Tafakkur Para Nabi dalam Kitab Anisul Muttaqien (Seri-8)

0
76

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Orang yang selalu bertafakkur, tidak hanya mendapat hikmah (wisdom). Tapi juga menjadi sahib para wali, kekasih para nabi dan saudara para ulama. Demikian Syeikh Al-Palembani menambahkan dalam kitabnya.

Ungkapan itu menggambarkan keutamaan tafakkur. Tafakkur bagi orang saleh adalah sebuah kemestian. Ulama dan para wali melakukannya dalam tiap waktu dan tempat. Dalam tiap peristiwa. Tafakkur itulah yang mengantar pada tauhid dan makrifatullah. Tujuan semua perjalanan spiritual. Maqam yang sangat dirindukan para sufi dalam dunia tasawuf.

Bukan hanya sufi, tafakkur juga amalan inti para nabi. “Makanan para nabi adalah tafakkur”, demikian kata Syeikh Al-Palembani menegaskan. Artinya bahwa sekalipun kenabian itu adalah karunia Allah kepada manusia pilihanya (al-mushtafa). Tidak diraih melalui upaya (al-muktasab). Tapi, sejatinya semua para nabi Allah, adalah orang-orang yang ahli dalam tafakkur. Bahkan tafakkur yang paling tinggi adalah tafakkur para Nabi.

Tafakkur mereka terekam dalam riwayat maupun Alquran. Tafakkur nabi Isa as. misalnya. Dikisahkan, kaum Hawari bertanya kepada Nabi Isa as. “Wahai Rasul Allah! Apakah di atas bumi ini masih ada orang sepertimu? Nabi Isa berkata: Ya. Barang siapa yang ucapannya adalah zikir, diamanya adalah tafakkur (pikir) dan pandangannya adalah I’tibar (menambil pelajaran) maka ia sepertiku.”

Nabi Musa as. juga demikian. Dikisahkan dalam Musnad Ahmad bin Hambal bahwa Nabi Musa pernah ‘kebingunan’. Bingung tentang syukur. “Musa berkata: “Tuhanku bagaimana aku bersyukur kepada-Mu, sedang nikmat yang terkecil yang Engkau letakkan di sisiku, termasuk nikmat-nikmat yang tidak mungkin berbalas dengan semua amalku?. Kemudian Allah mewahyukan kepadanya: “Wahai Musa sekarang engkau telah bersyukur kepada-Ku”.

Kebingunan Nabi Musa karena tafakkur yang sangat dalam. Ia menemukan dirinya dalam ketiadaan dan kehinaan. Penuh keterbatasan. Seluruh amal kebaikan yang ia lakukan, menurutnya, tidaklah berarti dibandingkan nikmat Allah. Ia pun merasa kecil. Tidak sombong dengan ibadahnya. Apalagi merasa paling saleh. Paling suci. Paling dekat dengan Allah. Dan yang lain, sesat dan hina. Tidak!

Kesadaran ini adalah buah dari tafakkur yang berakhir pada rasa syukur. Bukan tafakkur yang berakhir pada kufur. Ketika engkau menemukan dirimu dalam kehinaan, di situlah engkau menemukan kemulian Allah. Sebaliknya, di saat engkau menemukan kemuliaan dalam dirimu, itulah kehinaan yang paling nyata! Salah satu nasehat Syeikh Al-Palembani. Termasuk tanda orang yang lalai adalah mencintai kemuliaan dalam dirinya (hubbul ‘izzah).

Nabi Ibrahim juga sama. Dikenal sebagai bapak monoteisme, agama tauhid. Menemukan hakekat tuhan dengan tafakkur. Kisah itu terekam dalam Alquran (QS. Al-An’am: 75-80). Ia bertafakkur pada fenomena bintang, bulan dan matahari. Semuanya hilang, dan sementara. Tidak layak disembah. Apalagi dipertuhankan. Sama dengan kekayaan, kekuasan, dan ketenaran. Semuanya sementara. Lalai dengannya adalah kesyirikan modern.

Nabi Ibarahim pun menemukan kebenaran pada penyerahan diri secara total kepada zat yang menciptakan seluruh alam. Itulah agama hanif. Agami tauhid.

Demikian, Rasulullah Muhammad Saw. tafakkur di gua hari, menjelang kenabian. Bertafakkur tentang semesta, merenung tentang hakekat dirinya. Mengsucikan hati dari semua penyakit. Berakhir pada kesiapan spiritual menerima wahyu kebenaran. Terjadilah komunikasi aktif antara alam malakut (malaikat Jibril) dengan alam mulki (Muhammad Saw.).

Agaknya inilah konteks yang dimaksud oleh Syeikh Al-Palembani bahwa, “Tafakkur lebih tinggi daripada Ibadah, karena Ibadah seseorang terputus oleh kematian—dengan masuk surga. Sementara tafakkur terus menerus. Dan sesuatu yang ‘abadi’, itulah sumber tauhid dan makrifat.”. bersambung…
Wallahu ‘Alam bishshwaab.

Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here