Opini: Sunnah yang Disalah Pahami (Bagian 2)

0
384

HARIANSULSELCOM, Makassar – Salah satu keistimewaan bulan suci Ramadhan adalah adanya shalat sunnah tarawih yang dikerjakan secara berjamaah di mesjid. Namun beberapa masyarakat masih minim pengetahuan tentang shalat sunnah tarawih. Mulai dari tata cara pelaksanaan, hingga keutamaannya. Alasannya sederhana, bisa di teliti mesjid-mesjid yang ada di Indonesia mengenai cara jama’ahnya melakukan shalat tarawih, ada yang hanya 12 menit selesai 20 raka’at plus 3 raka’at shalat witir, ada yang 10 menit dan bahkan ada yang hanya butuh waktu 7 menit untuk menyelesaikan shalatnya tersebut. Artinya rata-rata tiap raka’at hanya butuh waktu kurang lebih 3 detik.

Sebut saja kabupaten B yang memiliki hampir ratusan jama’ah yang ikut setiap malamnya. Saking tidak inginnya ketinggalan pahala shalat sunnah tarawih mereka rela ikut berjama’ah meskipun masih terbilang lelah dari aktifitas sehari-hari, apalagi diantara jama’ahnya kebanyakan berprofesi sebagai petani. inilah salah satu alasan mengapa melakukan shalat sunnah tarawih tidak lebih dari 12 menit.

Istilah تراويح (tarawih) itu sendiri adalah bentuk Plural (jama’) dari kata ترويحة yang berarti istirahat. Ulama fiqhi mendefinisikan shalat sunnah tarawih adalah shalat malam yang dikerjakan pada bulan suci ramadhan sesudah mengerjakan shalat isya’. Disebut tarawih karena shalat ini mempunyai raka’at dan bacaan yang panjang sehingga dalam melaksanakannya memakan waktu yang lama, dan diselingi dengan istirahat.

Pelaksanaan shalat sunnah tarawih di Indonesia sendiri sangat beragam, ada yang melaksanakan dua raka’at setelah itu istirahat sejenak tanpa zikir, wirid maupun bacaan tertentu lalu lanjut raka’at berikutnya. Dan ada pula yang membaca wirid tertentu disela-sela istirahat sambil menunggu raka’at berikutnya.
Mengenai jumlah raka’atnya pun ulama berbeda pendapat ada yang mengatakan 8 raka’at ditambah 3 rakaat shalat sunnah witir (hadisnya disandarkan kepada ‘Aisyah ra, lihat Shahih Muslim jilid 1 halaman 303). Adapula yang berpendapat 20 raka’at ditambah 3 raka’at shalat witir (lihat penjelasan Wahbah al-Zuhaily dalam kitabnya Figh al-Islam wa ‘Adillatuhu 2/59) sebagaimana yang dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Khattab.

Baca juga: Opini: Sunnah yang Disalah Pahami (Bagian 1)

Namun dibalik perbedaan pendapat tersebut yang paling penting dipahami adalah bukan persoalan jumlahnya, melainkan keutamaannya. Sebab Nabi menegaskan melalui sebuah hadis shahih

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ رواه البخاري (37) ، ومسلم (759) .

Artinya:
“Dari Abu Hurairah sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang melaksanakan shalat pada bulan ramadhan dengan landasan iman dan mengharapakan pahala, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Kalimat قَامَ رَمَضَانَ bisa berarti shalat sunnah tarawih sebagaimana yang dipahami oleh jumhur ulama meskipun pada hadis tersebut tidak disebutkan secara real kata tarwih dan jumlah raka’atnya. Shalat sunnah tarawih tentu sangat dinantikan oleh umat Islam, hal ini bisa kita lihat antusiasme masyarakat dalam menghidupkan setiap malam di bulan Ramadhan dengan shalat sunnah tarawih maupun ibadah-ibadah yang lainnya. Bisa jadi ada orang yang hanya punya kemampuan melaksanakan 2 raka’at, 4 raka’at, 8, 20, atau bisa jadi 36 raka’at sebagaimana yang pernah dilakukan pada masa Umar Ibn Abdul Azis atau mungkin hingga 40 raka’at.

Olehnya itu melaksanakan shalat sunnah tarawih pada hakikatnya bukan terletak pada jumlah raka’atnya, karena bisa jadi kita punya pemahaman yang berbeda. Yang perlu menjadi perhatian khusus adalah adanya tuma’ninah (spasi) dalam setiap gerakan sholat yang kita lakukan dan bacaan ayat-ayatnya sesuai dengan hukum tajwid, bukan membaca ayat dengan tergesa-gesa hingga satu tarikan nafas, tentu hal tersebut sangat jauh dari apa yang telah dicontohkan oleh Nabi SAW, bahkan hal tersebut adalah bahagian dari perbuatan syeitan (Lihat Hadis Abu Ya’la dalam musnadnya dan Baihaqi dalam Sunanul Qubro. Syaikh Albani dalam al Jami’ Ash Shoghir mengatakan bahwa hadis ini hasan).

Namun satu hal yang pasti bahwa setiap ibadah yang kita lakukan dalam bulan suci ramadhan, Allah akan senantiasa melipat gandakan pahalanya, termasuk shalat yang dilakukan secara berjama’ah maupun secara individu (di mesjid/rumah) sebagaimana yang mayoritas masyarakat lakukan saat sekarang ini dikarenakan adanya wabah Covid-19. Semoga berkah ramadhan tahun ini Allah senantiasa mengangkat (menghilangkan) wabah atau penyakit yang telah melanda seluruh negeri khususnya di negeri kita tercinta.

اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَباَءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ (امين يارب العالمين)

Wallahu ‘alam bis sawab.
Penulis: Irfan – Dosen Ulumul Qur’an IAIN Ternate

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here