Pengalaman Saya Berguru ke Habib Luthfi

0
258

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Cerita ini bermula sejak pertama kali bertemu Abah, sapaan cinta bagi Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya. Awalnya saya hanya melihat ceramah-ceramah beliau melalui channel Youtube. Raut wajah dan mata beliau sejuk sekali. Senyum Abah yang indah mengingatkan saya pada cerita para sahabat Nabi mendetailkan perawakan kekasih Allah itu (Rasulullah). Indah, sejuk, tenang, dan damai, kata-kata inilah yang pertama kali terbesit ketika melihat Abah.

Setiap bulan selalu ada pengajian di Kanzus Sholawat, Markas Besar (Mabes) Abah di Pekalongan, Jawa Tengah. Para jamaah menyebutnya Pengajian Rutin Kliwonan. Kami dari Jogja biasanya menghadiri pengajian itu, alhamdulillah rutin. Namun sesekali, sebagian dari kami ada yang tidak bisa berangkat ke sana karena masalah sepele keduniaan. Meski demikian, kami tetap berusaha berangkat ke sana. Kami senang sekali di Kanzus Sholawat. Entah apa yang membuat kami senang. Saya tidak bisa menerangkannya, yang pastinya sangat senang.

Bagi saya, belajar menjadi santri Abah tidaklah mudah. Jangankan itu, belajar menjadi seorang santri saja tidak mudah. Jujur, saya sendiri tidak pernah mengunyah dunia pesantren. Saya tidak tahu apa itu kitab kuning. Yang saya tahu, pesantren identik dengan Nahdlatul Ulama (NU), pendirinya Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari. Saya pun baru mengenal cucu pendiri NU itu, waliyullah Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) melalui Cak Nur (sapaan akrab Nurcholish Madjid) setelah membaca buku Islam: Doktrin dan Peradaban

Saya juga tidak paham denyut pemikiran Imam al-Ghazali. Saya baru bersentuhan dengan sufi besar itu melalui ceramah live streaming Gus Ulil Abshar Abdalla di akun Facebook pribadi beliau. Saya juga tidak mengenal tafsir Al-Qur’an yang khas—saya baru kenal melalui Gus Baha (KH Bahauddin Nursalim). Jadi pengetahuan saya tenang khazanah Islam sangat minim, apalagi bicara tarekat, “bleng”, saya tidak tahu sama sekali. Tapi NU memberikan warna tersendiri dalam hidup saya. Indah dan sejuk. Jauh dari benang merah NU, saya tidak peduli, yang penting bagi saya ialah sama-sama Muslim Indonesia, atau dalam jabaran KH Said Aqil Siroj adalah Islam Nusantara. Meskipun jauh dari panggang, alhamdulillah sedikit-sedikit masih terciprat nuansa NU, yakni lewat kebiasaan tahlil dan ziarah kubur.

Abah, awalnya yang saya tahu, adalah orang Arab. Terlihat dari perawakan beliau demikian adanya. Mungkin ini pertama kali perkenalan saya dengan Abah secara dhahir. Yang saya tahu hanya sepintas adalah itu. Setelah mendengar ceramah-ceramah beliau tentang “NKRI harga mati!”, saya sempat kaget, rupanya beliau bukan sekadar orang Arab, tapi orang Indonesia tulen. Beliau beberapa kali mengumandangkan persatuan dan kesatuan. Luar biasa. Secara pemikiran, saya tidak bisa mengartikan hal ini secara batin, tapi saya sepemikiran dengan beliau, tulen-asli. Mulai dari sinilah saya mendekatkan diri ke Abah. 

Perjalanan saya berlanjut setelah melihat kawan-kawan saya yang mulai masuk dunia tarekat. Mereka saya perhatikan setiap minggu sekali—malam Jumat—pergi ziarah ke makam para wali. Ada yang ke Syekh Belabelu Parangtritis, serta ada pula yang ke Gunungpring, Magelang. Cerita mereka ingin mengejar berkah disertai tawasul melalui Abah ke Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Mendengar cerita mereka, saya dengan mantap langsung memutuskan untuk mengikuti langkah mereka. Pikiran sederhana saya adalah karena tawassul ke Abah. 

Menyesuaikan dengan rutinitas yang sebelumnya belum pernah saya lakukan sama sekali, adalah awal kondisi ketika saya mulai berkenalan dengan Abah. Rutin pergi ziarah kubur dan lain-lain. Untungnya jamaah kami dibimbing seorang mursyid (guru) bernama Gus Hafidz Rusli perihal tarekat. Gus Hafidz Rusli berguru ke Mbah Gondrong Kudus, yang berguru ke Abah Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Pekalongan. Jadi secara sanad keilmuwan, insyaallah sampai. Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammad

Berangkat ke Kanzus Sholawat (Mabes) Abah di Pekalongan. Detak jantung berdegup kencang. Terlintas di pikiran, pokoknya sampai di Mabes langsung bertemu dengan Abah, cium tangan beliau, dan minta berkah. Perkiraan saya rupanya salah. Ternyata selama di Kanzus, kami harus shalawatan dari pukul 06.35 pagi sampai 09.00 WIB. Setelah itu dilanjutkan dengan ceramah Abah sekitar 30 menitan, sangat menggetarkan. Beliau menyerukan persatuan, luar biasa. Selepas itu, barulah bisa bertemu dengan Abah. Mulai dari lansia sampai balita, berjejer rapi sambil bersimpuh menemui Abah. Mencium tangan beliau sebagai tanda ‘ngalap’ berkah. 

Jamaah Abah sangat banyak. Mulai dari balita sampai lansia. Uniknya selama di Mabes Abah, saya tidak pernah mendengar sedikit pun tangisan bayi. Padahal dengan kondisi jamaah yang begitu padat, secara alamiah, seharusnya ada tangisan bayi. Tapi tidak terdengar sama sekali. Aneh. Hal ini, pikir saya, mungkin sebagai tanda kemuliaan beliau, Abah Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya. 

Ada satu hal yang saya peroleh dari Abah adalah tarekat nasionalisme beliau. Sungguh luar biasa dan menggetarkan. Saya haqqul yakin, pemikiran beliau sudah pasti menerobos sampai ke langit ketujuh dan menukik tajam menyentuh sanubari khalayak insan. Semua malaikat pasti tahu dan setuju dengan pendapat beliau. Memang di era sekarang ini, apa pun masalahnya, solusinya cuma satu yakni persatuan. Persatuan dapat menjaga keseimbangan kosmos. Bukankah hal ini merupakan perintah Allah melalui rasul-Nya? Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammad. Semoga kasih, sayang, dan cinta ini selalu tercurahkan kepada Abah Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya. Âmîn.

Muhammad Kashai Ramdhani Pelupessy, asal Kota Ternate, Maluku Utara; sedang studi S2 Psikologi di Universitas Negeri Yogyakarta

Sumber: Artikel ini pertama kali terbit di NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here