Epistemologi Pendidikan Islam (Sebuah Pengantar)

0
55

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Pendidikan Islam hingga kini boleh dikatakan masih berada dalam posisi problematik antara “determinasi historis” dan “realisme praktis”. Hal ini menandakan pendidikan Islam di satu sisi, belum bisa keluar dari idealisasi kejayaan pemikiran dan peradaban Islam masa lampau yang hegemoni; sementara di sisi lain, ia juga (pendidikan Islam) “di telanjangi” oleh tuntutan-tuntutan masa kini, khususnya yang datang dari Barat, dengan orientasi sangat praktis.

Dalam tataran historis-empiris, acap kali menimbulkan dualisme (dikotomi) dan penyeragaman sistem pendidikan di tengah masyarakat yang plural, sehingga agenda dekonstruksi-rekonstruksi pendidikan Islam yang dilontarkan, hanya sekedar tataran konsep bukan pada tataran praksis. Sehingga tidak heran dalam dunia Islam kita masih saja mendapati tampilan “sistem pendidikan Islam” yang sangat konservatif karena tetap memakai “baju kotor/lama” (the old fashion), sementara disisi lain kita mendapati “sistem pendidikan Islam” yang bercorak materilsitik-sekularistik.

Melihat sejarah yang ada khususnya pada abad III-V H tradisi (turats) pendidikan Islam mengandung tiga struktur episteme yang saling bersaing yaitu bayani, irfani, dan burhani. Adapun epistem Bayani, secara leksikal-etimologis, menurut al-Jabiri term bayan mengandung beragam arti, yaitu kesinambungan (al-washl), keterpilahan (al-fashl), jelas dan terang (azh-zhuur wa al-wudhuh), dan kemampuan membuat terang dan jelas.

Munculnya bayani, setidaknya ia memiliki akar kesejarahan yang panjang dalam pelataran budaya dan tradisi pemikiran Arab. Sehingga dengan sendirinya memunculkan sebuah genealogi pemikiran yang dikenal dengan ulama bayaniyyun yang mana merekalah mempunyai otoritas dalam ranah keagamaan dan keilmuan, meminjam istilah al-Jabiri, yang secara “kolegial” berperan dalam memapankan ilmu-ilmu Arab-Islam yang bersifat murni (istidlali), yaitu nahwu, Balaghah Fiqh, dan Kalam. Ilmu-ilmu inilah yang kemudian membentuk keilmuan naqliyah-murnih dan kelimuan naqliyah-‘aqliyyah. Imam Syafi’I merupakan salah satu tokoh fundamentalnya yang terformulasikan dalam ar-Risalahnya (ushul fiqh) yang kemudian memunculkan al-Baqillani dan al-Ghazali dan lain sebagainya. Jika dilihat dari tradisi keilmuan bayani, setidaknya dapat dipahami, baik sebagai sebuah proses maupun produk, ia berasal dan bermuara pada dialektika dengan teks (repreduksi teks).

Kedua, epistem ‘Irfani, nalar irfani baru berkembang setelah pengaruh nalar gnostik yang banyak diintrodusir dari tradisi Persia masuk ke dunia Islam dan diapresiasi oleh kaum Syi’ah dan kalangan sufi. Kaum Irfani lebih menekankan pada pemerolehan pengetahuan kashfi yang bisa diperoleh melaului riyadhah dan mujahadah, bukan melalui kapabilitas rasionalnya.

Ketiga, epistem Burhani, sementara berkembangnya kaum Irfani, bersamaan dengan gerakan massif penerjemahan buku-buku warisan pemikiran Yunani (Hellensime), sehingga Epistem Burhani mengalami perkembangan di dunia Islam atas prakarsa para filsuf.

Dari paparan di atas, ternyata hegemoni Epistem Bayani, mempunyai kans terbesar dewasa ini, khusunya pengaruhnya terhadap pendidikan Islam di Indonesia, terutama dalam konteks pendidikan pesantren, yang memang disinyalir mempunyai sanad keilmuan yang kuat dengan budaya dan tradisi pemikiran Islam abad Klasik-Pertengahan. Hal ini dapt dilihat dari wawasan keilmuan yang dikembangkan lebih memprioritaskan ilmu keagamaan, khsusnya fiqh, sufistik, dan ilmu alat, dan dominasi penalaran madzhabi. Terlebih lagi ketika terjadi gerakan “neo-sufisme” berpengaruh nyata atas sejarah umat Islam di tanah air sehingga citra pendidikan pesantren pun lekat dengan “pelembagaan” orientasi fiqh-sufistik.

Atas dasar itu pendidikan Islam Transformatif menawarkan sebuah konstruk ide bahwa epistemolgi pendidikan Islam sebagai matrik konseptual aktivitas cultural-performatif yang berkaitan langsung dengan dinamika praksis sosial budaya perlu secara progresif mempertegas jati diri keberpihakannya pada tindakan penyadaran dan pemberdayaan.

Dengan tawaran ijtihad dan tajdidnya, epistemologi pendidikan Islam perlu memadukan secara sinergis-dialektis antara bayani, irfani dan burhani dalam struktur hierarkis-piramidal yang bermatra ayat kauniyyah dan ayat qawliyyah dalam kerangka humanisasi, liberalisasi, dan transendensi demi terwujudnya pendidikan Islam transformatif. Wallahu wa’lam

Penulis: Andy – Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Ternate

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here