Wajah Baru Bulan Suci (Catatan 10 Hari Pertama Ramadan 1441 H)

0
355

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Tak dapat dipungkiri bahwa bulan Ramadhan bagi umat muslim seluruh penjuru dunia adalah bulan yang setiap tahunnya dinanti-nanti kedatangannya. Hal ini lumrah, karena memang bagi umat muslim, melalui al-qur’an dan tuntunan hadis nabi Saw, yang disyiarkan oleh para ulama sampai sekarang, meyakini sepenuhnya bahwa ada banyak keutamaan yang dikandung bulan ke sembilan di penanggalan Hijriyah ini. Syi’ar yang disampaikan oleh para ulama, cerdik pandai dan para mubaligh tentang bulan ramadhan suci ini sepertinya telah mendarah daging bagi umat muslim, sehingga kelihatannya tidak wajar manakala sebelum datangnya Ramadhan seseorang tidak mempersiakan diri untuk menyambutnya.

Terkait dengan cara menyambut datangnya bulan Ramadhan, kita sebagai umat yang taat kepada perintah Allah SWT, tentu berbeda cara pandang masing-masing. Tergantung bagaimana tingkat kepekaan kita akan manfaat yang akan diperoleh jika berjumpa dengan bulan Ramadhan.

Tulisan ini tidak untuk menjust tentang siapa yang paling berhak atas sambutan dan perlakuan kita terhadap, bukan pula untuk memberi nilai atas apa yang umat muslim lakukan di bulan Ramadhan, melainkan hanya untuk membuka mata kita bahwa ternyata kesucian Ramadhan begitu sayang untuk dilewatkan tanpa menghasilkan label “la’allukum tattaquun” setelah bersua dengannya (QS. Al-Baqarah: 183).

Pertama, bagi mereka yang merasakan nikmatnya bersua dengan Ramadhan dari sisi ritual, persiapan menyambut ramadhan dilakukan jauh sebelum datangnya Ramadhan itu, yakni dengan pengharapan yang sungguh-sungguh meminta kepada Allah SWT agar dipanjangkan umurnya sampai ramadhan tahun selanjutnya di setiap akhir Ramadhan.

Tak cukup hanya itu, dua bulan sebelum ramadhan yakni di bulan Rajab dan Syaban, mereka pun semakin intens berdoa sebagaimana yang dituntunkan baginda nabi Muhammad Saw, “ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Syaban, dan sampaikanlah umur kami bertemu dengan Ramadhan”, memperbanyak tarbiyah di samping ibadah sunahpun di tunaikan. Mereka inilah yang kemudian mengisi bulan ramadhan dengan memperbanyak ibadah ritual seperti, puasa, tadarus Al-Qur’an, sholat tarawih, sholat tahajud dan ibadah ibadah sunah lainnya sebagimana yang telah disyariatkan.

Kedua, bagi mereka menginginkan mendapat manfaat dari sisi sosial di bulan Ramadhan, maka persiapannya pun beda. Mereka setiap saat mencari rezeki, tentunya yang halal, manakala berlebih, disumbangkannya pun di jalan yang diridhoi. Bahkan adakalanya sisihkan digabung sebagai persiapan bersedekah yang jumlahnya lebih besar, ketika ramadhan tiba. Inilah yang kemudian akan mengisi bulan Ramadhan dengan memperbanyak ibadah sosial seperti Zakat, sedekah menyantuni yang miskin dan yang sejenisnya. 

Ketiga, mereka yang akan mendapat manfaat dari sisi finansial. Baginya, yang dipersiapkan adalah bagaimana mendapatkan keuntungan yang sebanyak mungkin, dengan memanfaatkan kebutuhan masyarakat di bulan ramadhan yang meningkat, baik dari segi makanan, pakaian maupun fashionnya. Mereka inilah yang kemudian kemudian mengisi bulan Ramadhan dengan berjualan kebutuhan pokok masyarakat, termasuk takjil  untuk berbuka puasa di sore hari.  

Keempat, mereka yang berusaha memanfaatkan momentum ramadhan untuk melakukan tindak kriminal. Golongan ini sedikit, tetapi tak dapat menutup mata kita kalo hal itu ada. Mungkin karena kecenderungan manusia itu lebih kepada hal hal yang sifatnya nya kebaikan Sebagimana yang penulis baca dalam buku Prof. Abuddin Nata,  yang berjudul ” akhlak tasawuf dan karakter mulia”, tentang hakikat dan kecenderungan manusia. Apalagi bulan Ramadhan bulan yang sangat di sucikan oleh manusia bahkan yang bukan Muslim sekalipun, mereka inilah yang kemudian sering melakukan tindak kriminal dalam bulan suci seperti, pencurian, jambret dan tindak kriminal lainnya.

Keempat hal ini, lumrah kita temui di masyarakat kita manakala Ramadhan tiba. Mesjid yang dulunya sepi, tiba tiba ramai seramai ramainya. Suara tarhim dan lantunan ayat suci Al-Quran pun menghiasi udara Ramadhan bahkan sampai malam hari. Aktifitas di panti asuhan dipenuhi dengan para dermawan yang membagi makanan dan uang lebih untuk para yatim. Pasar, yang menjadi pusat ekonomi masyarakat, termasuk mall dan minimarket semakin membeludak pengunjungnya. Aktifitas kendaraan di jalan raya  yang tak tahu ujung pangkalnya semakin menambah semaraknya bulan suci, apalagi pada saat akhir Ramadhan, dipenuhi dengan giat mudik untuk kumpulan keluarga di hari raya idul Fitri. Sesekali suasana yang sumringah itu di nodai dengan tindakan pencurian dan jambret yang beraksi.

Keceriaan Ramadhan seperti ini yang membuat  umat muslim selalu rindu hingga senantiasa memanjatkan doa kepada yang maha kuasa agar diberi umur yang panjang. Tetapi, tak jarang pula kita temui sanak saudara kita harus rela memendam rindu dengan Ramadhan, karena ditimpakan sakit atau bahkan harus bergegas menemui Tuhannya lebih awal. Dan suatu saat kita pun pasti mengalaminya. Kita tinggal menunggu giliran saja, sembari mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya agar tidak menyesal dikemudian hari. 

Namun, sepertinya Ramadhan 1441 H yang kita minta kepada Tuhan untuk dipertemukan tahun ini bahkan sejak akhir Ramadhan tahun lalu, agaknya harus dilalui dengan suasana berbeda. Wabah Covid 19 yang sejak awal November 2019 lalu, yang sampai saat ini telah memakan banyak korban jiwa, mengharuskan seluruh umat manusia untuk membatasi aktifitas diluar rumah agar virus Corona ini tidak semakin menggila. Bahkan ada negara negara besar seperti China, Italia dan New Zealand memberlakukan lock down untuk memutus mata rantai penyebaran virus mematikan ini. Di Indonesia, pemerintah sepertinya lebih memilih pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sebagai opsi terbaik, dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Hal ini tentu berdampak pada kegiatan keagamaan yang melibatkan banyak orang, sebagaimana lazimnya di bulan Ramadhan. 

Demi untuk kemaslahatan bersama, maka diambillah langkah langkah pencegahan agar wabah Covid 19 ini cepat berlalu. Meski Wabah seperti ini datang setiap 100 tahun, tetapi Islami sebagai agama “rahmatan lil alamin” tentu tidak akan buta dengan kasus yang menimpa ummat manusia. Kita di Indonesia, lewat fatwa MUI yang isinya menganjurkan umat muslim untuk beribadah di rumah saja, maka tentu keceriaan Ramadhan sebagimana yang telah dipaparkan sebelumnya sepertinyaakan sirna.

Tanggapan masyarakat pun beragam, ada yang setuju ada pula yang tidak. Soal setuju atau tidaknya, penulis tidak akan bahas disini. Yang jelas, kita manusia yang diberi kesempatan untuk hidup di zaman sekarang adalah umat yang beruntung. Berapa tidak,  Allah SWT memilih kita untuk menyaksikan wajah baru bulan Suci Ramadhan yang tentunya berbeda. Dimana kita diharuskan untuk beribadah di rumah bersama keluarga tercinta. 

Masih terngiang di benak kita akan semaraknya bulan Ramadhan tahun lalu. Mesjid mesjid penuh dengan jamaah untuk sholat tarawih setiap malamnya, ruku’ dan sujud bersama sebagai tanda ketaatan kepada sang pencipta. Menjelang buka puasa, kegiatan ngabuburit menjamur di segala penjuru. Pasar tumpah ruah ke jalan dan banyak lagi keceriaan lainnya.

Makanya tak heran, da’i sekelas syekh Ali Jaber yang menyampaikan tausiahnya di salah satu TV swasta nasional, menyerukan untuk mengikuti anjuran pemerintah dan ulama kita yakni dengan beribadah di rumah saja sembari menitikan air mata tanda kesedihan yang begitu mendalam. Yang dulunya sebelum Covid 19 mewabah, tatkala kita mendengar adzan dikumandangkan, maka bergegaslah kita menuju mesjid terdekat, untuk meraih pahala yang melimpah di bulan Ramadhan. Tapi kali ini harus berdiam diri di rumah. Namun, beliau juga menyampaikan kepada kita bahwasanya di masa pandemi seperti sekarang ini pun kita bisa menikmati ramadhan sesuai dengan tuntutan Rasulullah saw. Kita bukan meninggalkan masjid, tetapi demi kemaslahatan bersama, kita harus legowo meninggalkan Sunnah nabiyang satu,menuju Sunnah nabi yang lainnya.

Pandemi Covid 19 ini memberikan kita banyak pelajaran, salah satunya bahwa, ternyata seringkali kita melalui bulan suci Ramadhan hanya dengan mengedepankan materi dan kesenangan duniawi belaka. Banyak di antara kita yang ke mesjid hanya untuk pamer baju baru, sejadah baru, mukena dan agar dipuji banyak orang. Selebihnya kita kembali tidur senyenyak nyenyaknya hingga puasa hampir buka. Banyak diantara kita yang rela mengorbankan waktunya untuk ngabuburit disore hari bersama teman dan rekan sejawat, saking asyiknya hingga sholat Maghrib pun terlewatkan. Banyak diantara kita yang full tarawih di masjid tanpa pernah cek apakah anak istrinya sholat tarawih di rumah atau tidak. Semuanya hanya pamer belaka. Nauzubillah.

Kebijakan ibadah di rumah akibat pandemi Covid 19 ini, menyadarkan kita bahwa setiap Ramadhan tiba, kita seringkali kurang respect dengan janji tuhan akan ampunan-Nya bagi yang berpuasa dan qiyamullail dengan niat yang tulus semata mata karena Allah SWT. Kita lebih memanjakan diri dengan hal hal yang bersifat duniawi yang dibungkus dengan ibadah di bulan suci, yang tentunya mengingkari kesucian Ramadhan itu sendiri.

Kita lupa bahwa selain di mesjid ada pojok rumah yang senantiasa menunggu untuk dihamparkan sajadah tempat bermunajat kepada Tuhan. Memang tak semewah mesjid, tetapi setidaknya menawarkan kekhusyukan. 
Oleh karena itu, walau dengan wajah yang berbeda, ramadhan tetap harus dinikmati dan disyukuri. Satu hal yang pasti, bulan Ramadhan tidak akan mengkhianati pencintanya, jika dia benar benar tulus untuk mengabdi kepada sang maha pencipta, walau dalam kondisi apapun. Wallahu a’lam.

Tubo,14 Ramadhan 1441 H

Penulis: Agustang Kallang – Dosen IAIN Ternate

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here