Siri’ na Pesse dan Toddopuli Temmalara: Daya Tarik Nilai dan Keteguhan Komitmen

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Dalam kebudayaan Bugis-Makassar, siri’ na pesse bukan sekadar ungkapan moral yang diwariskan secara turun-temurun. Ia merupakan nilai yang hidup, tumbuh, dan bekerja dalam relasi sosial. Siri’ menyangkut kehormatan, harga diri, dan martabat; sementara pesse menghadirkan kepekaan terhadap penderitaan dan keadaan orang lain. Keduanya membentuk suatu etika sosial yang tidak bekerja secara sepihak, melainkan melalui proses yang alami dan bersifat timbal balik.

Siri’ na pesse bekerja seperti hukum daya tarik-menarik: yang memiliki kesamaan nilai cenderung saling mendekat, saling memahami, dan saling menguatkan. Sesama siri’ akan menemukan ruang kebersamaan; sesama pesse akan mudah merasakan penderitaan yang sama. Bukan karena selalu direncanakan, tetapi karena ada kesamaan getaran nilai, pengalaman, dan cara memandang kehidupan. Dalam pengertian sederhana, sesama menarik yang sesama.

Daya tarik itu semakin kuat ketika seseorang berada dalam ruang kebersamaan yang terus-menerus. Mereka yang berasal dari akar budaya yang sama, memiliki sejarah sosial yang berdekatan, atau tumbuh dalam lingkungan yang serupa, biasanya memiliki cara pandang dan rasa yang relatif mudah dipertemukan. Demikian pula mereka yang memiliki kesamaan gagasan dan ide, kesamaan nasib, pengalaman hidup, keadaan psikologis, lingkungan kerja, perjuangan, bahkan hobi, akan menemukan titik temu yang membuat hubungan menjadi semakin erat.

Karena itu, kebersamaan bukan hanya melahirkan kedekatan secara fisik, tetapi juga membangun resonansi batin. Orang-orang yang sering bersama akan saling mengenali bahasa, gestur, cara berpikir, bahkan diam sekalipun. Dari sinilah solidaritas tumbuh. Pesse membuat seseorang mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain, sementara siri’ membuatnya merasa terpanggil untuk menjaga kehormatan, martabat, dan kebaikan bersama.

Namun, siri’ na pesse tidak berhenti pada rasa kebersamaan. Nilai tersebut membutuhkan sebuah sikap yang lebih tinggi, yaitu toddopuli temmalara. Toddopuli temmalara dapat dimaknai sebagai keteguhan hati untuk tetap berdiri pada sesuatu yang diyakini sebagai kebaikan dan kebenaran. Ia adalah keberanian untuk tidak mudah bergeser hanya karena tekanan, kepentingan, godaan, atau perubahan keadaan.

Dalam perspektif ini, toddopuli temmalara adalah bentuk konkret dari keyakinan yang telah menemukan pijakannya. Apa yang diyakini baik dan benar tidak cukup hanya diucapkan; ia harus diwujudkan dalam sikap istiqamah, konsisten, teguh pada janji, dan setia pada komitmen. Keyakinan itu mencapai tingkat haqqul yaqin: bukan sekadar mengetahui bahwa sesuatu benar, tetapi memiliki keteguhan batin untuk mempertahankannya.

Keteguhan tersebut tentu memiliki konsekuensi. Orang yang memegang toddopuli temmalara tidak selalu memilih jalan yang mudah. Ia mungkin kehilangan kenyamanan, berhadapan dengan tekanan, bahkan harus berjalan sendirian ketika orang lain memilih bergeser. Tetapi justru di situlah kualitas nilai diuji. Komitmen tidak diuji ketika keadaan mudah; komitmen diuji ketika mempertahankannya menuntut pengorbanan.

Dalam kehidupan sosial dan organisasi, siri’ na pesse dan toddopuli temmalara menjadi pasangan nilai yang penting. Siri’ na pesse membangun ikatan kebersamaan, sedangkan toddopuli temmalara menjaga keteguhan arah. Yang pertama membuat manusia saling mendekat dan merasakan; yang kedua membuat manusia tidak mudah meninggalkan nilai yang telah diyakini.

Maka, orang yang memiliki siri’ na pesse tidak semestinya mudah meninggalkan mereka yang telah menjadi bagian dari perjuangan bersama. Dan orang yang memiliki toddopuli temmalara tidak semestinya mudah mengubah sikap hanya karena perubahan kepentingan. Ia tetap mampu membedakan antara kesetiaan kepada manusia dan kesetiaan kepada nilai. Kesetiaan tertinggi bukanlah kepada kepentingan sesaat, melainkan kepada apa yang diyakini sebagai kebenaran, kebaikan, kehormatan, dan kemaslahatan bersama.

Siri’ na pesse mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendirian. Kita saling memengaruhi, saling menarik, dan saling membentuk. Kesamaan asal-usul, budaya, gagasan, pengalaman, nasib, lingkungan, dan perjuangan dapat menjadi energi yang mempertemukan manusia. Sementara toddopuli temmalara mengajarkan bahwa setelah menemukan nilai dan jalan yang diyakini benar, seseorang harus memiliki keberanian untuk tetap teguh menjalaninya.

Siri’ na pesse mempertemukan hati; toddopuli temmalara meneguhkan langkah. Yang satu melahirkan kebersamaan, yang lain menjaga kesetiaan. Dan ketika keduanya bertemu, lahirlah manusia yang bukan hanya tahu apa yang benar, tetapi juga berani berdiri teguh untuk mempertahankannya, dengan segala akibat dan konsekuensinya.

Wallahu A’lam Bissawab

Penulis:  Zaenuddin Endy – Direktur Pangadereng Institute (PADI)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *