Epistemologi Qur’ani (Seri-15)

0
70

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Agak serius dan teoritis. Hari ini temanya tentang epistemologi. Tepatnya, epistemology qurani. Istilahnya saja sudah tidak biasa. Apalagi isinya. Orang yang kuliah saja, mungkin tidak semua akrab dengan istilah itu, termasuk saya. Apalagi bapak saya yang petani di kampung; hanya sampai kelas tiga SR (sekolah rakyat).

Epistemologi, sederhanya, dikenal sebagai teori ilmu pengetahuan. Tentang cara manusia mengetahui hakekat. Para ilmuan pernah berdebat panjang tentang ‘makhluk’ itu. Antara kaum positivisme dan rasionalisme. Positivisme mengatakan bahwa ilmu itu bersifat indrawi. Panca indra sumber pengetahuan. Yang tidak bisa diindra dianggap tidak ada, termasuk hal yang gaib. Mereka juga sering disebut emperisme.

Kaum rasionalis sebaliknya, akal adalah sumber pengetahuan. Apa yang dipikirkan akal itulah wujud hakekat. Menurutnya, indra terbatas dan relatif. Tidak bisa dipercaya informasinya.

Keduanya berdebat. Seddi cea cau, seddi cea paja (Bugis). Artinya tidak ada hentinya. Saling merelatifkan antara satu dengan yang lain. Tapi, dari keduanyalah ilmu pengetahuan berkempang pesat. Pengaruhnya sampai hari ini.

Lantas, Alquran seperti apa?

Alquran sangat bijak. Tidak menyalahkan yang satu dan membenarkan yang lain. Alquran sangat mengapresiasi keduanya; positivisme dan rasionalisme. Alquran menyeru umat manusia untuk memaksimalkan potensi indra dalam memahami fenomena alam (QS. An-Nahl: 78). Alquran juga mendorong manusia untuk terfikir dengan akalnya, baik melalaui kata tabassur (QS.Az-Zariyat: 20-21); tadabbur (QS. Shad: 29); tafakkur (QS.Al-Jaziyah: 13); I’tibar (QS. Yusuf: 111); tafakkuh (QS. Al-An’am: 65); nazarun (QS. Gafir: 82).

Di saat yang sama, Alquran sangat mencela orang yang tidak memanfaatkan kedua potensi itu (indra dan akal) dengan baik (QS. Al-A’raf: 179). Mereka disebut sebagai orang lalai (gafilin). Lebih hina dari binatang. Ayat itu, sekaligus mengafirmasi bahwa keduanya (indra dan akal) memang terbatas. Indara terbatas pada kebenaran informasinya. Akal terbatas, karena hanya tidak bisa lepas dari bantuan indra. Ia juga tidak mampu memahami semua hakekat realitas ruhaniah (metafisik).

Pada titik ini, keduanya membutuhkan bimbingan wahyu. Wahyu adalah anugrah Allah kepada manusia pilihannya. Manusia yang memiliki hati yang suci dan akal jernih. Manusia yang senantiasa mengsinergikan akal dan hatinya dalam tafakkur. Dengan itu, tersingkap baginya rahasia-rahasia Allah yang tidak diraih oleh panca indra atau akal semata.

Itulah yang membedakan epistemology Barat dengan dengan epistmologi qurani. Epistemologi Qurani menghendaki perpaduan ketiga sumber pengetahuan. Itulah yang telah diraih oleh para ulama sekaligus ilmuan pada masa keemasan Islam. Hafidz sekaligus dokter; Ibnu Sina. Filosof sekaligus mufassir; Imam Ar-Razi. Dan masih banyak yang lain.

Fakta itu sekaligus menafikan dikotomi ilmu pengetahuan. Umum dan agama. Sejatinya, semua ilmu itu bersifat rabbani. Mengantar kepada keimanan kepada Allah. Baik ilmu yang lahir dari tafakkur quraniyah (tafsir, fiqhi dll, atapun semesta (anstronomi, biologi dll.) dan diri manusia (kedokteran dan psikologi). Atau seluruh ilmu yang tak terbatas itu, termasuk ilmu tentang virus corona saat ini.

Dalam pada itu, Al-Jabiri kemudian memperkenalkan tiga bentuk epistemologi dalam Islam. Ia menamainya nalar bayani (teks); nalar burhani (demonstrasi) dan irfani (sufistik). Dua nalar pertama dapat dicapai melalui proses belajar. Interaksi guru dan murid di bangku sekolah. Tapi, yang terakhir, nalar irfani hanya dicapai melalui penajaman mata hati (basiirah). Bukan hanya mata kepala (al-basar). Gurunya disebut mursyid. Ruang kelasnya adalah semesta.

Semakin jernih mata batin seseorang, semakin tersbuka rahasia Allah yang tak terbatas. Itulah yang diraih oleh para nabi, sahabat, tabiin dan sufi.

Lantas, ilmu tentang hari kiamat dan tanda-tandanya, yang lagi viral belakangan ini, itu masuk nalar apa? Bayani, burhani, atau irfani? Atau jangan-jangan ada epistemology baru?

Kali ini Syeikh Al-Palembani pun hanya diam.

Wallahu A’alam bis shawab!

Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here