Diamkan Jemarimu: Memaknai Hadis Nabi di Era Disrupsi

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Di zaman Nabi Muhammad SAW, menjaga lisan adalah salah satu nasihat penting yang sering beliau sampaikan kepada umatnya. Salah satu hadis yang sangat populer berbunyi: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengajarkan kita untuk menjaga setiap kata yang keluar dari mulut, memastikan bahwa ucapan itu membawa manfaat, bukan mudarat. Namun, di era disrupsi saat ini, pemaknaan hadis ini meluas. Kini, “lisan” tak lagi hanya berupa apa yang kita ucapkan, tetapi juga apa yang kita ketik dan bagikan di dunia maya.

Bayangkan, setiap kali jemarimu menekan tombol “bagikan” atau “posting,” itu seperti mulutmu yang berbicara di hadapan banyak orang. Di sinilah relevansi hadis Nabi ini menjadi nyata: jika tidak bisa berkata baik, diamlah. Jika tidak bisa mengetik sesuatu yang bermanfaat, maka tahanlah jemarimu.

Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. Di sana, semua orang bisa menjadi “penyiar,” menyebarkan informasi hanya dalam hitungan detik. Tapi, seiring dengan kemudahan ini, muncul pula masalah: penyebaran berita hoaks, fitnah, dan perdebatan tak berujung. Berapa kali kita melihat berita yang tidak jelas sumbernya menyebar dan menciptakan keresahan? Berapa sering orang berkomentar tentang sesuatu yang bukan urusannya, hanya untuk memancing perhatian atau menambah konflik?

Nabi juga pernah bersabda, “Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah, Malik, Ibnu Hibban). Dalam dunia maya, ini bisa diterjemahkan menjadi memilih untuk tidak ikut campur dalam hal-hal yang bukan urusan kita. Tidak semua berita perlu dibagikan. Tidak semua masalah orang lain perlu dikomentari. Terkadang, sikap terbaik adalah diam, bahkan di dunia digital.

Ada anggapan bahwa diam adalah kelemahan, apalagi di media sosial di mana orang berlomba-lomba untuk “bersuara.” Tapi sebenarnya, diam justru menunjukkan kekuatan. Kekuatan untuk menahan diri dari sesuatu yang sia-sia. Kekuatan untuk menghindari konflik. Kekuatan untuk melindungi diri sendiri dari dosa. Diam di sini bukan berarti apatis atau tidak peduli. Diam berarti bijak dalam memilah mana yang benar-benar perlu disampaikan dan mana yang lebih baik ditahan. Jika yang ingin kita bagikan tidak membawa manfaat, maka diamkan jemarimu.

Bayangkan jika setiap orang hanya membagikan hal-hal baik di media sosial: cerita inspiratif, ilmu yang bermanfaat, atau sekadar kata-kata yang menenangkan. Dunia maya akan menjadi tempat yang lebih damai, penuh dengan energi positif. Kita bisa menjadikan jemari kita sebagai alat untuk berdakwah, menyebarkan kebaikan, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Setiap yang kita ucapkan, tulis, dan bagikan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Dunia maya tidak berbeda dengan dunia nyata. Kata-kata kita tetap memiliki konsekuensi, bahkan jika hanya tertulis di layar ponsel. Maka, sebelum membagikan sesuatu, tanyakan pada diri sendiri: apakah ini benar, bermanfaat, dan perlu? Jika jawabannya tidak, maka lebih baik diamkan jemarimu.

Hadis Nabi tentang berkata baik atau diam adalah pedoman yang abadi, relevan di setiap zaman, termasuk di era digital dan disrupsi saat ini. Mengamalkannya di dunia maya bukan hanya tanda iman, tetapi juga bukti tanggung jawab kita sebagai umat Islam. Mari jadikan media sosial sebagai ladang amal, bukan tempat yang mendatangkan dosa. Karena terkadang, kekuatan terbesar ada pada pilihan untuk diam. Wallahu wa’lam

Penulis: Andy – Dosen IAIN Ternate, Awardee BIB-LPDP Program Doktor UI  Alauddin Makassar

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *