedung KH Ahmad Dahlan Kampus IV UAD tersebut mempertemukan sekitar 60 tim terbaik dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia untuk mempresentasikan inovasi, hasil pengabdian, serta solusi berbasis ilmu pengetahuan yang telah memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Di tengah kompetisi yang mempertemukan beragam inovasi dari berbagai daerah, karya Universitas Bosowa berhasil mencuri perhatian karena tidak hanya menawarkan solusi teknologi, tetapi juga menjawab persoalan mendasar yang selama bertahun-tahun dihadapi masyarakat kepulauan: akses terhadap air bersih.

Program Mahasiswa Berdampak sendiri merupakan inisiatif nasional yang mendorong mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi dalam menjawab berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dari ratusan program yang dijalankan di berbagai penjuru Indonesia, inovasi Universitas Bosowa dinilai sebagai salah satu program dengan dampak pemberdayaan paling nyata, berkelanjutan, dan langsung dirasakan masyarakat.

Di balik penghargaan tersebut, terdapat misi besar yang diusung tim Universitas Bosowa untuk mengakhiri persoalan air bersih yang selama puluhan tahun membayangi kehidupan masyarakat Pulau Bonerate, Kabupaten Kepulauan Selayar.

Sebagai salah satu pulau yang berada dalam kawasan Taman Nasional Taka Bonerate, atol terbesar ketiga di dunia setelah Kwajalein dan Maldives, Pulau Bonerate menyimpan ironi pembangunan yang cukup besar. Di tengah kekayaan sumber daya laut dan potensi wisata kelas dunia, masyarakat setempat masih menghadapi keterbatasan akses terhadap air bersih dan infrastruktur dasar.

Bahkan menjelang delapan dekade Indonesia merdeka, sebagian masyarakat di wilayah tersebut masih harus berjuang memperoleh air layak konsumsi dengan biaya yang tidak sedikit karena pasokan air bersih harus didatangkan dari luar pulau.

Melihat kondisi tersebut, tim Universitas Bosowa menghadirkan solusi melalui teknologi Reverse Osmosis (RO) yang dipadukan dengan energi surya (solar cell) sebagai sumber energi utama. Sistem ini memungkinkan air payau diolah menjadi air bersih layak konsumsi tanpa bergantung pada pasokan listrik konvensional.

Sebagai dosen pendamping program, Dr. Djusdil Akrim, M.M., menjelaskan bahwa proyek ini lahir dari semangat menghadirkan teknologi yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

“Air bersih adalah hak dasar setiap warga negara. Kami melihat masyarakat Pulau Bonerate hidup di kawasan yang memiliki kekayaan alam luar biasa, tetapi masih menghadapi kesulitan memperoleh air minum yang layak. Karena itu kami berupaya menghadirkan solusi yang bukan hanya inovatif secara teknologi, tetapi juga dapat dioperasikan secara mandiri dan berkelanjutan oleh masyarakat,” ungkapnya.

Menurutnya, berbagai teknologi desalinasi sebenarnya dapat diterapkan di wilayah kepulauan. Namun tantangan terbesar sering kali terletak pada kebutuhan energi listrik yang tinggi dan biaya operasional yang tidak murah.

Karena itu, pemanfaatan energi matahari dipilih sebagai solusi yang paling relevan dengan kondisi geografis Pulau Bonerate yang memiliki intensitas penyinaran tinggi sepanjang tahun.

“Kami tidak hanya membangun instalasi pengolahan air, tetapi juga membangun kemandirian masyarakat. Teknologi ini memungkinkan warga memproduksi air bersih sendiri dengan biaya yang jauh lebih murah dan lebih berkelanjutan dibandingkan harus mendatangkannya dari luar pulau,” jelasnya.

Dalam implementasinya, sistem RO berbasis solar cell tersebut mampu mengolah air payau menjadi air bersih yang memenuhi standar kualitas air konsumsi. Kehadiran teknologi ini secara langsung membantu masyarakat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan air dari luar daerah sekaligus meningkatkan kualitas hidup warga.

Keberhasilan program ini juga didukung oleh keterlibatan Dr. Ahmad Swandi, S.Pd., M.Si.P. sebagai tenaga ahli yang berperan dalam pengembangan dan implementasi teknologi di lapangan.

Sementara itu, tim mahasiswa lintas disiplin yang terlibat dalam proyek tersebut terdiri atas:

Fatir Tzahid Jibran (Teknik Lingkungan)
Zulkifli Irwan Dj. Monoarfa (Arsitektur)
Teguh Syaputra (Teknik Kimia)
Ririn Angraeni (Teknik Kimia)

Kolaborasi multidisiplin tersebut memungkinkan program tidak hanya fokus pada aspek teknis pengolahan air, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan, sosial, ekonomi, dan keberlanjutan pemanfaatannya oleh masyarakat setempat.

Selain menghasilkan instalasi pengolahan air bersih yang kini dimanfaatkan warga Pulau Bonerate, program ini juga menghasilkan luaran akademik berupa publikasi ilmiah dan model pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi yang berpotensi direplikasi di berbagai wilayah kepulauan lainnya di Indonesia.

Direktur Direktorat Inovasi, Riset, dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Bosowa, Dr. Ahmad Swandi, S.Pd., M.Si.P., menilai penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa riset dan pengabdian perguruan tinggi dapat menjadi instrumen nyata dalam menyelesaikan persoalan pembangunan.

Menurutnya, keberhasilan sebuah inovasi tidak semata diukur dari kecanggihan teknologi yang dihasilkan, melainkan dari manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Inovasi terbaik bukanlah yang paling rumit, tetapi yang paling mampu menyelesaikan persoalan masyarakat. Ketika warga yang sebelumnya kesulitan mendapatkan air bersih kini dapat memproduksinya sendiri secara mandiri, maka di situlah letak keberhasilan sesungguhnya dari sebuah penelitian dan pengabdian,” ujarnya.

Prestasi ini sekaligus memperkuat posisi Universitas Bosowa sebagai perguruan tinggi yang konsisten mengembangkan riset terapan dan inovasi berbasis kebutuhan masyarakat. Tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga menghadirkan solusi konkret yang mampu menjawab tantangan pembangunan di wilayah pesisir, kepulauan, dan daerah dengan keterbatasan akses layanan dasar.

Dari sebuah pulau kecil di ujung selatan Sulawesi Selatan, inovasi karya sivitas akademika Universitas Bosowa membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dapat menjadi jembatan perubahan. Ketika riset bertemu kepedulian sosial dan teknologi diarahkan untuk menyelesaikan persoalan nyata masyarakat, maka lahirlah karya yang tidak hanya memenangkan penghargaan nasional, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi kehidupan masyarakat di kawasan kepulauan Indonesia. (and/hs)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *