Opini: Doa Malaikat Jibril (Bagian 1)

0
191

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Tak terasa Ramadan semakin menjauh dari kita, dalam hitungan hari kedepan ia pun akan pamit dengan menitipkan berbagai kemuliaannya. Pesan dan kesanpun mengalir seiring kepergiaannya ditengah kebimbingan umat manusia. Tentunya rasa bimbang yang dimaksud adalah pelayanan kepada tamu agung yang penuh dengan kemuliaan. Di tengah pandemi covid-19 yang melanda seluruh dunia, membuat ibadah ramadan tahun ini terasa kurang lengkap. Umat Islam merasa ada yang hilang pada Ramadhan kali ini, Zdauq (rasa) yang dulu mendiami hati umat Islam ketika menghidupkan bulan ramadanpun mulai memudar secara perlahan. Dengan adanya pembatasan sosial maka secara otomatis kegiatan yang sifatnya rutinitaspun tidak lagi seperti biasanya, termasuk melaksanakan ibadah di masjid.

Meraih kemuliaan bulan suci ramadan bukanlah hal yang mudah, butuh kesabaran yang ekstra apa lagi dalam keadaan saat sekarang ini dan tentunya harus istiqamah hingga akhir. Seperti yang kita ketahui bersama berdasarkan teks al-Qur’an maupun Hadis, bahwa bergembira saja dengan datangnya bulan suci ramadhan maka tubuh kita diharamkan oleh Allah dari api neraka. Apalagi jika setiap malamnya diisi dengan berbagai macam aktifitas ibadah, seperti shalat sunnah tarawih, tadarusan dan lain sebagainya. Tentu pahalanya akan semakin berlipat ganda.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa pernah satu ketika Rasulullah SAW hendak berkhutbah, dan tiba-tiba beliau mengucapkan kata amin, amin, amin. Tiga kali beliau mengucapkan kata tersebut. Setelah beliau turun dari mimbar para sahabatnya bertanya, wahai Rasulullah kami tadi mendengarkan engkau mengucapkan kata amin tiga kali, hal apakah yang menyebabkan engkau mengucapkan hal tersebut. Nabi saw., pun menjawab: sesungguhnya malaikat Jibril tadi mendatangi saya, dan ia minta diaminkan do’anya. Dan malaikat Jibril pun berdo’a

“Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan lalu tidak mendapatkan ampunan, kemudiaan ia meninggal dunia, maka masukkanlah dia kedalam neraka, Allahpun menjauhkannya dari surga, maka aku pun berkata “Amin”. Inilah do’a malaikat Jibril yang pertama. Tentu dengan penuh keyakinan kita bisa berkata pasti do’anya diijabah, sebab yang berdo’a adalah makhluk yang tidak pernah ingkar kepada Allah dan yang mengaminkan adalah Rasulullah saw.

Sungguh betapa banyak kerugian akan didapati oleh orang yang tidak memaksimalkan ibadah dalam bulan ramadhan, mengingat bulan ini hanya datang sekali setahun, dan belum tentu pula kita bisa ketemu dengan Ramadan berikutnya.

Ramadan telah mengajarkan banyak hal kepada kita, termasuk yang paling familiar adalah mengajarkan tentang kesabaran. Sabar berasal dari bahasa arab yang tersusun dari huruf Shad, Ba, dan Ra’ mempunyai arti antara lain: obat yang pahit, batu yang keras, dan tempat yang tinggi. Ketiga arti tersebut mempunyai keterkaitan makna.

Nenek moyang kita terdahulu ketika terkena suatu penyakit, maka kebiasaannya mencari obat tradisional yang terkadang memiliki rasa yang sangat pahit. Misalnya ketika batuk maka biasanya mereka mengambil beberapa helai daun pepaya untuk dimasak kemudian airnya diminum, tentu daun pepaya rasanya sangat jauh dari kata manis. Namun mereka meyakini bahwa semakin pahit obat tersebut maka makin cepat sembuh penyakitnya.

Demikian halnya kesabaran terkadang sangat pahit terasa misalnya dihina dicaci maki dan lain sebagainya. Akan tetapi ketika kita mampu bersabar, maka hatipun akan menjadi tenang, dan tentunya akan memiliki keteguhan hati yang sangat sulit untuk tergoyahkan.

Demikian makna sabar diibaratkan dengan batu yang keras dan sulit untuk terpecahkan. Jika tahapan-tahapan tersebut dapat dilewati dengan ikhlas, maka Allah akan memberikan kedudukan yang terpuji disisinya, yang bahasa agama menyebutnya dengan maqaman mahmudah, itu sebabnya ulama memaknai sabar sebagai tempat yang tinggi (mulia/terpuji).

Dari berbagai makna yang dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan, bahwa kesabaran menuntut ketabahan ketika menghadapi kesulitan, tentu akan ada rasa keberatan atas kehendak Allah, sekalipun pahit tapi tetap harus ikhlas menerimanya, dan dijalani dengan penuh rasa tanggung jawab demi mencapai sesuatu yang baik atau sesuatu yang jauh lebih baik lagi (luhur).

Olehnya itu ramadhan tahun ini tidak seperti biasanya butuh kesabaran yag extra untuk menjalaninya. Bukankah Allah telah mengingatkan kita dalam firmannya QS al-Baqarah 155:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

Terjemah: “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang bersabar”.

Dalam ayat ini cobaan pertama yang Allah berikan adalah berupa ketakutan. Jika dihubungkan dengan konteks kekiniaan, maka kita akan melihat beberapa karakter manusia yang menyikapi suasana pandemi saat ini. Apa yang Allah informasikan terbukti adanya, ketakutan akan tertularnya covid-19 dirasakan oleh hampir semua umat manusia. Bahkan tidak sedikit yang meninggal dunia diakibatkan oleh stres. Perasaan was-was pun turut hadir dalam benak manusia yang mengakibatkan persentase ketakutan mengalami peningkatan pesat di setiap harinya. Cobaan berupa kelaparan pun hampir merata di seluruh pelosok negeri, para pekerja yang terkena PHK membuat perekonomian mereka menurun drastis. Dan hal ini tentu menambah Angka kemiskinan.

Cobaan yang termasuk berat diterima adalah kekurangan jiwa. Dalam artian krisis keimanan juga turut dirasakan oleh sebahagian umat beragama. Dengan adanya batasan sosial, membuat ibadah-ibadah mereka hanya bisa dilakukan dari rumah, tentu bagi umat Islam akan sedikit merasa kurang afdal, apa lagi suasana bulan suci ramadhan yang banyak berakatifitas dimasjid. Adu argumen serta dalil pun menjadi ujung tombak penyelesaian ikhtilaf tersebut, namun tidak semua bisa mencapai yang namanya kesepakatan. Sesuai istilah yang mengatakan kepala boleh sama bulat, rambut boleh sama hitamnya, tapi pemikian belum tentu sama. Bagi masyarakat awam tentu akan semakin bingung untuk memilih pendapat mana yang harus diikuti.

Demikian berbagai cobaan maupun ujian yang melanda negeri kita harus dijalani dengan ikhlas, sebab kita meyakini bahwa akan ada berita gembira yang Allah akan sampaikan kepada umatnya yang mau bersabar. Bahkan Allah memerintahkan malaikat untuk turut menghibur kita. Sebagaimana firman Allah dalam QS Fushilat: 30
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ

Terjemah: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

Demikian do’a malaikat Jibril yang pertama ini semoga menjadi motivasi bagi kita semua untuk tetap bersemangat, dan istiqamah hingga akhir ramadhan demi mendapatkan ampunan dari yang maha Kuasa. Amin ya rabbal alamin.

Penulis: Irfan. M.Th.I – Dosen Ilmu al-Qur’an dan Tafsir IAIN Ternate.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here