HARIANSULSEL.COM, Jakarta – Prestasi mahasiswa Universitas Bosowa (Unibos) kembali menembus panggung nasional. Adolf Julius Nanlohy, mahasiswa Unibos yang akrab disapa Lius, terpilih sebagai salah satu Google Student Ambassador (GSA) Indonesia 2026 yang memperoleh kesempatan fully funded untuk mengikuti rangkaian agenda nasional Google Indonesia di Jakarta pada 20–22 Agustus 2026.
Kesempatan tersebut menjadi apresiasi atas konsistensi Lius dalam menjalankan peran sebagai Google Student Ambassador, khususnya dalam mendorong literasi teknologi, pemanfaatan kecerdasan buatan, serta pengembangan kepemimpinan digital di kalangan mahasiswa.
Selama tiga hari di Jakarta, Lius mengikuti sejumlah agenda yang mempertemukannya dengan jajaran Tim Resmi Google Indonesia dan Google Student Ambassador dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Rangkaian tersebut meliputi Graduation Google Student Ambassador Indonesia 2026, diskusi eksklusif bersama Tim Google Indonesia, serta office visit dan tour di Kantor Pusat Google Indonesia, Pacific Century Place, Jakarta.
Bagi Unibos, keikutsertaan Lius dalam rangkaian tersebut menjadi capaian yang tidak hanya membanggakan secara personal, tetapi juga menunjukkan bahwa mahasiswa dari perguruan tinggi di daerah memiliki ruang yang sama untuk berkembang, berjejaring, dan mengambil peran dalam ekosistem teknologi nasional.
Salah satu momen yang menjadi sorotan adalah ketika Lius membentangkan bendera Universitas Bosowa di depan Kantor Pusat Google Indonesia. Momen tersebut menjadi simbol bahwa almamater Unibos turut hadir dalam ruang kolaborasi teknologi dan inovasi bersama mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia.
Pencapaian tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang dilalui Lius selama menjalankan program Google Student Ambassador Indonesia 2026. Seleksi program ini diikuti lebih dari 81.800 pendaftar dari 1.900 lebih perguruan tinggi di Indonesia, sebelum para peserta disaring melalui sejumlah tahapan pencapaian.
Perjalanan Lius dimulai dari Tier Rising Star (Top 500 Nasional). Pada tahap tersebut, ia menjalankan sejumlah agenda edukasi, di antaranya The Future Navigator: Membedah Peluang GSA & Transformasi Belajar dengan Gemini dan The Digital Leader: Eksplorasi Peluang GSA & Optimalisasi Gemini bagi Mahasiswa.
Melalui agenda tersebut, Lius memperkenalkan pemanfaatan teknologi dan Gemini kepada mahasiswa sekaligus mendorong mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan untuk tidak merasa terbatas dalam menggunakan teknologi AI sebagai bagian dari proses belajar dan produktivitas akademik.
Konsistensinya kemudian mengantarkan Lius ke Tier Achiever (Top 50 Nasional). Pada tahap ini, ia mengembangkan empat agenda edukasi, yakni The Wise Co-Pilot, The Valid Explorer, The Conscious Mind, dan The Trusted Navigator.
Materi yang dibawa tidak hanya berfokus pada pemanfaatan AI, tetapi juga menyentuh kemampuan prompt engineering, penelusuran literatur ilmiah menggunakan teknologi AI, serta pentingnya etika dan akuntabilitas dalam pemanfaatan kecerdasan buatan di lingkungan akademik.
Puncak perjalanan tersebut dicapai ketika Lius berhasil masuk Tier Trailblazer (Top 40 Nasional) sekaligus menjadi Proposal Winner. Proposal yang diajukannya mendapatkan dukungan dari Google Indonesia untuk pelaksanaan agenda High-Impact bertajuk Gemini A.R.T.S. (Academic Research, Technology, & Smart-Skills) di Community Space Nipah Park Makassar.
Kegiatan tersebut melibatkan lebih dari 150 mahasiswa lintas jurusan dan menggabungkan pembelajaran mengenai Gemini, AI Mode Search, etika digital akademik, pameran karya visual, hingga pemanfaatan NotebookLM untuk membantu proses eksplorasi dan telaah literatur ilmiah.
Bagi Lius, perjalanan sebagai Google Student Ambassador bukan sekadar tentang menguasai teknologi, tetapi bagaimana teknologi dapat dibuat lebih dekat dan mudah diakses oleh mahasiswa dari berbagai latar belakang.
Ia secara konsisten membawa semangat untuk membuka ruang bagi mahasiswa non-IT agar lebih percaya diri mengenal dan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan secara bijak dan bertanggung jawab.
“Bisa berdiri di Kantor Pusat Google Jakarta sambil membentangkan bendera Universitas Bosowa adalah momen rasa syukur yang sulit dilukiskan. Ini menjadi bukti bahwa mahasiswa dari daerah juga mampu memberikan dampak dan diperhitungkan di tingkat nasional.” ungkap Lius.
Menurutnya, kesempatan tersebut juga menjadi pengingat bahwa teknologi seharusnya tidak menjadi ruang eksklusif bagi kelompok tertentu. Justru, mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu perlu memiliki kesempatan untuk memahami dan memanfaatkan teknologi sesuai kebutuhan bidang masing-masing.
Semangat tersebut ia rangkum melalui tiga prinsip yang terus dibawanya selama menjalankan peran sebagai ambassador, yakni Lead, Innovate, dan Inspire—berani memimpin perubahan, berani keluar dari batas zona nyaman, serta mengajak orang lain untuk tumbuh bersama.
Melalui pengalaman yang diperolehnya di Jakarta, Lius berharap mahasiswa Universitas Bosowa semakin berani mengambil kesempatan di tingkat nasional maupun internasional.
“Jangan takut mencoba dan jangan merasa harus sempurna terlebih dahulu. Ambil kesempatan yang ada, terus belajar, dan gunakan teknologi secara etis untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat.”
Prestasi Adolf Julius Nanlohy menjadi bagian dari catatan kontribusi mahasiswa Universitas Bosowa dalam membawa nama almamater ke ruang-ruang nasional. Dari Makassar menuju Jakarta, dari lingkungan kampus menuju ekosistem teknologi global, capaian tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa Unibos memiliki potensi untuk memimpin, berinovasi, dan memberi dampak lebih luas. (and/hs)