Cerdas Beragama (Seri-14)

0
60

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Ilmu adalah agama. Agama adalah ilmu. Ungkapan Syeikh Al-Qardhawi yang sangat bernas. Terlebih lagi, dalam hiruk pikuk fenemona keagamaan di masa pandemi Covid-19.

Tidak bisa dinafikan, hubungan agama dan ilmu pernah mengalami masa suram. Keduanya dibenturkan. Agama ditampilkan dengan wajah sangar. Mengekang kebebasan berfikir. Copernicus dan Galileo adalah korbannya. Tepatnya, pada Abad ke-16 di Barat.

Agama pun tertuduh sebagai anti kemajuan. Anti ilmu pengetahuan. Puncaknya, ketika agama harus terpasung pada ranah privat (urusan ibadah). Terhempaskan dari ranah publik (dunia). Kita mengenalnya sekularisasi agama pada abad ke-17.

Hubungan agama dan ilmu kembali mencuat pada masa pandemi dewasa ini. Ada gesekan antara keduanya. Kali ini, dimainkan oleh kelompok kecil atau tepatnya oknum. Mereka melihat fenomena virus ini sebagai azab. Atau takdir yang sudah ditentukan oleh Allah. Masalahnya, mereka melupakan peran ilmu (sains) dalam pencegahannya. Cukup berdoa, bertaubat dan banyak beribadah. Sekalipun menyalahi aturan para ilmuan (dokter) untuk psyical distancing (menjaga jarak). Akibatnya, bukan terbebas dari virus, tapi malah mempercepat penyebaran virus tersebut.

Di sisi lain, ada orang yang terlalu mengandalkan kemampuan ilmuanya. Menghadapi virus ini cukup dengan kemampuan sains dan tekhnologi. Tidak perlu melibatkan peran spiritual agama. Agama hanya urusan surga neraka. Akibatnya, banyak orang bunuh diri karena prustasi. Banyak mayat diterlantarkan tanpa penghormatan. Layaknya binatang.

Pada poin inilah, nasehat Yusuf Qardhawi “ilmu adalah agama” sangat kontekstual. Artinya, Islam adalah agama yang sangat ilmiah. Tidak ada pertentangan antara iman dan ilmu. Keduanya saling menguatkan. Tidak ada keimanan tanpa ilmu. Pun tidak ada keberkahan ilmu tanpa iman. Mana mungkin, kita beriman pada Allah, sementara kita tidak mengenal-Nya? Dalam ungkapan yang mashyur. “Agama adalah akal. Tidak ada (nilai) agama bagi orang tidak berakal.” Artinya, iman diawali dengan ilmu. Iman akan terus meningkat, seiring meningkatnya ilmu seseorang.

Pentingnya ilmu dalam Islam juga terlihat pada wahyu pertama. Iqra! Bacalah. Seruan berfikir dan riset. Tidak hanya pada Alquran yang dibaca, tapi juga membaca semesta yang terlihat.

Hal itu dikuatkan dengan konteks ulama yang dimaksud dalam QS. Fatir: 28. Ulama yang takut itu, bukan hanya orang yang ahli dalam agama. Tapi juga mereka yang ahli dalam semua disiplin ilmu. Baik itu sains, sosial maupun ekonomi. Semuanya disebut ulama. Ulama yang semakin takut kepada Yang Maha Tahu seiring dengan penemuan ilmu yang baru.

Dalam konteks pandemi, ulama yang sangat dibutuhkan saat ini adalah ulama ahli virus. Menjadi ahli virus sekarang adalah fadru ain (wajib tiap orang). Bukan lagi fardu kifayah, seperti dulu. Para dokter dan tenaga medis adalah mujahid. Kematiannya adalah syahid. Peran keulamaan mereka, saat ini, lebih mendesak daripada yang lain.

Menyelamatkan satu jiwa, seperti menyelamatkan seluruh jiwa manusia (QS. Al-Maidah: 32).

Sementara, ungkapan “agama adalah ilmu” artinya bahwa agama Islam dibangun atas kesadaran penuh. Tidak pada kebiasan nenek moyang. Tidak pula pada doktrin para pendahulu. Tapi, berpijak pada keyakinan yang benar (QS.Al-Baqarah:111).

Dalam konteks pandemi, Islam melarang taklid buta pada yang bukan ahli virus. Fanatik golongan dengan mengabaikan kebenaran. Islam juga sangat mengecam hoaks yang tak berdasar. Sebaliknya, Islam mencintai keterbukaan berfikir. Fleksibilitas dalam bertindak dan kecerdasan bersosial media.

Akhirnya, kecerdasan beragama di masa pandemi Covid-19, adalah memaksimalkan prosudur ilmiah dari ahli, seraya menguatkan spiritual diri dengan tafakkur.

Maka tak heran jika Syekh Al-Palembani menegaskan bahwa “Orang pintar (alim) lebih mulia daripada ahli Ibadah, karena ahli ibadah membutuhkan orang alim”. Bersambung…

Wallahu A’lam bishsawab!

Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here