HARIANSULSEL.COM, Makassar — Silaturahmi antara tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Dalam kesempatan tersebut, Jum’at malam (7/8). Anregurutta KH Baharuddin HS., M.A., Rais Syuriah PWNU Sulawesi Selatan, memberikan Songkok Guru kepada KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin.
Pemberian Songkok Guru tersebut menjadi simbol penghormatan sekaligus persaudaraan antara ulama lintas daerah. Lebih dari sekadar bagian dari busana tradisional, Songkok Guru merepresentasikan identitas, kehormatan, dan tradisi keulamaan masyarakat Sulawesi Selatan.
Bagi Gus Rozin, perjumpaan tersebut memiliki makna penting dalam konteks perjuangan NU memasuki abad kedua. Menurutnya, NU dibangun bukan hanya melalui struktur organisasi, tetapi juga melalui silaturahmi ulama, hubungan kultural, tradisi pesantren, serta pertautan pengalaman dan pengetahuan antardaerah.
Pertukaran simbol budaya dan tradisi dalam pertemuan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana NU memiliki kekayaan tradisi keulamaan yang beragam, tetapi dipersatukan oleh nilai Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah dan semangat khidmah.
Sebagai bentuk penghormatan dan balasan persaudaraan, Gus Rozin memberikan cendera mata berupa sarung batik khas Jawa Tengah serta kitab karya KH MA Sahal Mahfudh kepada Anregurutta KH Baharuddin HS., M.A.
Sarung batik khas Jawa Tengah membawa pesan tentang kekayaan budaya dan tradisi masyarakat Jawa, sementara kitab karya KH MA Sahal Mahfudh menjadi simbol pentingnya warisan keilmuan pesantren sebagai fondasi pengabdian kepada masyarakat.
Pertukaran cendera mata tersebut akhirnya menjadi lebih dari sekadar pemberian barang. Songkok Guru dari Sulawesi Selatan dan kitab Kiai Sahal dari Jawa Tengah mempertemukan dua kekuatan tradisi: penghormatan kepada ulama dan kekayaan budaya di satu sisi, serta tradisi keilmuan pesantren di sisi lain.
Merawat Tradisi, Menyatukan NU
Gus Rozin yang dikenal memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan pesantren dan organisasi NU melihat tradisi keulamaan sebagai salah satu fondasi penting bagi masa depan jam’iyyah. Pengalaman dan pemikiran KH MA Sahal Mahfudh, yang merupakan salah satu tokoh penting dalam perjalanan intelektual Gus Rozin, menjadi bagian dari tradisi keilmuan yang terus dibawa dalam ikhtiar membangun NU agar tetap relevan menghadapi perubahan zaman.
Dalam visi pencalonannya sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Rozin menawarkan gagasan tentang NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat. Visi tersebut berangkat dari keyakinan bahwa transformasi NU memasuki abad kedua tidak boleh berarti meninggalkan akar sejarah dan tradisi organisasi.
Sebaliknya, perubahan harus dilakukan dengan memperkuat kembali fondasi yang diwariskan para ulama dan muassis NU, sekaligus menerjemahkannya untuk menjawab tantangan sosial, ekonomi, politik, pendidikan, teknologi, dan kebudayaan yang terus berkembang.
Dalam kerangka tersebut, menjaga marwah ulama dan pesantren menjadi salah satu agenda penting. Pesantren bukan hanya tempat pendidikan agama, tetapi juga ruang reproduksi ilmu, kaderisasi ulama, pembentukan karakter, serta tempat tumbuhnya kepemimpinan masyarakat. Karena itu, perjumpaan ulama Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah di Makassar juga dapat dibaca sebagai bagian dari ikhtiar memperkuat jaringan keulamaan dan pesantren Nusantara.
Dari Silaturahmi Menuju Kolaborasi
Bagi Gus Rozin, silaturahmi tidak berhenti pada pertemuan simbolik. Hubungan antarpengurus, ulama, pesantren, dan warga NU dari berbagai daerah perlu dikembangkan menjadi kerja sama yang konkret. Pertukaran pengalaman antarpesantren, penguatan pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, pemberdayaan ekonomi jamaah, hingga penguatan kebudayaan merupakan bagian dari potensi kolaborasi yang dapat dikembangkan.
Dalam konteks tersebut, silaturahmi ulama Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah memiliki makna yang lebih luas. Ia menjadi simbol bahwa NU abad kedua harus tetap berakar pada tradisi ulama, tetapi sekaligus mampu membangun jembatan antardaerah dan mengembangkan kolaborasi untuk menjawab persoalan masyarakat.
Songkok Guru yang dikenakan Gus Rozin menjadi simbol penghormatan terhadap tradisi keulamaan Sulawesi Selatan. Kitab karya Kiai Sahal yang diberikan kepada Anregurutta Baharuddin menjadi simbol warisan intelektual pesantren Jawa Tengah. Keduanya bertemu dalam satu semangat: merawat tradisi, memperkuat persaudaraan, dan meneruskan khidmah ulama untuk membangun NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat di abad kedua. (*)