Menjadi Manusia Biasa (Seri-26)

0
392

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Menjadi manusia biasa itu, tidak mudah. Lebih mudah menjadi manusia luar biasa. Manusia biasa adalah manusia otentik. Manusia yang menemukan kesejatian diri. Bebas dari kepura-puraan. Hidupnya tanpa embel-embel. Tanpa pernak pernik keduniaan yang melalaikan.

Sebaliknya, manusia luar biasa adalah manusia yang memikat pandangan. Membuat orang terpanah. Terperangah. Namun, bukan karena kecantikan dalam dirinya (inner beauty). Tapi, lebih pada aksesoris keduniaan yang melekat di luar diri. Dan di saat itulah jiwa terus menjerit, kesakitan.

Di masa pandemi Covid-19 saat ini, orang yang paling santai adalah manusia biasa. Mereka terus berdamai dengan dirinya. Bersahabat dengan semesta luas. Tidak tersentuh kecanggihan tekhnologi informasi. Mereka itu para petani dan tukang kebun di kampung-kampung. Tidak pusing dengan kehebohan ancaman virus corona. Bahkan, mungkin, tidak mengerti tentang makhluk ajaib itu.

Sementara, orang paling stress adalah manusia luar biasa. Terbiasa berpoya-poya di luar rumah. Hidup dengan gaya hedonisme. Hanya kesenangan dunia semata. Atau mungkin juga mereka yang terbiasa kerja di luar rumah. Baik artis, pejabat, busnismen, dosen, trainer dan lainya.

Semuanya, tiba-tiba berubah. Dipaksa menjadi manusia biasa. Melakukan aktifitas hidup di luar pada biasanya. Menjadi suami pada istri. Atau istri pada suami. Menjadi orang tua pada anak. Ternyata peran itu tidak mudah. Membuat stress. Apalagi jika selama ini peran itu telah lama ditinggalkan. Tekanan itu lebih besar daripada virus korona itu sendiri.

Demikian hasil penelitian Kang Asep Haerul Gani (Pengasuh Indonesia Psychotherapy Institute), yang disampaikan pada acara Launching Buku Filsafat Pandemi, karya Dr. Lukman S. Thahir, M.Ag., melalui webinar tadi malam (19/05/2020).

Lantas bagaimana cara menjadi manusia biasa?

Menjadi manusia biasa dapat dilakukan dengan dua cara. Cara filsuf dan cara tawasuf. Cara filsuf diwalili oleh filosofi Seneca, sebagaimana yang disunggung oleh Kang Asep. Sementara tasawuf diwakili Syeikh Al-Palembani. Metode keduanya bisa saja berbeda, tapi tujuannya sama. Menjadi manusia bahagia.

Seneca sendiri salah satu filsuf Yunai Kuno hidup pada 1 sampai 65 setelah masehi. Filosofi Seneca juga biasa dikenal filosif stoa (teras). Ajarannya sangat terkenal tentang kebahagiaan sejati. Konsep itu dielaborasi dengan apik oleh Henry Manampiring dalam buku Filosofi Teras (2019). Intinya bahwa kunci menjadi manusia bahagia itu adalah hidup selaras dengan alam.

Menurut filosofi teras, hidup selaras dengan alam dapat tercapai dengan tiga hal:

Pertama, menjadi makhluk bernalar. Poin ini paling dasar yang membedakan manusia dengan binatang. Manusia yang bernalar terus melalukan nilai-nilai kebajikan (virtues) dalam hidupnya. Tanpa bernalar, manusia tak ubahnya dengan makluk berkaki empat. Hanya nafsu mengontrol. Kepuasan jasmaniyah adalah perioritas.

Kedua, menjadi makhluk sosial. Stoisme percaya bahwa manusia adalah makluk sosial (social creatures). Tidak bisa hidup sendiri. Dia adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat. Untuk mencapai kebahagian, hubungan baik dengan sesama harus terjalin. Tanpa skat dan rasa curiga. Sikap ketersalingan dan kesetaran harus dikedepankan. Rasa dominan dan supriotas harus dihilangkan. Melebur dalam cinta dan kasih sayang.

Ketiga, keterkaitan (interconnectedness). Selaras dengan alam mengharuskan pandangan yang luas. Memahami hakekat dan segala peristiwa ini tidak ada yang kebetulan. Semuanya saling terkait. Kejadian hari ini, tidak lepas dari peristiwa masa lalu. Begitupun dengan masa mendatang. Semuanya adalah keteraturan kosmos. Mengikuti hukum alam. Akhirnya, tidak ada yang perlu ditangisi. Tidak ada yang perlu disesali. Semua terjadi sesuai dengan ukurannya. Mungkin itulah takdir dalam bahasa agama. Meyakini takdir, tidak berarti pasrah dengan keadaan.

Terakhir, untuk menjadi manusia biasa dan bahagia adalah memikirkan/melakukan apa yang bisa dikendalikan (di bawah kontrol) kita. Karena pada dasarnya, kebahagian itu adalah rasional.

Bersambung …

Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here