Memaknai Lailatul Qadar dalam Konteks Tradisi Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge

0
407

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Lailatul Qadar adalah malam yang sangat dinanti-nantikan oleh kaum muslim di seluruh pelosok dunia. Dimana pada malam tersebut diyakini sebagai malam yang menetapkan berbagai urusan manusia. Berdasarkan teks keagamaan, baik itu sumbernya dari al-Qur’an maupun hadis Nabi, umat muslim berusaha dengan semaksimal mungkin agar bisa mendapatkan malam tersebut.

Di Sulawesi Selatan sendiri terdapat sebuah tradisi membaca surah al-Qadar pada setiap raka’at pertama ketika melaksanakan shalat sunnah tarawih, dan hal ini biasanya dilakukan ketika sudah memasuki malam ke 15 ramadhan hingga akhir ramadhan. Hal ini di klaim sebagai salah satu cara ampuh untuk bertemu dengan kemuliaan malam al-Qadar.

Tidak adanya dalil yang pasti mengenai kapan tepatnya terjadi malam al-Qadar, menuntut umat Islam untuk mencarinya mulai dari awal ramadhan hingga akhirnya. Dalam teks-teks hadis, Nabi saw., hanya memberikan informasi bahwa carilah malam al-Qadar disepuluh terakhir ramadhan, tanpa menyebutkan secara spesifik mengenai malam keberapa. Namun pendapat yang paling kuat, terjadinya malam al-Qadar didasarkan pada hadis ‘Aisyah RA, dia berkata Rasulullah saw., beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda:

الْتَمِسُوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ

Artinya: “Carilah malam al-Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan”
Hal yang senada juga dijelaskan dalam Q.S al-Qadar 1-5. Namun lagi-lagi tidak disebutkan secara pasti tentang kedatangannya. M. Quraish Shihab dalam tafsirnya mengatakan bahwa pada ayat kedua al-Qur’an menggunakan kata tanya وَمَاۤ اَدۡرٰٮكَ yang menunjuk sesuatu yang tidak mudah dijangkau oleh akal pikiran manusia. Walaupun demikian, ulama membedakan antara pertanyaan وَمَاۤ اَدۡرٰٮكَ (wa ma adraka ) dengan وَمَاۤ يُدۡرِٮكَ (wa ma yudrika) yang digunakan oleh al-Qur’an setidaknya pada tiga ayat yang berbeda:

  1. Wa ma yudrika la’alla al-sa’ata takunu qariba (al-Ahzab: 63)
  2. Wa ma yudrika la’alla al-sa’ata qariba……. (al-Syura: 17)
  3. Wa ma yudrika la’allhu yazzakka (Abasa:3)

Penggunaan kalimat wa ma yudrika tersebut, mempertanyakan tentang kedatangan hari kiamat dan berkaitan dengan kesucian jiwa manusia. Secara ekplisit baik al-Qur’an maupun Hadis, Nabi saw., tidak mengetahui kapan datangnya hari kiamat. Hal ini menandakan bahwa ma yudrika digunakan oleh al-Qur’an untuk hal-hal yang tidak mungkin diketahui oleh manusia termasuk Nabi sendiri. Sedangkan Wa ma adraka (sekalipun juga merupakan pertanyaan) namun pada akhirnya Allah swt., menyampaikan kepada Nabi saw, sehingga informasi lanjutan dapat diperoleh dari beliau.

Ketika Q.S al-Qadar dipahami secara kontekstual, maka kita akan mendapati makna yang tidak hanya memfokuskan untuk meraih kemuliaan maupun hal-hal yang berkaitan tentang pahala, akan tetapi kita akan diantar untuk menyelami makna yang tersirat dalam rangka mengamalkan nilai-nilai spritual maupun kemanusiaan.

Jika dikaitkan dengan budaya yang ada di sulawesi selatan, khususnya masyarakat adat bugis makassar, maka memaknai malam al-Qadar tidak hanya sebatas mencari pahala semata, melainkan menanamkan sifat maupun sikap yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini tercermin dari pesan-pesan leluhur yang menuntut untuk mengamalkan nilai-nilai sipakatau, sipakalebbi’, dan sipakainge’.

Sipakatau yang berarti memanusiakan manusia, dengan kata lain sebuah nilai yang mengajarkan kepada kita tentang pentingnya menghargai orang lain serta tidak membeda-bedakannya. Budaya sipakatau suku Bugis itu sendiri memiliki hubungan erat dengan nilai-nilai pendidikan karakter, yaitu nilai religius, toleransi, jujur, peduli sosial dan menghargai prestasi.

Dalam konteks malam al-Qadar, budaya sipakatau mengajarkan kepada kita untuk menghargai setiap malam pada bulan ramadhan tanpa harus membeda-bedakannya. Sebab tidak ada dalil yang pasti mengenai kapan datangnya malam tersebut. Dengan kata lain kita dituntut untuk memaksimalkan ibadah bukan hanya sepuluh akhir ramadhan, sebagaimana yang diyakini oleh sebahagian umat Islam tentang turunnya malam al-Qadar, akan tetapi mulai dari awal ramadhan kita diharuskan untuk melakukan ibadah yang maksimal, mengingat bulan suci ramadhan hanya datang sekali dalam setahun. Olehnya itu umat Islam sudah sepatutnya menghargai kedataangan bulan tersebut, karena mempunyai kemuliaan luar biasa yang tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya. Bahkan Nabi saw., bersabda:
مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَان

Artinya: “Barang siapa yang bergembira dengan datangnya bulan suci Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya atas api neraka”

Dari hadis ini dapat dipahami bahwa dengan bergembira saja Allah memberikan ganjaran haram tubuh kita di sentuh api neraka apa lagi jika setiap malamnya diisi dengan amalan-amalan ibadah, seperti sholat tarawih hingga tadarusan. Dengan demikian kita termasuk orang-orang yang menghargai datangnya bulan suci Ramadhan.

Sipakainge’ , yang mempunyai arti saling mengingatkan. Dalam ajaran orang-orang Bugis terdahulu, sipakainge’ (saling mengingatkan) mengajarkan kepada manusia untuk memiliki keberanian dalam menyampaikan pendapat baik kritik maupun saran. Budaya sipakainge’ memiliki hubungan dengan nilai-nilai pendidikan karakter yaitu demokratis, peduli lingkungan, tanggung jawab, rasa ingin tahu, kreatif dan komunikatif.

Dua kata kunci dari makna sipakainge’ yaitu rasa ingin tahu dan kreatif menjadi dasar kita untuk senantiasa mencari informasi tentang datangnya malam al-Qadar. Tentunya dilakukan dengan cara yang kreatif. Misalnya berinisiatif mengkaji dalil-dalil yang terkait makna malam al-Qadar, baik itu secara tekstual, kontekstual maupun intertekstual. Dengan harapan kita akan menemukan makna yang hakiki tentang malam al-Qadar.

Nilai kuantitas malam al-Qadar tidak lagi menjadi fokus utama ketika melakukan ibadah, akan tetapi yang terpenting adalah bagaimana meningkatkan kuliatas ibadah yang dilakukan setiap malamnya. Bukankah ayat terakhir dari surah al-Qadar memberikan informasi kepada kita tentang adanya salam yang oleh ulama tafsir memaknainya sebagai kebebasan dari segala macam kekurangan apapun bentuk kekurangan tersebut, baik lahir maupun batin, sehingga terbebaskan dari penyakit kemiskinan, kebodohan, dan segala sesuatu yang termasuk dalam pengertian kekurangan lahir dan batin. Dengan begitu kita akan mendapatkan ketentraman serta kedamaian hati yang di yakini oleh sebagian ahli hikmah sebagai pertemuan dengan malam al-Qadar.

Adapun Sipakalebbi  memiliki arti saling memuji, mengasihi, menghargai dan saling membantu. Budaya sipakalebbi lebih mengajarkan kepada manusia untuk menciptakan suasana kekeluargaan yaitu memberikan pujian dan penghargaan kepada orang lain atas usaha atau prestasinya.

Demikian halnya ketika berhasil meraih malam al-Qadar maka Allah akan memberikan ganjaran pahala yang setara dengan seribu bulan. Namun tidak berhenti sampai disitu, dengan dipertemukannya seorang hamba dengan malam al-Qadar, diharapkan mampu mengamalkan nilai-nilai sipakalebbi dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya juga diharapkan mampu merubah sikap yang tadinya menghardik menjadi mengasihi, menghina menjadi menghargai, dan dari sifat mementingkan diri sendiri menjadi peduli kepada sesama.

Memaknai Lailatul Qadar tidak hanya terbatas pada tekstualnya saja, namun secara hakiki kita dapat memaknainya secara kontekstual. Yang mana rahasiah yang tersirat di dalamnya lebih dari sekedar seribu bulan. Ada banyak nilai-nilai spritual maupun kemanusiaan yang dapat kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya menjadi manusia yang senantiasa memiliki sifat maupun sikap sipakatau (saling memuliakan), sipakalebbi’ (saling menghargai), dan sipakainge’ (saling mengingatkan).

Lailatul Qadar juga dilukiskan sebagai salam kedamaian sampai terbitnya fajar dan ini menjadikan hati seseorang yang mendapatkannya selalu damai dan tenteram sehingga mengantar pemiliknya dari ragu kepada yakin, dari kebodohan kepada ilmu, dari lalai kepada ingat, khianat kepada amanat, riya kepada ikhlas, lemah kepada teguh, dan sombong kepada tahu diri .

Wallahu ‘alam bish Shawab

Penulis: Irfan. M.Th.I – Dosen Ilmu al-Qur’an dan Tafsir IAIN Ternate.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here