Kemenag Perkuat Ekoteologi, ASN Diminta Jadi Pelopor Gerakan Peduli Lingkungan

HARIANSULSEL.COM, Jakarta — Kementerian Agama (Kemenag) terus mendorong penguatan ekoteologi sebagai salah satu program prioritas. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan kebijakan, peningkatan kapasitas aparatur, hingga aksi nyata untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan.

Penguatan ekoteologi menjadi salah satu pembahasan dalam Breakfast Meeting yang diikuti pejabat Eselon I, II, III, dan IV Kemenag, baik di tingkat pusat maupun daerah, secara hybrid, Selasa (18/8/2026).

Pertemuan tersebut juga diikuti para pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN), Kepala Kanwil Kemenag Provinsi, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten/Kota, serta sejumlah pejabat terkait.

Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Ali Ramdani menjadi pemantik dalam pertemuan tersebut. Ia memaparkan sejumlah langkah yang telah dilakukan Kemenag dalam memperkuat ekoteologi dan moderasi beragama.

“Khusus untuk penguatan ekotologi ijinkan saya menyampaikan bahwa beberapa hal yang telah kami lakukan yang pertama itu adalah menginisiasi pembentukan PMA nomor 606 tentang pedoman penyelenggaraan penguatan Ekoteologi bagi ASN dan kemudian juga diikuti dengan KMA No 607 tentang kelompok kerja (pokja) penguatan Ekoteologi,” tutur pria yang akrab disapa Kang Dhani ini, Selasa (18/8/2026).

Ali menjelaskan, BMBPSDM juga telah menerbitkan panduan implementasi kebijakan Ekoteologi di lingkungan Kementerian Agama. Panduan tersebut telah diluncurkan oleh Menteri Agama dan menjadi salah satu rujukan dalam pelaksanaan program ekoteologi di lingkungan Kemenag.

Selain itu, BMBPSDM memberikan pedoman implementasi ekoteologi sekaligus mengembangkan Modul Pembelajaran Penguatan Ekoteologi yang nantinya dapat digunakan dalam pengembangan kompetensi ASN.

“Dan sebagai pilot project, kami menyelenggarakan lokakarya Ekoteologi bagi pimpinan PTKN, khusus pada para kepala biro. Dan selanjutnya kami juga menyiapkan fasilitas pemantauan dan pelaporan Ekoteologi Kementerian Agama melalui situs pada web BMBPSDM,” tutur Kepala BMBPSDM.

Kemenag Dorong Satker Terapkan Ekoteologi

Sebagai koordinator Asta Protas, BMBPSDM juga mendorong seluruh satuan kerja di lingkungan Kemenag menerapkan prinsip-prinsip ekoteologi dalam aktivitas kelembagaan.

Ali menyebut sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan satuan kerja, seperti menyediakan fasilitas air minum isi ulang, mendorong penggunaan tumbler, serta memperkuat pengelolaan sampah.

“Kita juga sudah menerbitkan panduan implementasi kebijakan ekoteologi Kementerian Agama dan pada sisi lain kita juga telah menerbitkan tafsir Ekoteologi dari Alquran karena kebetulan LPMQ berada di bawah koordinasi dari BMBPSDM. Dan kita mempersiapkan modul penyelenggaraan penguatan Ekoteologi ini yang akan digunakan pada proses-proses pengembangan kompetensi lanjutan. Walaupun perlu kami sampaikan bahwa sampai saat ini baru dilakukan di tahap pilot project,” imbuhnya.

Untuk memastikan pelaksanaan program terdokumentasi dengan baik, seluruh satuan kerja Kemenag diharapkan melaporkan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan ekoteologi melalui fasilitas pemantauan dan pelaporan yang disediakan BMBPSDM.

Pelaporan tersebut diharapkan dapat menjadi basis kompilasi data sekaligus bahan evaluasi terhadap pelaksanaan program ekoteologi pada akhir tahun.

Menag Dorong Ekoteologi untuk Cegah Karhutla

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa ekoteologi merupakan program jangka panjang yang membutuhkan proses dan konsistensi dalam implementasinya. Karena itu, ia meminta jajaran Kemenag terus menggaungkan program tersebut agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara luas.

Salah satu penerapannya, kata Menag, dapat diarahkan untuk mendukung upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Menurutnya, pendekatan spiritual melalui ekoteologi dapat menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan.

Ke depan, Kemenag juga akan menerbitkan Surat Edaran yang secara khusus diarahkan untuk mengantisipasi dan mencegah terjadinya Karhutla.

“Surat edaran ini agar sesegera mungkin dilakukan, agar peran Kementerian Agama juga sangat penting dalam rangka pencegahan pembakaran hutan,” ujarnya.

“Jadi kita sampaikan kepada masyarakat kita jangan lagi ada pembakaran sampah, itu kan secara tradisional masyarakat kita itu membakar sampah. Mau membuka lahan itu dengan membakar lahan, kita sampaikan kepada mereka itu bahwa itu dosa,” imbuhnya.

Menag juga meminta agar pelaksanaan berbagai program prioritas Kemenag di tingkat Kanwil maupun Kankemenag Kabupaten/Kota dipublikasikan secara lebih masif.

Ia mencontohkan program Ekoteologi dan Kurikulum Berbasis Cinta yang diharapkan mampu membentuk kebiasaan baru di kalangan peserta didik, termasuk menumbuhkan kecintaan terhadap sesama manusia dan alam semesta.

Dampak Program Prioritas Perlu Dipublikasikan

Sekretaris Jenderal Kemenag Kamaruddin Amin turut merespons arahan tersebut. Ia meminta agar capaian, outcome, dan dampak dari berbagai program prioritas Kemenag disampaikan secara lebih luas kepada masyarakat.

Menurutnya, publikasi tidak cukup hanya dilakukan di tingkat pusat, tetapi perlu digerakkan secara bersama-sama oleh seluruh jajaran Kemenag di daerah.

“Kita perlu melakukan masifikasi informasi dengan dikoordinasi oleh Biro HKP dengan berkoordinasi dengan unit eselon I terkait. Dan ini dilakukan tidak ahnya di pusat, tetapi di seluruh Indonesia, termasuk di Kanwil, Kankemenag bisa melakukan gerakan masif secara bersama-sama,” pungkasnya.

Penguatan ekoteologi tersebut diharapkan tidak berhenti pada kebijakan dan regulasi, tetapi berkembang menjadi gerakan nyata di seluruh satuan kerja Kemenag. Dengan demikian, nilai-nilai keagamaan dapat semakin terhubung dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan dan membangun kesadaran ekologis di tengah masyarakat. (and/hs)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *