HARIANSULSEL.COM, Makassar – KASYAF, novel karya Pepi Albayqunie, hadir sebagai karya fiksi bergenre sufistik-surealis yang mempertemukan pengalaman spiritual, realitas sosial, konflik keagamaan, dan pertarungan politik dalam satu kisah.
Pepi Albayqunie merupakan penulis yang konsisten menjadikan data penelitian sebagai salah satu basis dalam penulisan karya-karyanya. Meskipun Kasyaf merupakan karya fiksi yang sepenuhnya disajikan dalam bentuk novel, gagasan dan sejumlah realitas sosial yang menjadi inspirasinya tidak lahir begitu saja dari imajinasi. Dalam kata pengantarnya, penulis mengungkapkan bahwa novel ini terinspirasi dari hasil penelitian mengenai kelompok-kelompok aliran keagamaan.
Data penelitian tersebut kemudian diolah menjadi dunia fiksi. Karena itu, Kasyaf tidak dimaksudkan sebagai laporan atau dokumentasi atas kelompok keagamaan tertentu. Ia adalah karya sastra yang menggunakan realitas sosial sebagai pijakan untuk membangun cerita, tokoh, konflik, dan pertanyaan-pertanyaan yang lebih luas tentang manusia dan keyakinannya.
Tokoh utama novel ini adalah Dasira, seorang perempuan yang mengalami epifani. Ia merasa didatangi oleh sosok yang mengaku bernama Jibril. Pada awalnya Dasira menolak dan berusaha memahami pengalaman yang datang kepadanya. Namun, pada akhirnya ia menerima pengalaman tersebut sebagai takdir.
Sejak saat itu, kehidupan Dasira berubah. Ia merasakan kekuatan penyembuhan yang diasosiasikan dengan kemampuan Nabi Isa. Kemampuan tersebut membawanya kepada Anita, seorang perempuan muda yang telah putus asa karena penyakit kulit yang dideritanya. Ketika Dasira berhasil menyembuhkan Anita, kabar tentang kemampuannya menyebar. Simpati masyarakat tumbuh dan pengikut mulai berdatangan.
Namun, penerimaan masyarakat justru membawa Dasira pada persoalan yang semakin besar. Titik paling berat terjadi ketika sosok yang mengaku sebagai Jibril melantiknya sebagai nabi.
Klaim tersebut kemudian tidak hanya mengubah kehidupan Dasira, tetapi juga mengguncang keluarganya. Jabeer, anaknya, bergabung dengan kelompok Islam Salafi dan mengalami pertentangan dengan ibunya. Sementara Zulaikhah memilih tetap berada di sisi Dasira meskipun tidak sepenuhnya menyetujui keyakinan ibunya.
Konflik kemudian berkembang menjadi persoalan publik. Dewan Ulama Kota mengeluarkan resolusi yang menyatakan Dasira sesat. Keputusan tersebut menjadi titik penting dalam pertarungan sosial dan keagamaan yang mengitari Dasira.
Namun, persoalan menjadi semakin rumit ketika agama bersentuhan dengan politik.
Resolusi terhadap Dasira kemudian dimanfaatkan Ridwan dalam pertarungan politik untuk memenangkan pemilihan kepala desa melawan Nurdin. Tuduhan bahwa Dasira menggunakan ilmu hitam untuk membantu kemenangan Nurdin memperlihatkan bagaimana sebuah persoalan keagamaan dapat masuk ke dalam kepentingan politik.
Di sinilah Kasyaf memperlihatkan salah satu lapisan pentingnya: pertarungan agama tidak selalu berlangsung hanya di wilayah keyakinan, tetapi dapat bersinggungan dengan perebutan pengaruh dan kekuasaan.
Agama memiliki otoritas untuk menentukan batas antara yang dianggap benar dan sesat. Politik memiliki kepentingan untuk memenangkan pertarungan. Ketika keduanya bertemu, label keagamaan dapat berubah menjadi kekuatan politik. Sebaliknya, kepentingan politik juga dapat memengaruhi bagaimana sebuah persoalan keagamaan dibaca dan dipertarungkan di tengah masyarakat.
Dengan demikian, Kasyaf tidak hanya berkisah tentang Dasira dan pengalaman spiritualnya. Novel ini juga mengajak pembaca melihat bagaimana keyakinan, keluarga, otoritas keagamaan, masyarakat, dan politik saling berkelindan.
Sebagai novel bergenre sufistik-surealis, Kasyaf bermain di wilayah yang batas antara pengalaman batin dan kenyataan tidak selalu tegas. Pembaca diajak masuk ke dalam pengalaman Dasira tanpa harus dipaksa menerima atau menolaknya. Di situlah ruang refleksi novel ini dibangun.
Kasyaf tidak hadir untuk memberikan jawaban sederhana tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Ia justru mengajukan pertanyaan: ketika seseorang merasa menerima kebenaran dari Tuhan, siapa yang berhak menentukan kebenaran itu? Apa yang terjadi ketika pengalaman spiritual seseorang berhadapan dengan otoritas agama? Dan bagaimana ketika pertentangan tersebut kemudian dimasuki kepentingan politik?
Melalui KASYAF, Pepi Albayqunie mengolah hasil pengamatan dan penelitian terhadap realitas sosial-keagamaan menjadi sebuah fiksi yang membawa pembaca dari pengalaman spiritual seorang perempuan menuju persoalan yang lebih luas: agama, kekuasaan, keluarga, keyakinan, dan manusia yang berada di antara semuanya. (and/hs)