Petani Kakao Bantaeng Naik Kelas, Teknologi Pompa Pupuk Elektrik Hadir di Kebun

HARIANSULSEL.COM, Bantaeng – Inovasi teknologi tepat guna dari perguruan tinggi kembali menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Tahun Anggaran 2026, tim pengabdian memperkenalkan pompa pupuk elektrik berbasis ergonomi kepada petani kakao di Desa Lonrong, Kecamatan Eremerasa, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Terdiri dari Ketua Tim Dr (Cand). Ir. Nur Ihwan Safutra, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng dan Anggota Ir. Muh. Fachry Hafid, S.T., M.T, Muh. Ilham Angga, S.T., M.T., Ir. Asrul Fole, S.T., M.T., IPM

Kegiatan yang mengusung tema “Pemanfaatan Pompa Pupuk Elektrik Berbasis Ergonomi untuk Meningkatkan Efisiensi Pemupukan pada Tanaman Kakao” ini merupakan bagian dari upaya mendorong pemanfaatan hasil inovasi dan pengetahuan perguruan tinggi agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya sektor pertanian dan perkebunan.

Program tersebut dilaksanakan melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

Keterlibatan petani dan generasi muda menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem penerapan teknologi di tingkat masyarakat.

Teknologi yang Berangkat dari Persoalan Nyata Petani

Selama ini, proses pemupukan dan penyemprotan pada tanaman kakao masih menghadapi sejumlah kendala, terutama berkaitan dengan beban kerja, waktu aplikasi, efisiensi penggunaan tenaga, serta posisi tubuh petani ketika mengoperasikan peralatan. Melalui inovasi pompa pupuk elektrik berbasis ergonomi, tim pengabdian berupaya menghadirkan alternatif teknologi yang lebih praktis, efisien, dan nyaman digunakan.

Ketua Tim Pengabdian, Ir. Nur Ihwan Safutra, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., menjelaskan bahwa penerapan teknologi tidak cukup hanya berhenti pada penciptaan alat, tetapi harus dipastikan dapat digunakan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Teknologi yang dikembangkan harus berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat. Karena itu, kami tidak hanya memperkenalkan alat, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai cara pengoperasian, aspek ergonomi, efisiensi pemupukan, serta keselamatan dan kesehatan kerja petani,”ujar Ir. Nur Ihwan Safutra.

Petani Tidak Hanya Menjadi Objek, tetapi Mitra Inovasi

Dalam kegiatan tersebut, petani tidak ditempatkan semata-mata sebagai penerima teknologi. Mereka dilibatkan secara langsung melalui diskusi, demonstrasi, praktik penggunaan alat, serta evaluasi terhadap kondisi nyata di lapangan.

Bapak M. Hasanuddin selaku Ketua Kelompok Tani Kakao menyambut baik penerapan teknologi tersebut karena memberikan pengalaman baru bagi petani dalam melakukan pekerjaan di kebun.

“Keterlibatan masyarakat secara langsung diharapkan dapat memperkuat proses adopsi teknologi sehingga inovasi yang diperkenalkan tidak berhenti sebagai demonstrasi, tetapi dapat digunakan dalam aktivitas budidaya sehari-hari,” Ujar Hasanuddin.

Sementara itu, Ketua Kelompok Pemuda, menjadi bagian dari keterlibatan generasi muda dalam mendukung proses penerapan teknologi di lingkungan masyarakat tani. Keterlibatan pemuda dinilai strategis karena keberlanjutan sektor pertanian membutuhkan regenerasi sekaligus kemampuan generasi muda dalam menerima dan mengembangkan teknologi baru.

Demonstrasi Langsung di Areal Tanaman Kakao

Salah satu bagian utama kegiatan adalah demonstrasi penggunaan pompa pupuk elektrik secara langsung di areal pertanaman kakao.
Tim pengabdian memberikan penjelasan mengenai persiapan alat dan bahan, penyiapan larutan pupuk, teknik penggunaan alat, posisi kerja yang ergonomis, hingga aspek keselamatan dalam pengoperasian.
Petani kemudian diberikan kesempatan untuk mencoba penggunaan alat secara langsung dengan pendampingan tim.

Dari Inovasi Menuju Dampak Nyata

Program ini memperlihatkan bagaimana kegiatan pengabdian kepada masyarakat dapat menjadi ruang hilirisasi pengetahuan dan teknologi dari perguruan tinggi menuju masyarakat. Tidak hanya menghasilkan inovasi dalam bentuk teknologi, kegiatan ini juga membangun proses transfer pengetahuan, peningkatan kapasitas petani, serta keterlibatan generasi muda dalam pengembangan sektor pertanian. Bagi komoditas kakao, peningkatan efisiensi budidaya menjadi salah satu aspek penting untuk menjaga produktivitas dan keberlanjutan usaha tani.

Ir. Nur Ihwan Safutra, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng. menegaskan bahwa keberhasilan pengabdian kepada masyarakat pada akhirnya tidak hanya diukur dari terlaksananya kegiatan, tetapi dari sejauh mana inovasi dapat diterima, dimanfaatkan, dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

“Kami berharap teknologi ini dapat terus dikembangkan sesuai kebutuhan petani. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak berhenti di ruang akademik, tetapi hadir dan memberikan solusi terhadap persoalan masyarakat,” tuturnya. (and/hs)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *