Opini: Being a Family Man; Varian Baru Imunitas

0
170

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Kita tiba-tiba semua akrab dengan istilah ‘imunitas’. Bukan hanya akrab, kita bahkan pintar menceramahkan tentang imunitas itu. Saya tiba-tiba menjadi ahli memberi nasehat tentang pentingnya kekebalan tubuh itu dijaga untuk menangkal infeksi virus corona.

Sampai saya tertarik merambah disiplin keilmuan lain dalam mempelajari bagaimana kekebalan tubuh itu bekerja. Saya sampai bertanya ke beberapa pakar kesehatan masyarakat tentang proses kekebalan kolektif itu terjadi. Tidak usahlah saya sebut namanya. Nanti saya dianggap latah, atau berbicara sesautu yang sama sekali jauh dari pengetahuan saya.

Saya justeru tertarik satu berbicara tentang satu sisi kekebalan yang perlu dipertahankan di saat sekarang ini . Saya sebutlah istilahnya, dan anda memperbaiki kalau salah: ‘making immunity at home’. Atau kekebalan diri sementara diminta tinggal di rumah.

Kenapa kekebalan model ini penting? Untuk tinggal di rumah dalam waktu yang lama dan tidak keluar-keluar membutuhkan kekuatan paripurna, atau kita terus terang sajalah, khususnya Bapak-Bapak, banyak yang tidak betah.

Kebiasaan selama ini bekerja di luar, ngopi di luar, olahraga atau jogging di luar, kongkow di luar, dan ngerumpi dengan tetangga, namanya ngerumpi pasti di luar rumah. Tapi Ibu-ibu juga kan? Mana tahan untuk tidak jalan-jalan ke Mal. Mengaku sajalah, biar saya lanjutkan tulisan saya.

Lebih meruncing contohnya sekarang, saya kasih persentase keberadaan saya di luar rumah, dari 24 Jam waktu saya, tersedot di luar sampai 70 persen. Kenapa 70 persen, karena waktu aktif saya ada di luar, waktu produktif saya, atau waktu berbicara saya. Yang 30 persen itu saya hitung weekend; family times, jalan-jalan dengan keluarga. Tapi itu juga tetap berada di luar rumah.

Nah sekarang semua terbalik. Bukan hanya terbalik persentasenya, tapi 100 persen kita diminta tinggal di rumah. Konon, musuh terbesar dari kekebalan tubuh adalah stress. Percayalah teman, meskipun saya bukan dokter, tapi ada puluhan dokter teman saya yang bisa saya tanya setiap saat.

Bagaimana tidak stress, melakukan sesuatu yang terpaksa atau yang bukan ‘passion’ kita dalam waktu yang lama. Belum lagi yang memiliki pekerjaan tambahan selain pegang HP, harus membantu pekerjaan rumah tangga dan kalau salah sedikit langsung diomelin isteri. Biasanya yang terakhir ini terjadi pada suami yang banyak kesalahannya di luar rumah.

Jadi ada sub keilmuan yang perlu dikembangkan sekarang adalah kajian imunitas tubuh di rumah, merubah diri menjadi ‘family man’. Menjadi family man adalah selalu berada di rumah, sejenis ‘home sweet home, lah. Jadikan rumahku surgaku, kata ustad saya. Saya sebenarnya juga ustad, tapi tidak setenar dengan ustad Maulana, kawan dekatku itu, yang tidak pernah ingat namaku, meskipun sudah dua buku otobiografiku yang disimpan di rumahnya. Ko, lari ke ustad Maulana?

Back to family man issues. Menjadi Family man adalah keputusan yang harus diambil untuk menjaga imunitas tubuh selama di rumah. Bagaimana immunitas ini bisa dijaga? Begini prosedurnya.

Pertama, Pindahkan ‘mindset’ kita tentang kehidupan luar ke dalam rumah. Sederhana caranya. Kalau biasanya pagi-pagi sudah siap-siap keluar rumah, lakukan hal yang sama; mandi, sisir kalau masih ada rambut, dan berpakaian seperti biasanya. Kalau singgah biasanya ngopi, lakukan hal sama di rumah. Minta isteri buatkan, jangan paksa bagi yang tidak berani. Kalau tidak berani buat sendirilah, mencoba sesuatu yang baru asyik juga. Setelah kopi atau minumannya jadi, bertindak seakan- akan di warkop atau di cafe. Kalau biasanya ngobrol dengan orang di cafe, ngobrol jugalah dengan koleganya pakai vidcall atau telponan, sederhana kan? So, your habit doesn’t really change. Yang berubah tempatnya.

Kedua, Tinggal di rumah membuat kita mencoba sesuatu yang baru. Pepatah Arab bilang, ‘setiap yang baru itu nikmat.’ Mindset ini yang harus dibangun untuk membangum rasa nyaman. Nyaman berarti tenang, tenang berarti ‘feeling releived’ tidak merasa terpaksa apalagi tertekan. Ini pasti akan membangun kekebalan psikis.

Apa yang bisa dicoba di rumah? Mengajak keluarga shalat berjamaah. Saya bukan mau sok agamis, bro. Maksud saya saatnya kita perlihatkan sekarang kalau kita bisa jadi imam. Kita buktikan bahwa kita bukan hanya menghafal jus ke 30 khususnya surah pendek, tapi wadah kita mengakrabkan diri melalui proses berjamaah dengan keluarga, istilahnya ‘feeling attached’, berjamaah seperti ini busa diperkaya dengan doa-doa kesehatan dan kebersamaan untuk mencegah ‘feeling attacked’.

Apalagi yang lain? Memasak! Sadarkah kita kaum lelaki bahwa chef ternama itu kebanyakan laki-laki. Tidak percaya? Tidak usah cek di google, tapi saya lihat sendiri, chefnya hotel-hotel besar di kota saya, Makassar, semua laki- laki. So, instink memasak kita itu lebih kuat dari yang lain? Yang lain itu siapa jadinya? Maaf, tidak bermaksud bias gender.

Pertanyaannya, memasak apa? Bukankah sudah tahunan tidak pernah memasak? Jangan pura-pura lupa kawan. Kita sama-sama anak kos waktu mahasiswa. Jadi bangkitkan semua kedigdayaan masa lalu itu.

Ketiga, gugah diri dengan prilaku afeksi terhadap keluarga. Afeksi itu emosi yang lunak berupa kasih sayang. Caranya, tatap isteri dan anak- anak kita kalau sidah tidur. (Jangan bilang sama saya, menatap isteri saat tidurpun tidak berani). Kalau anak kita sudah besar dan terpisah, buka pintu kamarnya dan saat tidur perbaiki selimutnya dan cium keningnya. Termasuk juga menggugah diri betapa bahagianya mereka ada di dekat kita. Lihatlah perbandingan di sekitar, kejadian betapa sedihnya mereka yang ditinggal keluarganya. So, family is everything. Singkatnya, menjadi family man adalah upaya membangun imunitas dalam kehidupan berkeluarga.

Mungkin masih banyak yang lain, tapi semua ini dimaksudkan untuk menjaga situasi jiwa saat kita supaya rasa nyaman ditumbuhkan selama berhari-hari kita di rumah. Satu lagi, bahwa ada hikmah dari wabah ini terhadap imunitas kita selama di rumah adalah kita bisa mengupayakan makan makanan rumahan; mencoba segala menu, apalagi kalau kita bisa mengontrol penggunaan zat perasa yang bisa menggangu kesehatan. Sudahlah dulu man, saya mau lanjut membaca chat teman-teman yang mengirim ucapan selamat tentang ultah saya hari ini, meskipun itu tanggal kelahiran versi pegawai kelurahan waktu mau mengurus pasport untuk keperluan studi saya. Karena yang benar, saya tidak tahu persisnya kapan saya lahir. (and/hariansulsel)

Oleh: Hamdan Juhannis – Rektor UIN Alauddin Makassar, Ketua PW LPTNU Sulsel dan saat ini tercatat sebagai Guru besar bidang Sosiologi Pendidikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here