Opini: Kumpulan Imajinasi Tentang Intelektual dan Kekuasaan

0
168

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Hujan baru saja reda, meski warna langit malam masih kelabu. Suara ocehan jangkrik bersahutan seolah sedang berlomba membelah heningnya peradaban dari kebisingan dan huru-hara manusia. Pada saat yang sama, panas secangkir kopi dan kepulan asap rokok mulai tak terhindarkan, ingin mencoba mengambil kesempatan dalam kesempitan ruang dan waktu.

Ada banyak imajinasi yang lalu lalang tentang realitas politik yang banal. Salah satunya adalah tentang peran akademi dan akademisi dalam membentuk, mengisi, dan menghiasi banalitas dunia politik praktis ataupun dinamika praktik politik di republik ini. Seperti jangkrik yang sedang mengoceh bersahutan, akademi dan intelektual yang ada didalamnya terlihat seakan berlomba. Tentu bukan untuk membelah peradaban politik Indonesia yang memang telah dan tengah terbelah, namun untuk saling memperlihatkan kepada semua, pada belahan mana mereka sedang berdiri. Atau setidaknya, pada kegalauan level berapa mereka berada.

POSISI INTELEKTUAL

Tiba-tiba khayalan itu buyar, ketika seorang kolega mengirimkan foto sampul sebuah majalah mingguan yang bertajuk tentang kusamnya wajah pendidikan tinggi yang sibuk mengejar peringkat, tapi lupa menghadirkan riset yang berkualitas. Sambil memandangi sampul majalah itu, memori saya kembali melayang tentang betapa gandrungnya pemerintahan kita dulu dengan intelektualitas kaum terdidik untuk merumuskan sendi-sendi pembangunanisme yang berujung pada munculnya kesenjangan sosial di masyarakat. Kemudian menyusul lagi bayangan tentang polemik keterlibatan intelektual dalam tim kepresidenan di republik ini beberapa waktu lalu, yang berkembang secara brutal dan membabi buta, menyandingkan Harvard dengan IKIP, yang tentu saja tidak apple to apple. Dan terakhir, muncul juga bayangan tentang bagaimana para intelektual terkesan berhadap-hadapan dengan intelektual yang lain, alih-alih mengadu dan menguji gagasan, yang terjadi justru saling mengaduk dan menghancurkan reputasi.

Seketika saya teringat dengan mentalitas Bohemian-Bourgeois (Bobos), yang diperkenalkan David Brooks dalam bukunya, Bobos in Paradise: The New Upper Class and How They Got There yang didalamnya berisi cerita tentang kebangkitan kelas terdidik baru di Amerika Serikat yang ia sebut sebagai the new hybrid estabishment. Kelas baru tersebut merupakan gabungan dari spirit kaum Bohemian, yang karakternya lebih dekat dengan dinamika tradisi-moralitas-pengetahuan, sekaligus dekat dengan praktik-praktik industrialisme kaum Bourgeois yang hidup didaerah sub-urban, modern, tapi sekaligus suka juga pergi ke institusi religius seperti gereja, atau masjid.

Sambil mengimajinasikan bagaimana para intelektual mengkaji berbagai persoalan dengan minum kopi, makan roti bakar atau kentang goreng, dan bercanda atau berdebat dengan koleganya disebuah cafe, ujung syaraf saya yang lain, sontak membunyikan alarm tentang posisi para akademisi itu terhadap persoalan yang mereka hadapi dan mereka bincangkan. Sekelebat kemudian, muncul figur Max Lane, seorang Indonesianis pada Murdoch University Australia.

Dalam Social Science and Power in Indonesia, Lane menggambarkan bahwa karakter sebagian besar kaum intelektual Indonesia sebagai akademisi, tidak terbiasa menulis artikel di jurnal akademik, koran, ataupun memiliki kolom pada sebuah majalah internasional seperti halnya pada sebagian besar Indonesianis. Alih-alih menulis di jurnl internasional, mereka justru lebih sering tampil di forum-forum publik di televisi, radio dan berbagai media, bersama dengan para aktor politik, aktivis mahasiswa dan aktivis masyarakat sipil.

Meskipun cara pandang Lane sangat deterministik, namun harus diakui bahwa karakteristik ini merupakan salah satu masalah penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Mengapa? Karena masalah ini bermula dan berakhir pada standing position atau paradigma yang melekat pada kebanyakan intelektual Indonesia dalam melihat berbagai masalah yang terdapat dalam masyarakat. Apakah ia penganut positivistik, ataukah penganut pendekatan kritis. Apakah ia jauh, dekat, atau menjadi bagian dari persoalan masyarakat, atau menjadi bagian dari kekuasaan. Mengutip materialisme historis Marx, posisi para intelektual akan ditentukan oleh situasi sosial mereka. Kesadaran dan idealisme para akademisi, ditentukan dari kedudukan mereka dalam kelas sosial tertentu.

MASA DEPAN INTELEKTUAL

Foucault pernah mengemukakan gagasan, bahwa kekuasaan dapat menghasilkan pengetahuan. Menurutnya, tidak ada kebenaran yang tidak diperdebatkan mengenai karakteristik manusia atau kehidupan manusia. Setiap hal yang kita tahu, merupakan sebuah ekspresi dari model pemikiran atau penjelasan dari yang dominan. Kita tahu karena kita percaya bahwa hal itu benar. Kita percaya pada kebenaran tersebut karena kita belajar di sekolah, atau diceritakan oleh ilmuwan, para pakar teknis, birokrat, dan elit pembuat kebijakan. Masyarakat selalu diorganisasikan dalam kerangka hirarkis dan kesenjangan, termasuk kaum intelek, begitu kata Foucault dalam The Archaeology of Knowledge.

Nampaknya, Brooks kurang jeli dalam mengamati mentalitas Bobos. Bahwa mereka juga ada dii Indonesia, mungkin iya, tapi Bobos Indonesia tidak lahir dari aktivitasnya sebagai intelektual an sich, melainkan karena mereka terpasung oleh mentalitas kolonial yang inheren dalam dirinya. Mendadak hujan mulai riuh mengetuk atap spandex, berusaha mengalahkan nyaringnya ocehan jangkrik malam ini, dan pada akhirnya, para jangkrik pun terdiam, kalah, merenungi nasib dari hempasan hujan yang tidak merata.

Mawang, 2 Februari 2020

Penulis: Arief Wicaksono – Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unibos

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here