Halal Bihalal, Qasim Mathar Harap Fakultas Ushuluddin Lahirkan Fikih Pandemi

0
190

HARIANSULSEL.COM, Gowa – Masih dalam Nuansa Idul Fitri 1441 H, Fakultas Ushuluddin, Filsafat dan Politik UIN Alauddin Makassar menggelar halal bihalal dengan menghadirkan Prof Qasim Mathar, Guru Besar Pemikiran Islam sebagai pembawa Hikmah halal bihalal dengan tema Ibadah dalam Sains dan Teknologi.

Halal bihalal yang dihadiri oleh puluhan civitas akademika Fakultas Ushuluddin dan Filsafat baik dosen, mahasiswa, pegawai, hingga alumni ini dilaksanakan secara daring melalui aplikasi zoom, Jum’at (29/5). Turut hadir dalam halal bihalal ini Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Hamdan Juhannis, beserta para Guru Besar dari Fakultas Ushuluddin serta Guru Besar UIN Alauddin Makassar lainnya.

Dalam paparannya, Prof Qasim memaparkan bahwa Virus Corona yang menimpa dunia memungkinkan terjadinya intervensi pada ibadah yang selama ini kita lakukan. Baginya, intervensi ibadah itu sesungguhnya bukan hal yang baru dan telah lama terjadi dalam sejarah keberagaman ummat Islam.

Prof Qasim menyebutkan contoh di antaranya bahwa ketika dirinya melaksanakan ibadah haji, dia menyaksikan bagaimana penjual di sekitar Masjidil Haram tetap Shalat Berjamaah tanpa perlu masuk ke kompleks masjid. Mereka berjamaah dari tempatnya dengan mengikut imam yang didengarnya melalui pengeras suara yang ada. Atau model Khutbah yang pernah terjadi di masa Rasulullah di mana khatib berdiskusi dengan jamaah Jum’atnya.

Intervensi ibadah akhirnya harus dilaksanakan di masa pandemi di mana berkumpul dianggap berpotensi memungkinkan penyebaran virus dan di saat bersamaan kemajuan teknologi dapat dipergunakan.

Akan tetapi, banyak orang yang seringkali menolak hal semacam ini karena ketidakfahamannya dan keterbatasan pemahaman fikih yang dimilikinya.

Oleh sebab itu Prof Qasim berharap bahwa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar dapat menjadi tempat di mana fikih baru lahir. Hal itu karena Fakultas Ushuluddin adalah Fakultas yang mempertemukan keberagaman pehaman dari berbagai kelompok.

“Mencontoh Nabi tidak harus persis seperti Nabi. Selama kemudian apa yang dilakukan memiliki akar dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis, maka hal itu tentu bisa dilaksanakan.” Ujar Prof Qasim.

Seperti biasa, gagasan dari Prof Qasim ini menimbulkan pro kontra yang mengakibatkan banyak professor lainnya ikut menghangatkan suasana halal bihalal. Seperti Prof Musafir Pababbari, yang merupakan Guru Besar bidang Sosiologi, Prof Samiang Katu, yang merupakan Guru Besar Studi Agama serta Prof Muh. Galib, yang merupakan Guru Besar Tafsir.

Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Muhsin Mahfudz, justru menanggapi positif dinamika halal bihalal yang menurutnya sangat khas Ushuluddin ini. Kehangatan diskusi semacam ini adalah bentuk “jabat tangan” hangat para akademisi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat karena pertemuan gagasan adalah dialektika pemikiran Islam itu sendiri, demikian pungkas Dekan FUF. (rls/hariansulsel)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here