Tafakkur Menuju Kesadaran Ekologis (Seri-10)

0
146

HARIANSULSEL.COM, Makassar – … dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang “yang zalim. (QS. Al-Baqarah: 35)

Karena lalai, Adam dan Hawa memetik buah terlarang. Keduanya terusir dari surga. Tempat yang subur dan hijau. Dipenuhi pohon yang rindang. Buah yang mekar. Beraneka ragam rasa. Lalu, keduanya terdampar di tanah yang tandus dan kering di bumi. Dan akhirnya keduanya dipertemuakan di padang arafah, setelah menyesali perbuatannya!

Kisah di atas, imaginatif penuh nuansa simbolik. Mengajarkan kepedulian lingkungan (ekologi). Larangan mendekati pohon adalah simbol kesadaran ekologis. Risalah yang sangat dasar. Ada sejak manusia pertama ada.

Kesadaran ekologis manusia modern saat ini sedang dipertanyakan. Bumi terasa lebih tua daripada umurnya. Hujan menyebabkan longsor. Panas menyebabkan kebakaran. Hilang keseimbangan. Sekan tidak lagi bersahabat seperti dulu. Jangan-jangan, ini adalah akibat ulah manusia (QS.Ar-Rum: 42)?

Hilangnya kesadaran ekologis menyebabkan kerusakan. Yang dulunya rindang kini jadi kering. Yang dulunya subur, kini jadi tandus. Sampah terserak di mana-mana. Tidak ada yang peduli. Belum lagi, keasrian hutang kini terancam dengan tangan-tangan jahil dan lalai. Entah karena, ekonomi, politik, ataupun ataupun kekuasaan (Syeikh Al-Palembani). Yang jelas, kini manusia zalim itu tampil dengan wajah berbeda. Motif yang bermacam-macam. Namun, tetap satu kata: perusak bumi!

Hossen Nasr, salah satu pemikir Islam, menyebutnya fenomena di atas sebagai krisis spiritual. Manusia sedang kehilangan sensititivitas terhadap lingkungan. Krisis lingkungan ini, menurutnya, karena kehilangan harominisasi manusia dengan alam. Manusia cenderung melupakan aspek spiritual kosmos (semesta). Mengakibatkan watak ekploitatif darinya. Tampil sebagai subjek: perusak daripada pemakmur dan alam sebagai objek yang terjarah tak berdaya.

Dalam konteks inilah, tafakkur terhadap semesta (ufuqi) sangat penting. Tafakkur ufuqi meniscayakan lahirnya kesadaran bahwa alam ini adalah tanda kebesaran Allah. Hutan, gunung, sungai, tumbuhan dan hewan semuanya bertasbih Kepada Allah (QS. Al-Isra’: 44). Sama dengan manusia. Kesadaran tersebut pada akhrinya menyata dalam bentuk cara berfikir (paradiqma) peduli lingkungan. Relasi manusia tidak lagi subjek-objek, tapi pola ketersalingan. Manusia membutuhkan lingkungan. Lingkungan membutuhkan manusia.

Inilah kesadaran ekologis-sufistik. Mendesak untuk dikampanyekan di tengah kelalaian manusia. Spirit itu, tidak hanya lahir dari ajaran tasawuf, tapi, sejatinya, sejak Nabi Adam diciptakan. Risalah Alquran dan hadis juga sangat banyak berbicara tentang itu. Lebih 800 ayat berbicara tentang ekologi. Lebih banyak daripada ayat hukum itu sendiri yang hanya sekitar 200-400 ayat.

Hadis Nabi juga demikian, larangan kencing di tempat berlubang dan air tergenang. Buang hajat di bahwah pohon, anjuran menghidupkan lahan mati (ihya al-mawat) dan menanam pohan (zira’ah) adalah segelintir risalah tersirat tentang pentingnya kesadaran ekologis.

Akhirnya, mari memulai dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar. Menumbuhkan kesadaran ekologis. Mengubah pola pikir dan pola hidup. Mengindahkan nasehat Syeikh Al-Palembani. Hidup sederhana, penuh qana’ah (meresa cukup) disertai dengan sakhawa (dermawan). Itu adalah buah dari tafakkur. Penawar hati yang lalai. Penyembuh jiwa eksploitatif.

“Satu biji (pohon) bisa jadi kecil di mata manusia, tapi besar (pahalanya) di sisi Allah”! Selamatkan bumi!

Wallahu A’alam bishaswab

Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here