Tradisi Haul dan Pendiri NU, AGH Puang Ramma (Bagian II)

0
461
AGH. Puang Ramma, mursyid ke-11 Khalwatiyah Yusuf Al Makassariy (di kursi) saat membawakan pengajian di intern jamaah. Nampak disampingnya mursyid ke-12 (skrg) Syekh Sayyid A Rahim Assegaf Puang Makka mengalaskan tangannya pada kitab yang dibaca Puang Ramma saat pengajian (doc. Tahun 1982)
HARIANMAKASSAR.COM – Hari ini, 15 Sya’ban 1438 atau 11 Mei 2017 diperingati Haul ke-11 mengenang wafatnya Syekh Sayyid al-Habib Kiai Jamaluddin Assaqqaf Puang Ramma al-Khalwatiy. Haul ke-11 Salah satu pendiri NU ini, Puang Ramma yang juga sebagai mursyid ke-11 Khalwatiyah dipusatkan di Balai Manunggal Makassar dirangkaian dengan zikir-doa tarekat dan ziarah ke makamnya di Tambua Maros.
Haul Puang Ramma yang wafat 15 Sya’ban 1427 lebih dikenal dengan istilah perayaan  Nishfu Sya’ban karena 15 Sya’ban, yakni nishfu diartikan pertengahan dan Sya’ban adalah bulan ke-8 Hijriah, bulan menuju pintu Ramadhan, sehingga dipahami bahwa pusat (pertengahan) tahun Hijriah tepatnya pada tanggal 15 Sya’ban, yang pada tahun ini, 2017 bertepatan hari Selasa (11/5/2017) sebagai momen bagi umat Islam untuk memuliakannya dengan berbagai amalan spirit ruhaniah seperti doa, zikiran, dan ziarah kubur.
Doa Nishfu Sya’ban yang senantiasa dianjurkan pada bulan ini, adalah Allahumma Barik Lana fi Sya’ban wa Balligna Ramadhan (Ya Allah, berkahilah kami di bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan). Doa tersebut merupakan star pemanasan (warning up) untuk memasuki Ramadhan.
Demikian halnya zikiran sebagai wahana konsentrasi mengingat Allah Swt. Lazimnya santri dan jamaah NU diberi bimbingan zikir yang ada tuntunannya bersumber dari Nabi Saw. Lafaz zikir yang silsilahnya bersambung dari dan kepada Nabi saw menimbulkan energi yang sangat kuat-tembus ke Arasy, apalagi jika hal itu dilaksanakan secara berjamaah sebagai yang mentradisi di kalangan Nahdliyyin.
Selain doa dan zikir adalah ziarah Kubur sebagai momen aktualisasi mengingat kematian. Lazimnya sebelum berdoa untuk Ahlilqubur (penghuni kubur), terlebih dahulu membersihkan areal makam dari sampah dan dedaunan, atau mengganti bunga-bunga yang sudah kering atas makam tersebut.
Ziarah kubur disunnatkan pada kamis sore atau jumat pagi, dan pada waktu-waktu tertentu khususnya di bulan Ramadhan atau hari raya, namun sebagaimana yang dituturkan Aisyah bahwa Nabi saw lebih berlama-lama di pekuburan Baqi’ pada malam Nishfu Sya’ban. Dengan demikian, maka pada haul ke-11 Puang Ramma yang bertepatan dengan Nishfi Sya’ban dijadwalkan pula para jamaah Nahdliyyin dan Khalwatiyah berkumpul di makam Puang Ramma, Tambua Maros, sekitar 12 Kilometer ke arah Utara dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar. (And)
Penulis: Mahmud Suyuti, Katib Awwal Jam’iyah Khalwatiyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here