Hematoscope FK Unibos Hadirkan Pakar Nasional, Bahas Rehabilitasi Pascastroke untuk Cegah Disabilitas

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Upaya menekan angka disabilitas akibat stroke tidak cukup hanya mengandalkan keberhasilan penanganan fase akut. Pemulihan yang optimal membutuhkan rehabilitasi yang komprehensif, berkelanjutan, dan berbasis kolaborasi multidisiplin. Menjawab tantangan tersebut, Hematoscope Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa (FK Unibos) 2026 menyelenggarakan Seminar Nasional bertema “Neuro-Musculoskeletal Rehabilitation in Post Stroke Patients: Enhancing Recovery and Preventing Disability” pada Sabtu (18/7/2026) di Hotel Dalton Makassar.

Seminar yang terbuka secara gratis ini menghadirkan para narasumber berpengalaman di bidang rehabilitasi medis dan neurologi. Kegiatan tersebut menjadi wadah berbagi pengetahuan mengenai perkembangan penatalaksanaan pasien pascastroke, mulai dari pentingnya intervensi dini, rehabilitasi neuro-muskuloskeletal, hingga pendekatan multidisiplin yang bertujuan mengembalikan fungsi tubuh, meningkatkan kualitas hidup pasien, serta mencegah disabilitas jangka panjang.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa, Dr. dr. Rahmawati Thamrin, Sp.And., menegaskan bahwa penyelenggaraan Hematoscope merupakan bagian dari komitmen Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa dalam menghadirkan ruang akademik yang mampu menjawab berbagai tantangan kesehatan masyarakat melalui penguatan ilmu pengetahuan dan kolaborasi lintas disiplin.

Menurutnya, stroke masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam dunia kesehatan karena tidak hanya berdampak pada angka kematian, tetapi juga kualitas hidup penyintas dan keluarganya.

“Melalui seminar ini kami ingin memperkuat pemahaman bahwa rehabilitasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari penanganan pasien stroke. Pengetahuan yang terus diperbarui menjadi bekal penting bagi tenaga kesehatan agar mampu memberikan pelayanan yang lebih komprehensif, humanis, dan berbasis bukti ilmiah,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa akan terus mendorong penyelenggaraan forum-forum ilmiah yang mempertemukan akademisi, praktisi, dan mahasiswa sebagai bagian dari penguatan budaya akademik sekaligus kontribusi nyata perguruan tinggi terhadap peningkatan kualitas layanan kesehatan.

Wakil Dekan I Bidang Akademik, Sistem Informasi, Inovasi, Riset, dan Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa, dr. Stazia Noija, MHPE., FFRI., menjelaskan bahwa seminar ini juga menjadi media pembelajaran yang penting bagi mahasiswa untuk memahami perkembangan ilmu kedokteran yang terus mengalami kemajuan.

Menurutnya, proses pembelajaran di fakultas tidak hanya berlangsung di ruang kuliah, tetapi juga melalui forum ilmiah yang menghadirkan para pakar dengan pengalaman klinis dan akademik yang luas.

“Kami ingin mahasiswa terbiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan berdiskusi langsung dengan para ahli. Pengalaman seperti ini akan membentuk pola pikir kritis, memperkuat kemampuan akademik, sekaligus meningkatkan kesiapan mereka menjadi dokter yang adaptif terhadap perkembangan dunia medis,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Dekan II Bidang Keuangan, Perencanaan, dan Sumber Daya Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa, dr. Mutmainnah Ahmad, Sp.KK., menilai bahwa keberhasilan penyelenggaraan Hematoscope merupakan hasil sinergi seluruh sivitas akademika dalam membangun budaya akademik yang berkelanjutan.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari penguatan kapasitas institusi sekaligus peningkatan kualitas pendidikan kedokteran di Universitas Bosowa.

“Kami percaya bahwa investasi terbaik sebuah fakultas adalah menghadirkan ruang belajar yang berkualitas. Seminar seperti ini memberikan manfaat yang luas, tidak hanya bagi mahasiswa, tetapi juga bagi tenaga kesehatan dan masyarakat yang ingin terus memperbarui wawasan keilmuannya,” tuturnya.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Kerja Sama, dan Pengembangan Usaha Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa, dr. M. Rio Andita, M.KM., menyampaikan bahwa Hematoscope menjadi salah satu wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi akademik sekaligus memperluas jejaring profesional sejak dini.

Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam penyelenggaraan seminar nasional merupakan pengalaman yang sangat berharga dalam membangun kepemimpinan, kolaborasi, serta kemampuan berorganisasi.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, dan membangun jejaring profesional. Melalui Hematoscope, mereka belajar mengelola kegiatan ilmiah berskala nasional sekaligus memperkuat budaya akademik di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa,” ujarnya.

Selama seminar berlangsung, peserta memperoleh pemaparan mengenai berbagai pendekatan rehabilitasi neuro-muskuloskeletal yang berfokus pada percepatan pemulihan fungsi tubuh, peningkatan kualitas hidup penyintas stroke, serta strategi pencegahan disabilitas melalui penanganan yang komprehensif dan kolaboratif. Diskusi yang berlangsung interaktif menunjukkan tingginya antusiasme peserta dalam memahami perkembangan terbaru di bidang rehabilitasi medis.

Melalui penyelenggaraan Hematoscope 2026, Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa kembali menegaskan komitmennya sebagai institusi pendidikan yang aktif membangun ekosistem akademik berbasis inovasi, riset, dan kolaborasi. Seminar nasional ini diharapkan tidak hanya memperkaya wawasan peserta, tetapi juga menjadi kontribusi nyata Universitas Bosowa dalam mendorong peningkatan mutu pelayanan kesehatan serta melahirkan tenaga medis yang profesional, adaptif, dan siap menjawab tantangan kesehatan masyarakat di masa depan. (and/hs)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *