Di Lolai, Terbayang Wajah Para Pejihad Borang

0
124

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Saat saya menyelesaikan coretan ini pada subuh hari, saya menunggu munculnya gumpalan awan untuk bisa berfoto di Lolai Toraja; Negeri di atas awan. Ini pertama kali saya menginjakkan kaki di sini, negeri yang sudah melegenda di seantero negeri, sambil menyelesaikan catatan tentang sesuatu, Borang.

Mungkin banyak yang tidak tahu arti dari kata Borang, di samping memang tidak untuk keperluan orang kebanyakan. Borang adalah istilah yang dipakai untuk laporan tertulis sebagai dasar menentukan level akreditasi sebuah program studi atau institusi pendidikan.

Dalam Borang itulah digambarkan secara rinci arah dan cita-cita mulia yang dituju oleh sebuah institusi pendidikan dan bagaimana arah itu diwujudkan, serta bagaimana proses yang ditempuh untuk mewujudkan obsesi tersebut. Asessor yang datang menilai kesesuaian antara borang dan realitas di lapangan yang menghasilkan penilaian dan menjadi penggambaran dari kualitas pengoperasian sebuah institusi pendidikan, baik dari segi ketersediaan sarana, sumber daya, kualitas kurikulum, tridharma, dan output yang dihasilkan. Singkatnya, borang itulah yang menjadi pijakan kunci dari akreditasi. Dalam perjalanannya, dulu borang itu dikenal dengan 7 standar penilaian, sekarang berkembang menjadi 9 standar, hal itu tentu berefek pada pelaporannya yang semakin rumit. Hasil dari penilaian borang itu, berlaku selama 5 tahun.

Bagaimana Borang itu disiapkan? Pertanyaan ini bisa dijawab secara singkat: dengan jihad atau kesungguhan. Tidak ada borang yang lahir tanpa kesungguhan. Kesungguhan itu dihadirkan bukan hanya untuk mendeskripsikan secara rinci tentang operasionalisasi sebuah jurusan, tapi bagaimana memastikan bahwa penggambaran borang itu sesuai dengan fakta di lapangan, sehingga borang itu tidak bermakna: ‘Bohong dan Ngarang’.

Izinkan saya menggambarkan bagaimana kesungguhan itu dihadirkan. Dibentuklah tim penyusun borang. Tim ini bekerja untuk mengumpulkan data pelaksanaan kegiatan akademik selama 5 tahun. Bila sebuah institusi pendidikan memiliki kemapanan sistem dokumentasi, pengumpulan itu tidak akan menemui kesulitan yang berarti, tetapi tetap membutuhkan keseriusan.

Data yang dikumpulkan harus singkron dan terintegrasi. Penyajian data harus menopang apa yang menjadi visi misi jurusan atau program studi tersebut. Tidak ada data yang tercerai dari upaya menyokong visi tersebut. Ketersediaan data terkait sumber daya, hasil-hasil penelitian, pengabdian, atau kerjasama adalah sesuatu yang tidak mungkin disulap begitu saja.

Upaya menghadirkan data ini dan meramunya menjadi borang sudah pasti membutuhkan keseriusan yang tak terkira. Saya melihat sendiri bagaimana para ketua dan sekertaris Prodi bersama dengan timnya, bekerja tanpa pernah lagi terikat waktu saat menyiapkan borang akreditasi ini, yang aturannya setengah tahun harus ‘submit’ sebelum akreditasi sebuah Prodi berakhir.

Merekalah yang memastikan apakah sebuah program studi masih layak dihuni atau atau malah ditinggal pergi oleh mahasiswanya. Merekalah yang bertaruh apakah sebuah program studi memiliki masa depan untuk para pembelajar, terutama saat pasar kerja bertanya tentang level akreditasi dari tempat belajar mereka. Jeri payah merekalah yang menentukan apakah sebuah prodi bisa lanjut untuk beroperasi atau tidak.

Suatu ketika saya berlalu di sebuah gedung kampus pada malam hari tempat saya menjadi dosen, saya singgah bertanya mengapa mereka masih berada di kampus? Jawabannya: kerja borang. Saat hari ahad saya berjalan ke kampus untuk mengecek situasi kampus di akhir pekan, saya bertemu dengan beberapa dosen muda, dan bertanya kenapa mesti ke kampus, bukankah ini adalah ‘family time’? Mereka menjawab: sedang mempersiapkan borang.

Saya tertegun, para ketua Prodi dan tim borang ini sungguh telah mewakafkan ‘me time’ nya untuk memastikan tanggung jawab mereka menyelesaikan Borang. Mereka sadar bahwa akreditasi itu adalah ‘roh’ untuk mengukur keberlangsungan sebuah program studi. Kesadaran itulah yang membuat mereka mengorbankan segalanya jauh melintasi insentif yang mereka terima yang begitu terbatas.

Akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa ada ragam cara untuk menabur kebermanfaatan dalam kehidupan ini. Di sudut-sudut kehidupan ini ada begitu banyak orang yang berjuang untuk kemaslahatan tapi terlepas dari sorotan kamera popularitas. Ada sekaum manusia yang tidak terekspos tetapi pengabdiannya begitu bermanfaat bagi keberlanjutan upaya mencetak generasi yang tercerahkan.

Saya malu pada mereka, karena mereka begitu siap berkorban tanpa memikirkan pamrih duniawi tapi demi pertaruhan tanggung jawab. Saya takjub pada mereka karena sudah sejak awal mampu memilih medan jihad yang tepat. Mereka adalah pejihad borang, Pejihad pendidikan yang sesungguhnya. Entah karena rasa takjub atau semacam rasa bersalah musabab tak tahu bagaimana harus membalas budi dan jasa atas jerih payah mereka ini, wajah mereka tiba-tiba terbayang di antara gumpalan-gumpalan awan indah yang memenuhi Lolai.

Oleh: Hamdan Juhannis – Rektor UIN Alauddin Makassar, Ketua PW LPTNU Sulsel dan saat ini tercatat sebagai Guru besar bidang Sosiologi Pendidikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here