Ilmu dan Kebodohan (Seri-13)

0
123

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Pindah pada bab dua. Tentang Ilmu (al-Ilmu) dan kebodohon (al-jahlu). Persoalan yang tidak kalah penting dalam tasawuf. Banyak orang yang lalai karena ketidaktahuan. Banyak juga yang tahu (sadar) karena tafakkur. Mungkin itu sedikit hubungan pembahasan ini dengan sebelumnya. Sebagaimana Syeikh Yusuf Al-Qardhawi menyatakan bahwa ilmu itu adalah hasil dari tafakkur.

Ilmu adalah pengetahuan yang sesuai fakta. Atau mengetahui hakekat sesuatu. Di dunia ini wujud sesuatu itu bermacam-macam dan bertingkat. Ada yang dapat diketahui oleh indra. Ada juga yang tidak. Ada nampak (zahir) atau yang tesembunyi (batin). Semua memiliki hakekat yang perlu diketahui. Karena pada dasarnya, semua yang ada adalah tanda kebesaran Allah. Baik yang bersfiat ufuqi (semesta), anfusi (manusia) maupun qurani (alquran).

“Wahai orang Saleh! Ketahuilah bahwa sesungguhnya derajat itu tidak bisa diraih kecuali dengan ilmu.”

Demikian Syeikh Al-Palembani memulai nasehatnya. Seraya menguatkan pandangannya dengan ayat QS. Al-Mujadalah: 11 “Bahwa orang yang berilmu mendapatkan beberapa derajat”.

Pada poin inilah menarik untuk diurai. Hubungan ilmu dan derajat. Derajat apa yang dimaksud? Dan ilmu yang mana yang mengantar pada derajat?

Dalam kitab ‘Al-Aqlu wa al-Ilmu fi al-Quran il-Karim’, hubungan keduanya diuraikan oleh Syeikh Al-Qardhawi dengan apik.

Pertama, bahwa orang berilmu disebut sebagai ahlul khasyah (orang yang takut pada Allah), (QS. Fathir: 28). Keutaman ini sangat istimewa. Di dunia mendapat derajat, di akhirat mendapat surga. Kita semua menjadi saksi kebenaran ayat itu. Allah senantiasa memulikan orang-orang berilmu (ulama) dengan caranya sendiri.

Kedua, orang berilmu sebagai saksi bersama Allah dan malaikat (QS. Ali-Imran: 18). Sebuah kemulian dan penghormatan yang tertinggi dari Allah. Orang berilmu mendapat mandate sebagai saksi. Saksi tentang kalimat tauhid: lailalaha illallahu, tidak ada tuhan selaian Allah. Bersama dengan Allah dan malaikat-Nya.

Ketiga, Adam lebih mulia dari Malaikat karena Ilmu (QS.Al-Baqarah: 30-32). Kisahnya sangat popular. Malaikat adalah ahli Ibadah. Adam adalah ahli ilmu. Allah memuliakan keduanya. Tapi, Allah masih memilih Adam sebagai khalifah karena ilmunya. Dan malaikat pun disuruh bersujud kepada nabi Adam. Ilmu lebih tinggi dari ibadah.

Keempat, para nabi adalah ahlu ilmu. Kisahnya dalam Alquran sangat banyak. Tiap nabi dibekali dengan ilmu. Mulai ilmu tentang dunia maupun akherat. Di antaranya adalah nabi Sulaiman (QS. An-Naml: 15-16) dan nabi Yusuf (QS. Yusuf: 54-55).

Dalam sebuah kisah, Nabi Sulaiman diberikan tiga pilihan: harta, kekuasaan, dan ilmu. Ia pun memlih ilmu. Dan ketiganya ikut dimilikinya. Dialah nabi yang kaya raya. Kekuasaanya tidak hanya pada manusia, tapi juga jin dan para hewan. Semua tunduk di hadapanya. Itu karena ilmu.

Sementara Nabi Yusuf terekam jejaknya dalam surah Yusuf . Selamat dari pembunuhan saudaranya yang dengki. Terhindar dari tipu daya para perempuan istana. Terbebas dari fitnah penjara. Sampai akhrinya menjadi bendahara di kerajaan Mesir. Itu semua karena ilmu.

Itulah kenapa Syeikh Al-Palembani menandaskan bahwa derajat hanya bisa dicapai dengan ilmu. Ilmu yang diamalkan dan dilandasi dengan keikhlasan. Bersambung …

Wallahu A’lam bishsawab

Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here