Nikmat Membawa Sengsara (Seri-35)

0
120

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Syekh Al-Palembani kembali hadir. Petuah kali ini tentang dunia. Tepatnya, kekayaan. Tidak sedikit orang kaya yang selamat. Juga tak terbilang orang kaya yang terlaknat. Syeikh Al-Palembani pun sangat mewanti-wanti orang kaya agar selalu bersyukur. Karena jika tidak, kekayaan itu akan mendatangkan enam petaka. Tiga di dunia. Tiga di akhirat.

Di dunia banyak orang yang tersiksa karena angan-angan tak bertepi. Hanya berfikir tentang rezki. Lupa beiribadah dan berzikir. Hidupnya hanya larut dalam kemaksiatan. Mereka inilah yang di akhirat akan mendapatkan hisab yang panjang. Siksaan yang pedih, dan derajat yang sangat rendah. Demikian peringatan Syeikh Al-Palembani dengan sangat tegas.

Jika syeikh Abu Hasan Asy-Syadzili dan Abudllah bin Mubarak mulia melalui kekayaan, maka Tsa’labah bin Hatib Al-Anshari justru sebaliknya. Ia inkar dan terlaknat karena hartanya.

Awalnya, Tsa’labah adalah seorang sahabat. Ahli ibadah. Salat jamaah jarang alpa. Namun, ia miskin. Hidupnya tidak semujur dengan sahabat yang lain. Ia pun tak hentinya berangan-angan menjadi kaya. Agar bisa menderma. Demikian harapannya.
“Ya Rasulullah! Doakan, agar Allah memberikan kakayaan kepadaku.” Pintanya kepada Rasul.

Rasulullah tidak mengubrisnya. Malah memberinya petunjuk untuk mengikuti jejak para nabi. Tidak tergiur dengan kekayaan. Karena tidak semua kekayaan itu adalah nikmat. Hanya yang mengantar pada ketaatan. Sementara yang melalaikan itu adalah laknat. Nikmat sedikit yang disyukuri jauh lebih baik daripada nikmat berlimpah, namun inkar. Demikian Rasululllah menasehatinya.

“Demi Zat yang telah mengutusmu. Jika engkau memohon kepada Allah, lalu Dia memberiku harta kekayaan, niscaya aku akan memberikan hak kepada setiap orang yang berhak menerimanya,”ujarnya merayu.

Tsa’labah akhirnya bersumpah demi meyakinkan Rasulullah. Ia akan menjadi orang hartawan yang dermawan. Tidak akan lalai seperti Qarun. Sombong dan angkuh (QS Al Qashash [28]: 78).

Rasulullah pun mendoakan. Tsa’labah perlahan menjadi kaya. Unta dan dombanya berkembang pesat. Beranak pinang dan semakin banyak. Kota Madinah terasa sempit karena hewan ternaknya. Ia pun akhirnya memilih minggat dari keramaian. Hidup di sudut kota Madinah dengan ternaknya.

Tsa’labah berubah drastis. Menjadi kaya raya. Ia sangat sibuk dengan kekayaannya. Zakat ia abaikan. Shalat jamaah ia tinggalkan. Sampai ia benar-benar lupa dan inkar. Terpedaya. Menjadi kufur nikmat.

Kisah itu direkam oleh Ibnu Katsir. Sejumlah mufassir, seperti Ibnu Abbas, Hasan Al-Basri, menyatakan bahwa turunnya QS. At-Taubah; 75-77 terkait dengan Tsa’labah. Sekalipun juga, ada ulama yang mendaifkan (melemahkan) riwayat itu.

Terlepas perbedaan itu, konteks ayat QS. At-taubah di atas, sangat jelas mengecam karakter dan sifat Tsa’labah. Tsa’labah akan hadir di tiap zaman. Mereka yang terpedaya oleh kekayaan. Sangat dekat dengan Allah kalah ia sakit. Kalah ia miskin. Tapi, lupa dan inkar ketika ia sehat dan kaya. Itulah sifat orang munafik.

Tsa’labah di akhir hidupnya, datang memohon maaf kepada Rasul. Menyerahkan semua zakat dan sedekahnya. Namun, terlambat. Allah terlanjur murka kepadanya. Rasulullah menolaknya. Sahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman pun enggan menerimanya. Akhirnya, meninggal tak jelas nasibnya.

Agaknya, itulah yang dimaksud oleh Syeikh Al-Palembani bahwa:

“Dunia adalah rumahnya syaitan. Siapa yang tinggal di dalamnya akan binasa. Dunia adalah khamar syaitan, siapa yang mabuk karenanya, tidak adan sadar selamanya”.

Wallahu A’lam bissawab

Penulis: Darlis Dawing – Dosen IAIN Palu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here