Tim PKM-PI Unhas Hadirkan AQUATRON, Inovasi Teknologi Pintar untuk Burayak Ikan Cupang

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Tim Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan IPTEK (PKM-PI) Universitas Hasanuddin memperkenalkan AQUATRON Integrasi teknologi Smart Neonatal Intensive Care Unit yang biasanya di gunakan pada bayi manusia, sebuah inovasi teknologi akuakultur mengintegrasikan sistem Internet of Things dan 5 Freedom Animal Welfare untuk menekan angka kematian burayak ikan cupang Inovasi ini dikembangkan untuk menjawab permasalahan nyata di Perdos Betta Farm yang dikelola oleh Arwandi Ashari.

Sebagaimana rilis yang diterima pada Selasa, 25 Agustus 2026, inovasi tersebut dikembangkan untuk menjawab tantangan yang dihadapi mitra dalam meningkatkan tingkat kelangsungan hidup burayak ikan cupang.

Sebelum adanya AQUATRON tantangan besar yang dihadapi bapak Arwandi Ashari yakni, tingkat kelangsungan hidup burayak tertahan di angka 50% dari total 1.000 potensi telur yang menjadi burayak dalam satu kali pemijahan. Sehingga mitra hanya menghasilkan 500 ekor ikan layak jual, membuat mitra mengalami los of profit sebesar 3,4 juta rupiah.

Masalah ini dapat di atasi dengan adanya AQUATRON. Alat ini merupakan perangkat plug and play atau perangkat tidak permanen yang dapat langsung digunakan setelah dipasang. AQUATRON mengadaptasi filofosi neonatal intensive care unit yang biasanya digunakan pada bayi manusia.

AQUATRON dibekali dengan tiga fitur unggulan berbasis digital yang terintegrasi langsung ke dalam aplikasi ponsel penggunanya: Pemantauan kualitas air berfungsi untuk mengawasi kondisi parameter air kolam seperti suhu, tingkat keasaman (pH), dan kadar amonia. Pemberian Pakan Mikro Presisi mengatur distribusi pakan berukuran mikro secara otomatis dan terjadwal. Pencahayaan adaptif yang secara otomatis menyesuaikan intensitas cahaya untuk meniru ritme sirkadian burayak.

Melalui transisi besar dari metode tradisional ke sistem manajemen otomatis berbasis data ini, AQUATRON ditargetkan mampu mendongkrak tingkat kelangsungan hidup (survival rate) burayak secara drastis dari 50 persen menjadi 80%. Peningkatan performa biologis ini diproyeksikan mampu mendorong produktivitas serta meningkatkan margin keuntungan mitra hingga 64% per siklus panen.

Pemilik Perdos Betta Farm, Arwandi Ashari yang berlokasi Jl. Ibnu Khaldun Blok GB.9, Tamalanrea, Makassar, menyampaikan rasa terima kasihnya atas dampak nyata teknologi ini di tempat budi dayanya.

“Terima kasih kepada teman-teman mahasiswa Universitas Hasanuddin karena memperkenalkan AQUATRON. Sebelumnya saya sangat kesulitan dalam hal pemeliharaan burayak, dan alat AQUATRON ini sangat membantu proses budi daya saya, khususnya pada burayak. Saya tidak perlu lagi kesulitan dalam perawatan air dan pergantian air karena di AQUATRON ini bisa otomatis dan tetap menjaga kestabilan akuarium, sehingga membuat burayak saya lebih sehat dan meningkatkan jumlah ikan di tempat budidaya,” ungkap Arwandi. (and/hs)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *