Kecerdasan Hakiki (Seri-24)

0
96

HARIANSULSEL.COM, Makassar – “Siapa yang lisannya berkata benar, diamnya panjang, dan menjaga keselamatan orang lain, maka ia adalah orang cerdas (akil), sekalipun tidak membaca kitab (Alquran) Allah.”

Nasehat di atas adalah hadis yang dikutip oleh Syeikh Al-Palembani. Tentang kecerdasan hakiki. Kecerdasan yang disertai amal dan adab. Bukan kecerdasan ilusi, yang hanya memukau tapi tidak bermakna.

Sering kita menyaksikan orang bergelar akademik tertinggi, tapi tingkahnya tidak cerdas. Tidak sesuai dengan prestasi sosial dan spiritual. Sebaliknya, tidak sedikit di antara kita, tidak memiliki gelar akademik yang mentereng, tapi perannya sangat besar. Pengaruhnya membumi dan melangit. Masyarakat bumi merindukan kepeduliannya. Malaikat langit mencium keharuman zikirnya. Mereka itulah yang disebut orang cerdas yang sebenarnya.

Ada tiga ciri kecerdasan hakiki menurut Syeikh Al-Palembani:

Pertama, lisan yang jujur. Lisan yang tidak bicara kecuali kebenaran. Faktual disertai dengan bukti. Itulah lisan orang cerdas. Tidak banyak bicara. Bicara jika dibutuhkan. Menimbang dengan sangat bijak tiap tutur katanya. Lembut tapi tegas. Tidak bertele-tele. Menenangkan hati pendengarnya. Tegurannya meneduhkan. Nasehatnya menyadarkan. Motivasinya menggerakkan. Petuahnya dirindukan. Tanda bersumber dari kejujuran.

Kejujuran lisan dapat dijaga degan zikir. Demikian Syeikh Al-Palembani menegaskan. Lisan yang terus berzikir akan terbiasa dengan kebenaran. Terjaga dari perkataan yang melalaikan. Termasuk, dari kelalaian lisan digital. Melalui FB, Whatsapp dan seterusnya. Adalah lisan-lisan yang harus dijaga dari perkataan yang tidak benar (hoaks). Bahkan lisan digital hari ini jauh lebih berbisa daripada lisan mulut itu sendiri. Maka cerdaslah bermedia social!

Kedua, diam yang lama. Artinya, tafakkur. Orang yang sering berdiam diri, tafakkur adalah tanda kecerdasan. Melakukan dialog batin. Menemukan Keaslian diri. Tidak ada kebohongan. Karena hati tidak pernah berbohong. Tafakkur (kontemplasi) itu untuk mengenal hakekat diri menuju kesejatian.

Tafakkur juga adalah amalan para nabi. Rasulullah Muhammad Saw. bertafakkur di Gua Hira, Nabi Musa di Tur Sinai. Nabi Yusuf di penjara dan lainnya. Demikian juga para tokoh besar dunia, karya monumental mereka lahir dari hasil tafakkur. Sayyid Qutub menulis tafsir fi dzilalil quran di penjara. Badiuzzaman Said Nursi menulis rasail nur di pengasingan. Hamka menulis tafsir Al-Azhar di balik jeruji besi. Dan seterusnya. Dengan tafakkur mereka menemukan hakekat dirinya yang lemah di hadapan Allah. Segaligus melejitkan kecerdasan yang Allah berikan.

Ketiga, menjaga kesalamatan orang lain. Orang cerdas tidak hanya memimikirkan dirinya saja, tapi lebih pada orang orang lain. Ia senantiasa mencitai saudaranya sebagaimana yang menicintasi dirinya sendiri. Bahkan puncak kecerdasan itu, jika Allah dan Rasulnya lebih dicintainya daripada dirinya sendiri.

Mereka inilah yang direkam dalam riwayat. Tiga sahabat di perang Yarmuk. Mereka adalah Al-Harits bin Hisyam, Ayyasy bin Abi Rabi’ah, dan Ikrimah bin Abu Jahal. Ketiganya kritis dan kehausan. Ketika Al-Harits hendak meneguk air di tangannya, ia melihat Ikrimah di sampingnya lebih membutuhkan. Air itupun diberikan kepadanya. Sementara Ikrimah menengok ke sebelahnya, melihat Ayyasy lebih berhak daripada dirinya. Ia pun memberikan air itu kepada Ayyash. Dan akhirnya, ketiganya meninggal shahid. Tidak ada yang minum air itu. Semua mementingkan sahabatnya. Tetangganya. Sungguh mulia akhlaknya.

Tiga konsep kecerdasan Syeikh Al-Palembani di atas, sangat aktual. Lisan yang jujur dan berdalil adalah cerminan kecerdasan intelektual. Diam diri bertafakkur itu adalah cerminan kecerdasan spiritual. Dan kepedulian orang lain adalah kecerdasan emosional.

Jika, tiga kecerdasan ini dimiliki oleh tiap masyarakat Indonesia, mungkin saja bumi ini akan lebih bersahabat. Tidak serumit dan separah hari ini dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Wallahu A’lam bishshawab

Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here