Himastat Unhas Perkuat Ekonomi Ibu Nelayan Lewat Inovasi Kemasan

HARIANSULSEL.COM, Takalar – Ibu-ibu nelayan pelaku UMKM di Desa Kanaeng, Kecamatan Galesong Selatan, Kabupaten Takalar, kini beralih dari kemasan toples konvensional ke kemasan vacuum yang lebih tahan lama, berkat pendampingan Tim Mahakarya Himastat FMIPA Unhas melalui program pengabdian masyarakat “Lentera Pesisir”.

Selama ini, sambal ikan tongkol produksi UMKM ibu nelayan di Desa Kanaeng dikemas menggunakan toples plastik. Cara ini memang praktis, namun memiliki keterbatasan besar: produk mudah terpapar udara, daya simpan singkat, dan sulit dipasarkan ke luar daerah karena rawan rusak dan pecah selama pengiriman.

Melalui program “Lentera Pesisir: Model Transformasi UMKM Ibu Nelayan Berbasis Data dan Smart Packaging untuk Ketahanan Ekonomi Berkelanjutan di Desa Kanaeng”, Tim Mahakarya Himastat FMIPA Unhas memperkenalkan penggunaan alat vacuum sealer sebagai solusi pengemasan yang lebih modern bagi pelaku UMKM setempat.

Dengan vacuum sealer, udara di dalam kemasan disedot habis sebelum plastik direkatkan rapat, sehingga sambal ikan tongkol tidak lagi bersentuhan langsung dengan udara luar. Perubahan sederhana ini membawa dampak besar: produk menjadi jauh lebih awet, terhindar dari risiko basi dan kontaminasi bakteri, serta memiliki tampilan kemasan yang jauh lebih rapi dan profesional dibanding toples biasa.

“Kalau pakai toples, sambal biasanya cuma tahan beberapa hari sampai satu-dua minggu di suhu ruang. Dengan kemasan vacuum dan minim udara, produk bisa disimpan lebih lama, bahkan berpotensi dijadikan produk frozen food yang bisa disimpan di lemari pendingin dalam waktu jauh lebih panjang,” jelas Alfiah Rupaidah, Ketua Tim, saat sesi demonstrasi alat kepada peserta.

Transformasi kemasan ini sekaligus membuka peluang baru bagi UMKM Desa Kanaeng untuk merambah segmen pasar frozen food — kategori produk olahan beku yang semakin diminati karena kepraktisannya. Dengan daya simpan yang lebih panjang, sambal ikan tongkol tidak lagi terbatas dipasarkan di sekitar desa, tetapi berpotensi dikirim ke luar kota tanpa khawatir produk rusak di perjalanan.

Dalam sesi pelatihan, peserta tidak hanya diperkenalkan pada manfaat vacuum sealer, tetapi juga dibimbing mempraktikkan langsung enam langkah penggunaan alat: mulai dari menyiapkan produk dan plastik, meletakkannya di mesin, mengunci penutup, memilih mode sesuai jenis makanan, menunggu proses vakum selesai, hingga memeriksa hasil akhir kemasan. Tim juga membagikan tips perawatan alat agar tetap awet digunakan dalam jangka panjang.

Ibu-ibu pelaku UMKM yang hadir tampak antusias mencoba langsung mengemas sambal ikan tongkol menggunakan vacuum sealer, sebuah pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah mereka lakukan dalam proses produksi sehari-hari.

Melalui transformasi kemasan ini, Tim Mahakarya Himastat FMIPA Unhas berharap UMKM Desa Kanaeng tidak hanya mampu mempertahankan kualitas produk lebih lama, tetapi juga naik kelas: dari sekadar produk rumahan berkemasan toples, menjadi produk olahan laut siap saji dengan standar kemasan modern yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas. (and/hs)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *