Opini: The Good Looking Man

0
411

HARIANSULSEL.COM, Ternate – Akhir-akhir ini ramai diperbincangkan pernyataan menteri agama Fachrul Razi tentang radikalisme yang memicu kontroversi, berikut pernyataan beliau pada sebuah acara seminar daring, “Cara masuk mereka gampang, pertama dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan bahasa Arab bagus, hafiz, mulai masuk, ikut-ikut jadi imam, lama-orang orang situ bersimpati, diangkat jadi pengurus masjid. Kemudian mulai masuk temannya dan lain sebagainya, masuk ide-ide yang tadi kita takutkan”

Pernyataan tersebut mengingatkan saya kepada Abdurrahman bin ‘Amr bin Muljam Al-Muradi Al-Tamimi, ia terkenal dengan panggilan Ibnu Muljam yang cirinya mirip seperti yang digambarkan menag, yang hidup di masa sahabat.

Sejarawan Muslim banyak yang menulis tentang Ibnu Muljam, diantaranya Imam al-Dzahabi dalam kitabnya Tarikh al-Islam wa Wafayati al-Masyahiri al-A’lam bahwa Ibnu Muljam merupakan sosok ahli al-Qur’an dan ahli fikih. Selain itu, ia merupakan orang yang rajin beribadah.

Pada masa pemerintahan Khalifah Umar, Ibnu Muljam dikenal sebagai sosok yang sangat rajin beribadah, gemar berpuasa di siang hari, dan tidak pernah melewati malam tanpa tahajjud. Bahasa Arab Ibnu Muljam sangat fasih, lantunan tilawah qur’annya mengagumkan.

Ibnu Muljam belajar qur’an kepada sahabat ternama kebanggan Nabi yang pernah diutus ke negeri Yaman, yaitu Mu’adz bin Jabal. Tidak hanya belajar kepada Muadz bin Jabal, Ibnu Muljam juga pernah mengutus Shabig al-Tamimi untuk menanyakan masalah-masalah yang berkaitan dengan al-Quran kepada Umar. Sehingga secara tidak langsung, ia juga berguru kepada Umar bin Khatab tentang tafsir al-Qur’an.

Bagusnya Hafalan dan bacaan Qur’an Ibnu Muljam membuat khalifah Umar terpukau, beliau mengangkat Ibnu Muljam sebagai pegawai yang bertugas mengajarkan al-Qur’an di Mesir, bahkan beliau memerintahkan kepada Gubernur Mesir yang saat itu dijabat oleh ‘Amr bin ‘Ash untuk memperluas lokasi rumah Ibnu Muljam agar lebih dekat dengan Masjid tempat ia mengajarkan Al-Qur’an.

Ibnu Muljam, The Good Looking Man Hafiz al-Qur’an, belakangan diketahui ternyata terlibat dalam pembunuhan berencana terhadap khalifah ke-4 yang juga merupakan sepupu, sekaligus menantu Nabi Muhammad Ali bin Abi Thalib.

Ibnu Muljam, dalam peristiwa perlakuan kejinya, ia mengayunkan pedangnya ke kepala khalifah Ali sambil membacakan ayat:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاء مَرْضَاتِ اللّهِ وَاللّهُ رَؤُوفٌ بِالْعِبَادِ

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hambaNya.” (Al-Baqarah: 207).

Ibnu Muljam sebetulnya bukan orang jauh di mata Khalifah Ali, ia pernah berperang bersama Ali dalam perang Jamal, juga pergi ke Kufah untuk mengikuti perang Siffin bersama khalifah Ali.

Namun saat perang siffin berakhir, dan disepakati arbitrase antara Ali dan Muawiyah, Ibnu Muljam menyatakan ketidak setujuannya. Ia berpendapat, dengan mengutip al-Qur’an, bahwa kesepakatan yang dilakukan oleh Ali dan Muawiyah tidak sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan Rasul.

Sehingga dengan perbedaan pandangan politiknya, Ibnu Muljam keluar dari barisan para pendukung Ali dan memilih untuk menjadi bagian dari kelompok khawarij.

Apa yang tertulis di atas, jika dihubungkan dengan pernyataan Menteri Agama Fachrul Razi, seharusnya tidak perlu menuai kontroversi, karena fakta sejarah menyebutkan hal itu, terlebih hasil survei terkait masjid yang terindikasi radikalisme pada tahun 2018 yang dilakukan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) menyatakan terdapat 41 masjid yang terindikasi menyebarkan paham radikal. Selanjutnya tinggal pembaca apa mau ikut mengomentari, menyetujui atau bahkan ikut menggoreng perihal pernyataan Menteri Agama.

Penulis: Rahmat – Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Ternate

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here