Tafakkur dan Kesejatian Diri (Seri-11)

0
182

HARIANSULSEL.COM, Makassar – “Siapa mengenal dirinya, maka akan mengenal Tuhannya”. Ungkapan di atas sangat popular di kalangan sufi. Konteksnya tantang Zat Allah tak terbatas. Hakekat-Nya tidak bisa dicapai oleh manusia. Mengenalnya melalui tafakkur pada ciptaan-Nya. Termasuk tafakkur pada diri sendiri.

Bertafakkur pada diri, tidak hanya tangga untuk sampai pada makrifat. Tapi juga sebagai kunci kebahagian dan kesejatian diri. Jiwa yang bahagia adalah jiwa yang sejati. Jiwa yang sengsara adalah jiwa yang sakit.

Dulu dan sekarang, semua orang berlomba-lomba mencari kebahagian. Dengan segala bentuk dan cara. Namun, tidak semua menemukan jalannya. Yang kelihatan bahagia pun, tidak selamanya benar-benar bahagia. Kebahagian bertingkat, dan malah ada yang semu.

Tidak sedikit juga ada yang salah kaprah. Larut dalam kemewahan, tapi merasa miskin. Tenggelam dalam kekuasaan, tapi bermental pecundang. Popularitas membunuh karakternya. Keilmuan membuatnya angkuh. Ujungnya adalah kehampaan dan kekeringan batin. satu harapan tercapai, muncul seribu harapan baru. Tiada ujung. Hidup terus dihantui oleh ilusi angan-angan dan pikiran tak bertepi. Akhirnya, jiwa tersiksa dan sengsara. Orang inilah disebut Imam Al-Ghazali sebagai hariis dan mudtarrun (serakah).

Lantas hakekat kebahagian itu apa dan dimana?

Hakekat kebahagian dalam nalar sufi sangat sederhana. Tak bersyarat. Tidak (harus) pada harta, tidak pada jabatan, tidak pada yang lain (Syeikh Al-Palembani). Tapi, pada diri sendiri. Kebahagian ada dalam kesejatian diri (jiwa). Tidak berada di luar darinya. Tidak pada pikiran. Tidak pada fisik, bahkan tidak pada hati. Pikiran, pisik dan hati yang lalai justru penyebab utama kesengsaraan diri itu sendiri. Demikian Syeikh Al-Palembani menambahkan.

Di sinilah pentingnya tafakkur pada diri (anfus). Untuk menemukan kesejatian diri yang sebenarnya. Jati diri yang tidak bertopeng dengan dengan kemunafikan atau keserakahan. Tapi, kesejatian diri yang dimaksud adalah diri (jiwa) yang jernih. Tawadhu. Qana’ah. Tenang: ridha dan diridhoi. Jiwa yang memiliki keteguhan prinsip. Tidak ragu pada kebenaran. Tidak lalai dengan pernak-pernik keduniaan. Itulah nafsun kamilah (sempurna) dalam bahasa Syeikh Ali-Jum’ah.

Unuk mencapai kesejatian itu, butuh proses. Butuh komitmen yang kuat. Apalagi di tengah pengaruh keduniaan yang semakin kilau. Tapi, tidak berarti mustahil. Banyak juga orang berkelimpahan harta, disertai hati yang luas. Banyak penguasa yang adil dan alim. Banyak yang orang terkenal di bumi dan viral di langit.

Mereka inilah yang telah mengenal kesejatian dirinya. Senantiasa merasa faqir (butuh) di depan kekuasaan Allah. Senantiasa tersambung dengan-Nya melalui zikir dan tafakkur. Ia mengenggam dunia, tapi tidak sampai di hati (jiwa yang ridho). Ada dan tidak adanya harta (dunia) tidak berpengaruh. Atau bahkan sudah melupakannya sama sekali (zahid). Karena pada hakekatnya, semakin faqir (butuh) seseorang di hadapan Allah, maka ia akan semakin kaya. Sebaliknya, semakin fakir (butuh) terhadap harta dunia, maka ia akan semakin miskin dan hina.

“Dan puncak kesejatian diri (jiwa) ataupun kebahagian itu, di saat diri (jiwa) tidak lagi membutuhkan selain kepada Allah.!

Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here