Opini: Lupa karena Rezeki

0
475

HARIANSULSEL.COM, Makassar – Seorang mandor bangunan yang tengah berada di lantai 5 sedang ingin memanggil pekerjanya. “Oe, Ooee, Oooeee” beberapa kali sang mandor memanggil pekerjanya ini, namun si pekerja tidak dapat mendengar suara dari mandornya karna bisingnya alat-alat yang berada disekitar bangunan.

Sang mandor tidak menyerah begitu saja, maka ia pun melempari pekerjanya ini dengan uang 1000 rupiah yang jatuh tepat disampingnya, berharap ia menolehkan pandangannya keatas. Namun, yang terjadi si pekerja hanya memungut uang dan kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.

Akhirnya sang mandor melempari pekerjanya dengan uang 100.000 rupiah, berharap kembali semoga kali ini sang pekerja akan menolehkan pandangannya keatas. Namun tidak, kembali ia gagal, karena sang pekerja hanya memungut uang tersebut dengan wajah senyum kegirangan dan kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.

Akhirnya sang mandor mengambil batu kecil dan melemparkan batu kecil itu tepat mengenai kepala si pekerja. Karena kesakitan si pekerjapun menolehkan pandangannya keatas dan kemudian barulah ia bisa berkomunikasi dengan sang mandor.

Cerita diatas adalah gambaran komunikasi antara makhluk dan sang khalik, sang pemberi nikmat dan yang diberi nikmat, antara sang pemberi rejeki dan yang diberi rejeki. Terkadang agar kita bisa kembali kejalan yang lurus Allah memberikan ujian sekeras batu, seperti yang masih hangat terjadi wabah corona, banjir yang melanda diberbagai wilayah ataupun contoh lainnya. Tiada lain maksud Allah adalah agar kita bisa merenung, berfikir akan kuasa Allah dan kembali kejalan-Nya, karena seringkali ujian yang Allah berikan kenikmatan yaitu berupa materi, jabatan, tahta, kekayaaan malah membuat manusia menjadi sombong, kikir dan tidak berfikir untuk beribadah kepada-Nya.

Jalaluddin Rumi dalam kitabnya Fihi Ma Fihi memaparkan bahwa raja Firaun di beri anugrah oleh Allah berupa usianya hingga 400 tahun, selain itu kerajaan, kekuasaan dan kebahagiaan. Allah tidak memberinya kesengsaraan dan kesempatan untuk sakit. Namun itu yang membuatnya semakin menjadi-jadi dan lupa akan posisi dirinya hanya sebagai makhluk.

Ibn Athaillah as-Sakandaria dalam kitab al-Hikam mengingatkan: “kesungguhanmu mengejar apa yang sudah dijamin untukmu oleh Allah, dan kelalaianmu melaksanakan apa yang dibebankan kepadamu, itu merupakan tanda butanya basyirah (mata batin).”
Allah mengingatkan dalam al_Quran:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya. (QS. al-Baqarah; 2/156).

Tiada tempat kembali seorang mukmin selain kepada Allah dan tiada tempat mengadu seorang mukmin selain kepada Allah. Doa Nabi tatkala kita menghadapi musibah ucapkanlah :

اللهُمَّ أَجِرْنِي فِي مُصِيْبَتِي وَاخْلُفْ لِيْ خَيْرًا مِنْهُ

“Wahai Tuhanku, berilah pahala dalam musibahku dan gantilah dengan kebaikan” (HR. Muslim)

Ingat! Tuhan selalu ingin menyapa kita maka jangan lupa untuk menengadahkan tangan kita untuk selalu bersyukur pada-Nya.

Penulis: Salehuddin Mattawang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here