Kelalaian Sang Arif (Seri-12)

0
169

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Sang Arif itu tiba-tiba menangis. Sangat sedih setelah mengantar pulang tamunya sampai depan pintu. Istrinya kaget penasaran. Mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Kali pertama mendengar tangisan suaminya yang begitu dalam. Adakah masalah besar yang menimpanya? Batinnya bertanya-tanya. Ia sangat penasaran dengan sikap suaminya. Tidak seperti biasanya. Arif dan tegar dalam menghadapi satu masalah.

“Kenapa engkau menangis, wahai suamiku?, tanya sang istri sambil menghampiri suaminya yang duduk tersungkur sedih.

Sang Arif tidak menjawab. Belum bisa menahan cucuran air matanya. Ia membiarkan mengalir. Membasahi pakaian kebesarannya. Semakin ia tahan, samakin derai air mata tak terbendung. Ia merasa sangat hina, tak berguna.

“Saya malu wahai istriku. Malu pada Tuhanku!” Jawabnya singkat. Penuh misteri.

Sambil menghela nafas sedalam-dalamnya. Ia berusaha bangkit dan menguatkan diri. Ia pun mulai cerita tentang tamu itu. Tamu yang baru saja pergi meninggalkan rumahnya. Seorang fakir miskin yang tinggal tidak jauh dari kediamannya.

“Saya sedih bukan karena tidak menghormatinya. Saya merasa berdosa bukan karena tidak melayaninya dengan baik. Saya menangis bukan karena tidak memenuhi hajatnya. Bukan! Tapi, saya menangis karena malu pada Tuhanku. Malu karena orang itu datang menjemput haknya. Sejatinya, saya mengantar sebelum ia datang. Kedatangnya adalah sebuah tanda kelalaian saya”.

Kisah di atas, bukan dari Syeikh Al-Palembani. Ia adalah kisah yang sering diceritakan oleh Anregurutta Sanusi Baco. Salah satu ulama kharismatik di tanah Bugis. Saya belum tahu persis nama sang Arif itu. Sumber kisahnya juga saya tidak dapat. Tapi, sangat menginspirasi. Penuh nasehat dan hikmah. Alur ceritanya juga saya kembangkan. Berbeda narasi Anregurutta. Tapi, pesannya di antaranya adalah: tentang kelalaian dan tafakkur.

Sang Arif merasa lalai sekalipun telah berbuat kebaikan. Dalam nalar sufi, kelalaian memang bertingkat. Lalainya orang umum adalah lisan dan perbuatan. Lalainya orang khusus adalah kelalaian hati. Sementara lalainya orang arif adalah gabungan ketiganya; lisan, hati, pikiran.

Seorang Arif terus menjaga ketiga itu. Di tambah dengan amal kebajikan. Kesatuan itulah yang akan mangantar pada derajat ihsan. “Engkau menyembah Allah, seakan-akan engkau melihatnya. Jika, engkau tidak melihatnya, yakinlah bahwa Allah senantiasa melihatmu”.

Kelalaian sang Arif mungkin karena lupa. Ia pun tersadar setelah kedatangan fakir itu. Ia bertafakkur dan sadar dengan kelalaiannya. Ia pun bertaubat dengan penuh penyesalan.

Kelalaian sang Arif bisa jadi kita juga alami. Atau malah lebih parah. Bukan sekali saja. Kita mendustakan agama Allah. Dusta karena lalai terhadap yatim (QS. Al-Maun). Parahnya, kita tidak pernah sadar dari kelalaian itu. Sejatinya kita resapi dengan hati yang terbuka. Betapa malunya kita di hadapan Allah. Betapa banyak hak orang lain tersandra di tangan kita. Berapa hak orang fakir miskin tertimpun di rekening kita.

Mungkin terlalu sibuk, sehinga kita hanya mengumpulkan harta. Menghitung keuntungan di dunia, lupa investasi di akherat. Mungkin kita sudah lalai, sehingga hanya menimbun untuk kepentingan diri, lupa dengan hak tetangga dan fakir miskin. Cukup QS. At-Takatsur dan Al-Humazah sebagai pengingat bagi kelalaian kita semua.

Terlebih lagi, di masa-masa sulit sekarang ini. Sekian banyak saudara kita yang kehilangan pekerjaan dan pemasukan karena pandemi Covid-19. Betapa banyak orang terpaksa memilih keluar rumah daripada mati kelaparan. Mungkin saatnya di tengah pandemi saat ini, kita mencontoh kesadaran sang Arif: mengantar hak orang fakir (yang membutuhkan) sebelum mereka datang menjemputnya.

Maka cukuplah nasehat terakhir tentang kelalaian dari Syeikh Al-Palembani menjadi renungan.

“Ketahuilah! Sesungguhnya kelalaian itu ujian paling berat bagi para Arifin, Karena menghalangi kebenaran dan menambah kebatilan. Sementara tafakkur adalah ujian berat bagi orang jahil (bodoh), karena ia mengahalangi kebatilan dan meningkatkan kebenaran.” Wallahu A’alam Bisshawab

Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here