HARIANSULSEL.COM, Makassar – Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam, memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan spiritualitas generasi muda, serta membekali mereka dengan nilai-nilai keislaman yang mendalam (Andy, 2022b; Andy, Khaerunnisa, et al., 2024; Andy, Nisa, et al., 2024a; Madjid, 2010; Wahid, 2010). Namun, untuk mempertahankan relevansi dan daya saingnya di era globalisasi yang terus berkembang, pesantren harus menghadapi berbagai tantangan manajerial yang semakin kompleks. Tantangan ini meliputi peningkatan profesionalisme dalam pengelolaan, pencapaian keberlanjutan finansial, serta upaya untuk menyelaraskan nilai-nilai tradisional dengan kebutuhan zaman yang terus berubah.
Salah satu tantangan utama yang dihadapi pesantren adalah pengelolaan yang masih sangat bergantung pada model tradisional, di mana pengambilan keputusan seringkali terpusat pada figur kiai sebagai pemimpin spiritual dan administratif. Model ini efektif dalam menjaga integritas dan nilai-nilai budaya pesantren, namun cenderung terbatas dalam hal transparansi dan akuntabilitas yang diperlukan dalam pengelolaan yang lebih profesional. Banyak pesantren masih menghadapi kekurangan dalam hal sumber daya manusia yang terlatih dalam aspek administrasi pendidikan, pengelolaan keuangan, dan manajemen lembaga yang sistematik. Studi tentang reformasi manajerial pesantren menunjukkan bahwa perubahan yang lambat dalam praktik manajerial dan resistensi terhadap inovasi menjadi penghambat utama dalam meningkatkan kompetitivitas pesantren sebagai lembaga pendidikan yang modern (Faizin, 2024)
Selain tantangan manajerial, keberlanjutan finansial pesantren juga menjadi isu krusial. Banyak pesantren yang bergantung pada model pembiayaan berbasis sumbangan atau donasi, yang sering kali tidak stabil. Untuk memastikan kelangsungan operasional, pesantren perlu mencari alternatif sumber pendanaan yang lebih mandiri dan berkelanjutan. Riset menunjukkan bahwa pengembangan unit bisnis dalam pesantren, seperti usaha santri yang mengelola produk atau layanan, dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap kestabilan keuangan pesantren sekaligus memberikan pengalaman praktis dalam kewirausahaan bagi santri (Aripin & Nugraha, 2025). Selain itu, kemitraan dengan lembaga pendidikan lain juga dapat membantu memperluas jaringan pendanaan dan meningkatkan kualitas manajerial pesantren (Kurniady et al., 2024)
Namun keberlanjutan tidak hanya mencakup aspek finansial tetapi juga aspek kultural dan lingkungan. Konsep eco-pesantren, yang mengintegrasikan nilai Islam dengan prinsip-prinsip keberlanjutan, mulai diterapkan oleh beberapa pesantren untuk menciptakan pendidikan yang lebih relevan dengan tantangan global seperti perubahan iklim dan krisis lingkungan. Dengan mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam setiap aspek kehidupan pesantren, mulai dari pengelolaan energi hingga kurikulum yang mengajarkan kesadaran lingkungan, pesantren dapat memainkan peran yang lebih besar dalam mempersiapkan santri menghadapi tantangan abad ke-21 (Hermawansyah, 2025).
Selain itu, pesantren juga perlu beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Integrasi teknologi informasi dalam manajemen dan pengajaran merupakan langkah penting dalam meningkatkan efisiensi dan memperluas akses pendidikan. Penggunaan sistem informasi manajemen pendidikan (Management Information Systems) dapat meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan efisiensi operasional pesantren, sekaligus memperkaya pengalaman belajar santri dengan akses ke sumber daya pendidikan global. Transformasi digital ini juga memungkinkan pesantren untuk tetap relevan di tengah perkembangan pendidikan yang semakin berbasis teknologi (Shofwani et al., 2025)
Meski demikian, penting bagi pesantren untuk tidak hanya mengadopsi teknologi dan modernitas tanpa mempertahankan nilai-nilai tradisional yang menjadi ciri khas mereka. Sinergi antara tradisi dan modernitas menjadi kunci utama dalam manajerial pesantren yang berkelanjutan. Pendekatan yang menggabungkan perencanaan strategis, peningkatan kualitas, dan keterlibatan pemangku kepentingan, baik internal maupun eksternal, sangat penting dalam mempertahankan eksistensi pesantren sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya relevan secara lokal, tetapi juga berdaya saing di tingkat global (Andy, Khaerunnisa, et al., 2024; Andy, Nisa, et al., 2024b; Faizin, 2024).
Selain itu, penguatan kapasitas kepemimpinan menjadi elemen penting dalam keberhasilan transformasi pesantren. Pemimpin pesantren yang memiliki visi yang jelas tentang pentingnya perubahan dan adaptasi terhadap perkembangan zaman akan mampu memotivasi staf pengajar dan santri untuk berinovasi dan mengikuti perkembangan dunia pendidikan. Kepemimpinan yang efektif tidak hanya berfokus pada pengelolaan internal pesantren tetapi juga membangun kemitraan strategis dengan berbagai lembaga pendidikan dan komunitas yang dapat mendukung proses pembelajaran dan pengembangan lembaga secara lebih luas. Hal ini sesuai dengan temuan penelitian yang menekankan pentingnya pemimpin yang memiliki keterampilan manajerial yang baik untuk menghadapi perubahan yang terjadi di dunia pendidikan (Andy, 2022a; Djuwairiyah et al., 2024; Matnuri & Aminuddin Aziz, 2025).
Di sisi lain, pentingnya pendidikan berbasis kewirausahaan dalam pesantren tidak hanya memberikan manfaat dari segi ekonomi tetapi juga memperkuat aspek pembelajaran bagi santri. Melalui unit bisnis yang dijalankan oleh pesantren, santri tidak hanya memperoleh ilmu agama tetapi juga pengalaman praktis dalam mengelola usaha yang berbasis pada nilai-nilai Islam. Riset yang dilakukan oleh Kurniady et al. (2024) menunjukkan bahwa pesantren yang sukses mengembangkan unit bisnis internal mampu menciptakan dampak positif terhadap perekonomian pesantren, serta memberikan kesempatan bagi santri untuk mengasah keterampilan hidup yang akan sangat berguna di masa depan.
Dengan demikian untuk mencapai manajemen pesantren yang profesional dan berkelanjutan, dibutuhkan reformasi menyeluruh yang meliputi aspek manajerial, keuangan, pendidikan, dan teknologi. Dengan menerapkan prinsip-prinsip manajemen yang lebih modern, pesantren dapat tetap menjaga identitasnya sebagai lembaga pendidikan Islam, sambil memastikan relevansi dan keberlanjutannya di masa depan. Dalam menghadapi tantangan global, pesantren harus menjadi lembaga yang adaptif, inovatif, dan mampu mengelola perubahan dengan bijak untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang semakin kompleks dan dinamis.
Andy. (2022b). Pesantren dan kepemimpinan kiai. Akademia Pustaka.
Andy, A., Khaerunnisa, K., & Nisa, A. (2024). Pergeseran Tradisi Pesantren Di Sulawesi Selatan Pada Era Modern: Perspektif Undang-Undang Pesantren. Idaarah: Jurnal Manajemen Pendidikan, 8(2). https://doi.org/10.24252/idaarah.v8i2.51656
Andy, A., Nisa, A., & Juliadarma, M. (2024a). Adaptasi Pembelajaran Kitab Kuning dalam Konteks Modernisasi Pada Pondok Pesantren Darul Falah Ternate. Pusaka: Jurnal Khazanah Keagamaan, 12(2), 374–387.
Andy, A., Nisa, A., & Juliadarma, M. (2024b). Adaptasi Pembelajaran Kitab Kuning dalam Konteks Modernisasi Pada Pondok Pesantren Darul Falah Ternate. Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan, 12(2), 374–387.
Aripin, J., & Nugraha, M. S. (2025). Manajemen Keuangan Berkelanjutan di Pondok Pesantren: Pendekatan Kewirausahaan dan Tantangannya. Epistemic: Jurnal Ilmiah Pendidikan, 4(1), 133–153. https://doi.org/10.70287/epistemic.v4i1.223
Djuwairiyah, D., Jamil, A. I., & Kadir, F. A. A. (2024). Kepemimpinan Kiai Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Terhadap Transformasi Pendidikan Islam. LISAN AL-HAL: Jurnal Pengembangan Pemikiran Dan Kebudayaan, 18(2). https://doi.org/10.35316/lisanalhal.v18i2.338-359
Faizin, M. A. (2024). Islamic Boarding Education Management Reform: Transformation Strategies to Improve Competitiveness and Relevance. AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan, 16(2). https://doi.org/10.35445/alishlah.v16i2.4462
Hermawansyah, H. (2025). Eco-Pesantren-Based Islamic Education Management. Fitrah: Jurnal Studi Pendidikan, 16(1). https://doi.org/10.47625/fitrah.v16i1.982
Kurniady, D. A., Suharto, N., Suryadi, S., Hafidh, Z., & Permana, R. D. (2024). Strategic Resource Management in Islamic Boarding Schools: The Role of Income-Generating Units in Supporting Educational Goals. Al-Tanzim: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 8(4). https://doi.org/10.33650/al-tanzim.v8i4.9660
Madjid, N. (2010). Bilik-Bilik Pesantren. Dian Rakyat.
Matnuri, R. W. E.-F., & Aminuddin Aziz, A. (2025). Strategi Kepemimpinan KH. Salahuddin Wahid dalam Melakukan Transformasi di Pesantren Tebuireng. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(1), 231–244.
Shofwani, W., Arifudin, I., Gloria, R. Y., & Wiradinata, D. R. (2025). Transforming Educational Management in Islamic Boarding Schools: A Historical and Digital Perspective. JP (Jurnal Pendidikan) : Teori Dan Praktik, 10(2), 174–187. https://doi.org/10.26740/jp.v10n2.p174-187
Wahid, A. (2010). Menggerakkan Tradisi: Esai-Esai Pesantren. LKiS.
Penulis: Dr. Andy, S.Pd.I., M.Pd. – Dosen IAIN Ternate, Peneliti pada bidang Ilmu Manajemen Pendidikan Islam dan Manajemen Pesantren