Orang Cerdas dan Orang Bodoh (Seri-22)

0
119

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Setelah pembahasan ilmu, Syeikh Al-Palembani mengurai tentang akal. Atau lebih tepatnya akil (orang cerdas). Lawannya adalah al-hamqu; al-ahmaq (kebodohan).

Perhatian Syeikh Al-Palembani tentang ilmu dan akal sangat besar. Bisa jadi masih terkait dengan konsep tafakkur sebelumnya. Bahwa tafakkur (kontemplasi) adalah obat segala bentuk al-gaflah (kelalaian). Dan hanya orang berilmu dan berakal lah yang mampu mencapai puncak tafakkur; yaitu makrifat.

Namun, Syeikh Al-Palembani tidak ikut meramaikan perdebatan hakekat akal. Apakah akal itu naluri. Cahaya. Akal sepuluh atau daya pikir. Dia lebih tertarik pada keberfungsian akal itu sendiri. Akal bermakna jika difungksikan. Orang itulah yang dia sebut sebagai akil (orang cerdas).

Dalam Alquran, terma akal juga sangat banyak. Sebanyak 49 kali. Menariknya, semua kata akal itu berbentuk kata kerja (aktif). Tidak ditemukan kata akal dalam bentuk isim masdar (pasif). Artinya bahwa pandangan Syeikh Al-Palembani sesuai dengan visi Alquran. Akal itu bermanfaat jika digunakan berfikir dan bertafakkur.

Maka dalam Alquran sejumlah ayat menyerukan menggunakan akal. Baik dengan kata akal itu sendiri maupun yang semakna. Sebagaimana dalam riwayat bahwa Rasulullah menangis ketika QS. Ali Imran: 190-191 turun. Sahabat Bilal bertanya keheranan “Kenapa engkau menangis wahai Rasulullah?”. Rasulullah menjawab: “Malam ini telah turun kepadaku QS. Ali Imran: 190-191. Dan ketahuilah wahai Bilal, betapa celakanya ummatku yang membaca surah tersebut dan tidak bertafakkur. Bertafakkur tentang langit dan bumi akan mengantar pada hikmah dan bukti atas kebesaran Allah dan kasih sayang-Nya”.

Subhanallah. Sungguh nikmat apalagi yang kita dustakan. Pergantian malam dan siang itu penuh nikmat. Di malam hari kita istirahat. Di siang hari kita mencari nafkah (QS. An-Naba: 10-11). Aneka ragam makanan yang kita komsumi. Buah berbagai rasa dan warna (QS.Abasa: 24-31). Langit berdiri tanpa tiang. Gunung yang menjulang tinggi sebagai pasok bumi. Hamparan bumi yang ditempati berdiam dengan tenang (QS. Al-Gasyiah: 17-20). Dan sejarah umat terdahulu untuk kita renungi sebagai pelajaran (QS. Muhammad: 10; Ar-Rum: 9).

Semuanya menunjukkan betapa kuasa dan kasih sayangnya Allah kepada manusia. Namun, sayang fenomena itu hanyalah bermakna bagi orang yang berakal dan bertafakkur. Yaitu mereka yang memandang dengan mata hati. Bukan dengan iri hati. Mendengar dengan keterbukaan pikiran, bukan keegoisan. Berjalan dengan ketawaduan bukan keangkuhan.

Hanya merekalah yang mampu melihat yang tidak terlihat. Meresakan kehadiran Allah dalam di alam semesta. Sebagaimana Imam Al-Ghazali berkata: “Orang cerdas (akil) adalah orang yang mampu melihat ruh dan esensi dari segala sesuatu, tidak terjebak pada aspek luar dan formalistik saja”.

Maka cukuplah mutiara hikmah Syeikh Al-Palembani kita renungi: “Orang cerdas adalah orang yang tidak mencari di dunia selain Allah. Tidak melihat selain Allah di dunia. Kepemilikannya adalah kefaqiran. Kesibukannya adalah zikir dan salat. Perkataanya penuh bukti (argumentasi). Kemulian (dari manusia) adalah kehinaan. Kesenangan (dunia) adalah kesedihan. Kelezatannya adalah ingat Allah”.
Wallahu A’lam bishsawab!

Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here