Amarah Berakhir Cinta (Seri-31)

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Orang kafir itu keheranan. Ali bin Abi Thalib tidak memenggal lehernya. Padahal ia sudah terjatuh. Tersungkur di tanah. Ia pasrah. Mati di ujung pedang Ali. Setelah berduet berjam-jam, di medan perang itu.

Ali tidak terkalahkan. Pedangnya menyala. Semangatnya membara. Tidak ada yang bisa memadamkan. Tidak ada yang bisa menghentikan. Lawannya berjatuhan. Puluhan. Tidak ada yang tersisa.

Tapi, kali ini Ali berubah. Tiba-tiba ia menarik diri. Tidak jadi menghabisi nyawa orang kafir itu. Padahal sudah tak berdaya di hadapannya. Kibasan pedang Ali tiba-tiba berhenti. Orang kafir itu pun bertanya, keheranan.

“Kenapa engkau tidak memenggal leherku, wahai Ali, bukannya ini kesempatan untuk membunuhku?” sambil memasrahkan diri kepada Ali.

“Apa bedanya saya dengan engkau, jika saya membunuhmu karena amarah, bukan karena Allah?” tegas Ali sambil meninggalkan orang kafir itu. Melepaskan dan membiarkan pergi.

Sahabat Ali bin Abi Thalib tidak membunuh. Bukan karena kalah, bukan pula karena lelah. Tapi karena amarah. Amarah Ali bin Abi Thalib tiba-tiba membuncah. Ketika hendak memengal lehernya, orang kafir itu meludah. Dan tepat mengenai muka Ali bin Abi Thalib.

Amarah itu menguasai dirinya seketika. Namun, ia mampu mengatasinya. Mengekang hawa nafsunya. Ia menyadari bahwa membunuh pun harus dengan cinta; karena Allah. Bukan dengan nafsu amarah; dendam personal. Membunuh karena amarah adalah murka. Petaka. Tidak ada bedanya dengan orang kafir itu. Demikian dalam benak sahabat Ali membatin.

Mengontrol amarah itu tidak mudah. Sama sulitnya mengekang hawa nafsu. Dalam bahasa Alquran, orang yang mengontrol amarah disebut walqaziminal gaizh (QS. Al-Imran: 143). Al-gaizh sendiri adalah amarah yang berapi-api. Lebih besar dan berbahaya daripada al-gadhab (marah) itu sendiri.

Maka dari itu, orang yang mampu mengontrolnya disebut sebagai jiwa muttaqien. Sama dengan pemurah dan pemaaaf sebelumnya. Buah dari mujahadah puasa selema 30 hari bulan Ramadan.

Dewasa ini, mengontrol amarah, mengekang hawa nafsu dan memanage emosi itu semakin penting. Betapa banyak persoalan dan gesekan terjadi karenanya. Perceraian rumah tangga. Konflik politik maupun bisnis. Sengketa di masyarakat. Saling nyinyir di media sosial. Dan yang paling viral belakang ini adalah sekelompok masyarakat yang salat Idul Fitri dengan parang.

Fenomena itu tentu tidak berdiri sendiri. Ada api karena ada yang membakarnya. Tapi bagaimana pun, sebagai orang yang bertaqwa sejatinya puasa itu tidak sekedar menahan makan-minum. Tapi juga menahan amarah, nafsu dan emosi. Karena hal itu, kadang menghilangkan kewarasan. Mengaburkan kebenaran.

Dalam konteks ini, Sahabat Ali bin Abi Thalib mengedukasi kita semua. Beliau tidak hanya dikenal sebagai pintunya ilmu. Tapi juga sebagai sosok yang kuat. Pejantan tangguh. Pemberani sejati.
Orang kafir itu pun masuk Islam, bukan karena pedang sahabat Ali. Bukan pula karena terpaksa. Tapi, kepribadian sahabat Ali bin Abi Thalib yang sangat luhur. Merefleksikan Islam sebagai agama rahmah. Agama fitrah. Penuh cinta.

Sahabat Ali bin Abi Thalib adalah pemenang sesungguhnya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

“Bukanlah orang kuat itu yang mampu mengalahkan semua lawannya, tapi orang kuat itu adalah yang mampu mengekang amarah nafsunya.”

Wallahu A’lam bishshawab

Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *