Hampa dalam Kitab Anisul Muttaqien (Seri-19)

0
312

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Ia dikenal Ahli ibadah. Amalan sunah (anjuran) terus dijaga. Amalan wajib tidak pernah dibaikan. Tiap saat, lisannya basah dengan zikir. Mengagungkan Allah dengan kalimat takbir. Memuji kemurahan-Nya dengan tahmid. Mengsucikan-Nya dengan tasbih. Sungguh kesalahennya membuat orang lain iri kepadanya. Dan tidak mudah mencontoh ritual ibadahnya.

Namun, ahli ibadah itu, merasa hampa. Ritual ibadahnya tidak membuatnya bahagia. Zikrinya tidak membuat hatinya tenang. Tidak merasakan kenikmatan dalam ibadah. Tidak pula merasakan manisnya iman. Sebagaimana sabda Nabi.

Ia gelisah. Mulai bertanya dalam dirinya. Mencari kekuarangan. Namun tidak menemukan celahnya. Bisa saja celah itu tertutup oleh dirinya sendiri (nafsu). Tidak mampu melihatnya, karena terlalu dekat. Lebih dekat daripada syaitan. Sehingga, butuh jarak, atau orang lain untuk membantu melihatnya.

Ia pun segera menemui seorang yang dia yakini mampu membantunya. Orang itu dikenal memiliki karomah. Alim dan arif bijaksana. Sekalipun orang itu tidak merasa memiliki itu semua. Itulah Syeikh Abu Yazid Al-Busthami. Salah satu sufi tersohor adab ke III Hijriah dari Persia.

“Ya Maulana, saya sudah lama saya beribadah, namun tidak merasakan kelezatan dalam ibadahku. Tidak menemukan ketenangan di zikirku. Mohon petunjuknya syeikh!, curhat Ahli ibadah itu kepada Al-Busthami.

“Jangan engkau menyembah ibadah! Tapi sembahlah Allah, niscaya engkau akan merasakan kenikmatan dalam ibadah.” Nasehat Al-Busthami kepadanya.

Nama ahli ibadah itu tidak penting. Saya pun tidak mengenalnya. Dalam literature tasawuf, hanya disebut rajulun (si anu). Masih misteri sampai sekarang. Namun demikian, bisa saja rajulun (si anu) itu hadir dalam diri saya. Menyata dalam diri anda. Atau menyapa diri kita semua. Merasa hampa dalam ibadah. Zikir tidak membuat tenang. Salat belum mampu menjaga dari kemungkaran. Sedekah tidak menghalangi dari musibah. Puasa tidak meningkatkan taqwa. Haji tidak meningkatkan spiritual diri, melaikan hanya prestise sosial.

Jangan-jangan karena kita tidak menyembah Allah. Tapi, hanya menyembah ibadah!

Dengan zikir kita merasa ahli zikir. Dengan salat kita merasa yang paling saleh. Dengan zakat kita merasa paling kaya. Dengan puasa kita merasa paling taqwa. Dengan haji kita merasa paling mulia. Tidak! Itu adalah keshyirikan.

Allah bisa saja benci pada hambanya, bukan karena maksiat. Bukan karena melanggar perintah-Nya. Tapi juga karena hamba itu ahli ibadah, tapi tidak tulus. Merasa paling berhak dengan surga dengan amalnya.

Mungkin itulah yang diselalu diwanti-wanti oleh Al-Busthami. Tiga hal yang membuat orang (sufi) terhijab (terhalang) dari Allah. Orang zuhud bangga dengan kezuhudannya. Ahli ibadah riya dengan ibadahnya. Alim (ahli ilmu) lalai dengan ilmunya. Nauzubillah!

Itu adalah penyakit. Kelalaian diri. Obatnya adalah keikhlasan. Melakukan segala sesuatu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah. Bukan karena maksud yang lain. Bukan karena kekuasaan. Bukan karena materi. Bukan karena kepopuleran. Bahkan bukan karena surga dan takut neraka. Tapi karena cinta, ridho dan rahmat-Nya yang selalu didambakan.

“Sesugguhnya salatku, ibadahku, hidupku, matiku, hanya untuk Allah”.

Itulah keikhlasan. Tauhid sejati. Tempat bergantung hanya kepada sifat Ash-shamadiyah dan al-qayyumiyah-nya Allah. Bergantung kepada yang lain adalah kehinaan, termasuk pada ibadah itu sendiri.

Mungkin itulah yang dimaksud Syeikh Al-Palembani “Tiap amal (ibadah) yang tidak disertai keikhlasan adalah kekufuran (kesyirikan).

Wallahu A’alam bishsahwab

Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here